Desaku.. Katanya Kampungan
Kisah tentang desa di sebuah Kabupaten Aceh Timur,,...
Pagi ini aku
sangat merindukan atmosfir pagi di desa kecil ku. Kicau burung yang menyebarkan
semangat pagi. Embun di atas nyiur hijau daun padi muda. Sinar matahari yang
baru terbit seolah-olah mengintip di bawah kaki bukit. Aceh ku. Meski jauh tapi selalu memikat hati.
Aku jadi
teringat sebuah kisah hidupku dan teman teman sekampung ku ketika kami masih
kecil dahulu di sebuah pagi di tengah musim paceklik / kemarau. Memori indah
masa kecil memang takkan pernah terlupakan. Tapi sebelumnya aku ingin
mengenalkan terlebih dahulu gambaran tentang desaku dan masyarakatnya.
Masyarakat
di desa kami termasuk masyarakat yang berada di bawah garis level ekonomi
standard. Rata rata rumah di desa ku ini tidak memiliki sebuah kamar mandi
layaknya rumah rumah perkotaan sekarang ini. Rumah di desaku hanya memiliki
sumur yang airnya di gunakan untuk keperluan rumah tangga sehari-hari nya. Tapi
sumber air dari sumur-sumur tersebut
merupakan hasil dari tampungan ketika hujan turun, bukan berasal dari cincin
mata air yang sengaja di pasang di sumur. Namun tidak di ingkari bahwa ada
beberapa keluarga di desaku yang memiliki sumur cincin. Mereka keluarga yang
memiliki sumur cincin di rumahnya selalu jadi penyelamat bagi kami yang hanya
memiliki sumur biasa di rumah ketika musim kemarau tiba melanda desa kami. Ya..
kami jadi ada tempat menumpang
mandi, tempat meminta air untuk memasak
dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya.
Kadang
kadang Itulah hal yang selalu membuat aku kagum sekaligus bangga pernah lahir
dan besar di desa ku itu. Meski berbeda keluarga namun masyarakat di desa ku
tidak pernah sungkan untuk berbagi. Baik dari hal kecil seperti makanan, air
sumur, dan pertolongan lainnya. Sangat susah di temukan di masyarakat perkotaan
seperti di lingkungan ku sekarang. Yang memiliki prinsip individualisme yang
tinggi terhaddap seluruh aspek kehidupannya. Tidak jarang antar tetangga yang
hanya di batasi tembok rumah saja tidak saling mengenal nama. Bahkan mungkin
tidak pernah berkomunikasi satu sama lainnya.
Punti payong
desa ku aku sangat merindukanmu. Ya Punti Payong adalah nama desa ku itu. Yang
sejarahnya dulu kata ayahku merupakan sebuah nama yang di ambil dari sebuah
bukit yang letaknya berada di tengah hutan perbatasan desa kami. Kenapa di katakan
bukit payong Karena katanya di atas bukit itu ada banyak di tumbuhi pohon pohon
yang rantingnya tumbuh menyerupai bentuk ;payung. Tapi ada juga beberapa
kalangan yang tidak berpendapat sama seperti itu. Ada yang bilang itu merupakan
istilah bahasa aceh yang sebenarnya aku pun tak mengerti apalah arti yang
sebenarnya.
Ada sebuah
kisah manis sekaligus menggambarkan semangat perjuangan yang tinggi di desaku.
Pagi itu takkan pernah ku lupakan seumur hidup, kadang –kadang aku suka
menjadikannya cambuk penyemangat ketika sedang down dan menyerah dalam urusan
sekolah.
Pada pagi
itu tibalah musim kemarau di desaku, dimana curah hujan jarang sekali turun di
permukaan tanah desa kami. Saat itu merupakan musim kemarau yang lumayan
panjang. Sehingga rumah rumah masyarakat yang menggunakan sumur cincin pun
mengalami kekeringan. kami kerepotan saat itu. Kesulitannya sangat di rasakan ketika pagi hari. Dimana
kami harus mandi dan mempersiapkan diri ke sekolah, dimana ibu harus menyiapkan
makanan untuk bekal kami dan ayah di sawah.
Dalam kondisi seperti ini. Kebiasaan yang di lakukan masyarakan desaku
adalah mencari sumber air terdekat yang tidak akan mengalami kekeringan. apa
lagi kalu bukan sungai. Ya …. Sungai tidak pernah surut, tapi sunngai di daerah
desa ku ini bukanlah sungai sungai yang alirannya langsung tembus ke lautan. Di
desaku ada sebuah anak sungai yang tidak luas (sempit) yang letaknya di ujung
persawahan dan melewati ladang ladang sayuran warga. Jika di Tanya jauh. Jujur
jika sekarang aku harus menjawab jarak itu sangat lah jauh untuk bisa mandi
pergi sekolah. Tapi jujur aku sangat merindukan saat saat seperti itu lagi
sekarang. Aku dan tetangga dekat rumahku bergerombolan membawa handuk dan
perlengkapan mandi kami di saat masih gelap. Tepatnya setelah kami menyelesaikan
shalat shubuh. Satu persatu kami saling memanggil sebelum pergi ke sungai. Kami
menyengaja pergi gelap-gelap agar tidak terlambat sampai di sekolah. Iya.. it’s
perjuangan . kami semua berjalan bergerombol melewati persawahan dan ladang
sayur warga di barengi gelagak tawa, beberapa teman ku berjalan dengan mata
yang masih terpejam. Karena masih mengantuk. Tapi sedikit pun tak pernah
terbesit kegelisahan dan rasa mengeluh dengan semua itu. Kami senang
melakukannya.
Kemudian
kami pergi bergerombolan pergi ke sekolah yang letaknya sangat jauh dari desa
kami. Harus melewati du bukit yang lumayan tinggi. Saat itu dan sampai sekarang
juga belum ada aspal sedikitpun di daerah kami. Kami melewati jalan bebatuan
yang kadag-kadang ketika hujan turun deras jalan jalan itu sangatlah lembek dan
becek. Tidak jarang kami memakai sepatu sekolah ketika sampai di sekolah. Di
jalan kami hanya mengenakan sandal jepit saja. Ketika masih SD dan SMP, kami pergi sekolah hanya
dengan jalan kaki. Tapi beranjak SMP kelas 3 aku dan temanku di belikan sepeda
sama orang tua kami. Eits… jangan salah yang ini namanya sepeda angin bukan
sepeda motor. Kai terus menggunakannya sampai kami selesai meluluskan
pendidikan. Tapi sangat aku sayangkan banyak di antara teman SMP ku yang tidak
melanjutkan sekolah sampai ke tingkat atas. Mereka berhenti sampai di bangku
SMP saja. Itu semua bukan karena keinginan mereka pastinya. Banyak hal yang
menjadi faktornya. Ekonomi pastinya.
Saat ini
jika melihat dan mengingat semua itu aku hnaya bisa banyak-banyak bersyukur dengan keadaan ku yang sekarang.
Jika di katakana sempurna bukan berarti hidup ku sekarang sempurna. Kata
sempurna itu mmenurutku sifatnya relative. Tergantung siapa dan bagaimana
mereka memandang dan mendefinisikan kesempurnaan itu sendiri. Yang terpenting
bagiku. Hidup itu untuk di nikamati keindahannya. Bukan berarti bebas dan
keluar dari norma. Tetap semua akan indah jika berada pada jalan dan porsi yang
tepat. Tidak ada manusia yang tidak pernah bersalah sekalipun dia seorang ahli
ibadah. Yang terpenting bukanlah apa masalalunya, tapi bagaimana ia mengubah
masalalunya menjadi masa depan yang cemerlang.
Semangat
harus timbul dari dalam diri sendiri. Supaya awet usianya. Pendidikan itu bukan
hanya untuk memperkaya materi. Pendidikan itu hakikatnya mengubah manusia dari
semua hal yang belum di ketahuinya dan membuat mereka menjadi tahu yang semua
pengetahuannya itu dapat di aplikasikannya dan berguna bagi diri dan
lingkungannya. Bukan untuk menjudge dan merendahkan orang. Bukan sebagai ajang
untuk pamer gelar. Yang terpenting adalah isi bukan kasingnya. Kalau kata teman
dekat saya. J J
Komentar
Posting Komentar