Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Akhirnya ......

Allah berkata lain tentang takdir hidupku. Tidak di sangka dan tak pernah diduga seorang karyawan bertubuh kecil ini tidak di izinkan resain oleh atasanku itu. Ia memberikan izin untukku agar bisa kerja sambil kuliah. Dengan syarat harus seimbang dan tidak mengesampingkan tugas-tugas kerja.
Bulan Juni itu menjadi bulan yang bersejarah dalam hidupku, rencanaku yang sudah ku rangcang matang-matang yaitu ingin resain dari pekerjaan lamaku tidak terlaksana. Atasanku tak mengizinkan aku untuk resain dari pekerjaanku. Bahkan dia memberikan alternatif tugas pekerjaan untukku yang juga punya mimpi ingin menjadi seorang mahasiswi.

Saat itu atasanku mempromosikan jabatan baru untukku sebagai seorang penanggung jawab stok dengan asumsi jam kerja setiap harinya hanya sampai jam 16.00 wib sore dan malamnya aku tetap masih bisa kuliah meski harus mengambil kelas karyawan. Betapa bahagianya diri ini, bisa tetap cari uang di pekerjaan yang aku cintai namun tetap juga bisa melanjutkan cita-cita.

Saat itu dengan segala keterbatasanku, aku terus berusaha melakukan yang terbaik dan tak ingin mengecewakan mereka yang selalu mendoakan dan menyayangiku. Aku berusaha mewujudkan cita-citaku dan ingin sekali membanggakan mereka yang membantuku dalam banyak hal.

Beberapa bulan kemudian aku mulai menjalani aktifitas kuliah ku di sebuah kampus swasta dengan mengambil jurusan pendidikan Matematika. ya, aku berharap kelak aku bisa menjadi seorang guru hebat seperti guru-guruku di masa SMA ku dulu. Tapi jujur saja matematika bukanlah pilihan kesukaanku. aku mengambil jurusan matematika karena sudah tidak ada pilihan lainnya. Saat itu kelas karyawan khusus pendidikan guru yang di sediakan kampusku hanya ada tiga jurusan utama, yaitu matematika, bahasa indonesia, dan bahasa inggris. Sungguh butuh waktu seminggu bagiku untuk bisa menetapkan hatiku pada satu pilihan diantara ketiganya. Awalnya aku berniat sekali ntuk mengambil jurusan pendidikan Biologi. Sebuah pelajaran yang memang sangat aku sukai sedari SMA. Tapi karena di kampusku tak ada kelas karyawan untuk jurusan Biologi aku terpaksa memilih jurusan Matematika. Karena untuk pelajaran bahasa inggris dan bahasa indonesia aku sama sekali tidak memiliki bakat dan kecenderungan. Selain itu, aku terinspirasi sekali dengan seorang guru SMA ku dulu yang kemampuan Matematikanya keren banget. ya secara tidak langsung pengen bisa jadi seperti dia gitu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan ku lalui dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Masa awal perkuliahan adalah waktu yang paling membahagiakan bagiku. Saat pergi kuliah dan pergi kerja bagaikan pergi jalan-jalan bahagianya. Hari-hariku di mulai dengan seragam ping ungu yang ku pakai untuk bekerja sebagai staf gudang, hingga sore hari seragam itu aku tanggalkan dan diganti dengan setelan kemeja dan rok sebagai seragam untuk berangkat kuliah. Setiap harinya, diri ini baru akan tiba di rumah tepat pukul 22.00 wib malam. dan di lanjutkan dengan belajar mandiri yang biasanya diisi dengan membuat tugas dari kampus yang setiap harinya selalu bertambah dan bertambah. 

Masyaallah saat itu Allah karuniakan kesehatan dan semangat yang tak ternilai harganya bagi diri ini. Jika penat dan mulai banyak masalah di kerjaan. Maka ketika kembali di kampus menjadi refresh kembali karena bertemu dengan kawan-kawan kampus. Begitu juga sebaliknya saat penat dan suntuk karena tugas maka ketika kembali ke lingkungan pekerjaan fikiran menjadi fesh kembali. Alhamdulillah..

Singkat cerita Allah karuniakan kemudahan bagiku sehingga dapat menyelesaikan kuliah dalam waktu empat tahun pas. Kisah ini akan dilanjutkan kembali pada topik judul lainnya.

Kembali ketopik utama yaitu profesi sebagai guru. 
Seperti yang di ceritakan diawal menjadi guru matematika merupakan pilihan yang bisa dikatakan terpaksa dalam hidupku. Ketika dikampus, aku banyak sekali tertinggal pelajaran karena pemahaman dasarku tentang matematika kurang sempurna. Alhamdulillah Allah hadirkan banyak teman ahli yang selalu setia mengajari setiap pelajaran yang tak dipahami. Pelan-pelan aku mulai mengikuti irama pendidikan di kampus. belajar menjiwai jurusan yang sudah kupilih dan yang paling penting memahami tugas seorang guru yang paling mulia. Tapi ketahuilah bahwa sampai pada semester akhirpun aku belum bisa menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna meski telah berusaha keras dan sungguh-sungguh.

Bagaimana tidak malam belajar tentang konsep mendidik dan matematika. Setelah itu besoknya kerja angkat mengangkat barang digudang, terus bertemu dengan konsumen menjadi penjual jilbab, dan dilanjutkan dengan tugas sebagai admin membuat laporan persediaan. Sungguh konsep ilmu mendidiknya tidak bisa dipraktekan di pekerjaan dan bahkan sering terabaikan karena tidak teraplikasikan.

Penasaran dengan kelanjutan kisah perjalananku menjadi guru..
nantikan postingan selajutnya ya....



Langsa, 30 November 2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Inilah Expressi Cintaku,,,