Cinta Sebaiknya Bukan Dia


Cinta Sebaiknya Bukan Dia
Oleh : Nurul Fajriah Nasution, S.Pd


Desir angin malam menghembus dedaunan kering. Tertiup, terbang dan berpindah. Apalah daya sang daun kering hanya pasrah mengikuti inginnya angin membawa dirinya pergi jauh dari tempat asalnya. Daun kering yang malang tak berdaya. Malam semakin pekatlah sudah. Sesekali terdengar suara jangkrik malu-malu bersembunyi di balik dinding. Wahai malam selalu menyimpan banyak kenangan. Malam seolah hadir mengundang memori-memori masa lalu.  Masa dimana hanya ada kebahagiaan yang mengisi hari-hari. Masa dimana engkau dan aku begitu dekat, seolah tidak ada yang dapat memisahkan. Hingga pada suatu kisah yang takkan terlupakan dalam hidupku.
“Assalamu’alaikum” sapanya dari telepon.
“Wa’alaikumsalam. Sudah pulang kerja ya?” jawab ku.
Percakapan yang selalu diucapkan hampir setiap malam. Biasanya kami sering bersapa ringan dan bercerita tentang kegiatan yang sudah di lakukan selama satu hari. Selain itu ia selalu saja bertanya tentang ibadahku. Dia, Lelaki yang sudah ku kenal lebih dari lima tahun yang lalu. Ia memang selalu memiliki tempat yang berbeda di hatiku. Kehadirannya banyak memberikan perubahan dalam hidupku.  Dia mengantarkanku pada dunia baru yang jauh  dari kesia-siaan. Dia menjadikan aku muslimah yang mencintai Sang Khalik dan Rasulnya. Dia membuatku mencintai Al-Qur’an dan ingin sekali dapat menyimpannya di memoriku.  Wahai engkau, tahukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu karena indahnya iman dah akhlakmu. Meski kini engkau berada di seberang pulau dan jauh dari pandangan mataku. Aku merasa kau selalu dekat dan saat aku merindukanmu. Dengan mudah aku dapat mendengarkan suaramu.
Malam itu, tiba-tiba saja kau membicarakan hal yang tak biasanya kepadaku. Kau terlihat gugup dan malu. Aku  dari seberang pulau dapat menangkap ekspresimu. Suaramu terasa bergetar dan berat. Aku gelisah dan tak sabar ingin mendengarkan apa yang ingin kau bicarakan.
“Nad, Aku ingin melamarmu menjadi istriku. Apa kau bersedia?” tanyamu dengan suara bergetar dan terbata-bata
Sejenak aku hanya terdiam mendengar pertanyaanmu. Aku seperti merasakan tiupan angin topan yang kencang. Dalam hati bertanya-tanya ini mimpi atau kenyataan. Ada laki-laki yang ingin melamarku. Dan dia adalah Dimas. Sosok laki-laki yang sangat ku cintai.
“Nad..Nadia? Apa kau mendengar suaraku?”tanya Dimas kedua kalinya
Aku terkejut dan terbangun dari khayalanku. Aku tidak menyadari bahwa Dimas menunggu jawabanku. Aku pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sudah lama aku menunggu kata-kata itu keluar dari lisannya.
“Iya….” Kataku sambil malu-malu
Terdengar ucap syukurmu dari sebrang sana. Aku merasa bahagia dengan niat suci yang kau utarakan malam itu. Dan dimalam itu juga kau katakan padaku bahwa dalam waktu dekat orang tuamu akan segera datang menemui orang tuaku. Kau akan mengambil cuti kerja beberapa hari untuk acara lamaran itu. Bukan kepalang, begitu bahagianya hati ini malam itu. Kau yang ku dambakan. Akan menjadikanku kekasih halalmu.
Seminggupun berlalu. Hari yang dinanti tiba. Kau pun membuktikan perkataanmu. Kau bersama kedua orang tua dan keluargamu datang ke rumahku. Tanpa persiapan yang begitu matang aku dan keluargaku menyambutmu. Hari itu aku kembali melihat sosok wajah yang sudah lama sekali aku rindukan. Matamu, hidungmu, dan bibirmu. Sungguh sudah hampir setahun aku tak melihatmu.. Sekarang kau terlihat semakin gemuk dan  putih. Entah kenapa aku menjadi semakin mencintaimu setelah melihatmu. Kau semakin tampan dimataku. Hari itu tak banyak kata yang keluar dari lisanku. Aku hanya ingin mendengarkan suaramu. Suara yang sudah lama menemaniku melalui jaringan telepon. Kini terdengar di telingaku secara langsung.
“Nadia.. Sekarang kau semakin sholihah dimataku” katamu memujiku.
Aku hanya tersipu malu mendengar pujianmu dan memintamu untuk mendoakan agar aku bisa istiqamah dalam hijrahku.
Setelah pertemuan antara kedua keluarga itu. Banyak keputusan yang disepakati. Salah satunya adalah menetapkan hari pernikahan. Dari pihak keluargamu dan keluargaku menyepakati bahwa waktu pernikahan hanya berselang tiga bulan dari hari lamaran itu. Terlihat sekali semburat rona kebahagiaan dari wajahku dan wajahmu. Akhirnya yang di cita-citakan terwujud hampir sempurna.
Siang itu adalah dua minggu tepat setelah hari lamaran berlangsung. Aku dan ibu sudah mulai menyiapkan segala keperluan untuk acara. Seperti biasa aku sering berbagi cerita kegiatanku padamu melalui pesan singkat. Kau juga bercerita bahwa secepatnya kau akan mengajukan cuti menikah kepada atasanmu sebulan sebelum acara berlangsung. Kau terlihat tidak sabar menunggu hari bahagia itu. Sama halnya denganku. Rasanya ingin sekali menepis jarak dan waktu agar segera bersama denganmu. Tiba di sela-sela kesibukanmu kau menelponku dan mengatakan hal yang membuatku terharu
“Kring….kring…” suara dering ponsel
Aku berlari menghampiri ponsel ku yang tersimpan di dalam saku tas sandangku.
“Assalamu’alaikum” sapaku
“Wa’alaikumsalam. Nad Aku mencintaimu” jawabmu dari kejauhan
“Udah ya Nad aku Cuma mau bilang itu aja. Ini sedang banyak kerjaan. Aku balik kerja lagi ya.  Assalamu’alaikum” salammu sambil menutup telponnya
“Wa’alaikumsalam” jawabku pelan
Rasanya aku bagaikan gunung salju di kutub selatan yang meleleh mendengar ucapanmu. Kau menyempatkan waktu sibukmu untuk menelponku dan  hanya untuk mengatakan hal itu. Ternyata kau begitu Romantis. Bahagia tak terkira aku mendengarnya. Hari demi hari kami lancar berkomunikasi meski hanya melalui perantara ponsel. Aku terus belajar memasak makanan kesukaanmu. Belajar menjadi istri yang baik untukmu dan anak-anak kita nantinya.
Sore itu adalah hari yang kunanti. Tepatnya kurang dua hari sebelum hari kau dan aku menjadi sepasang kekasih halal. Bahagia rasanya menunggu kehadiranmu. Sehari sebelumnya kau mengabarkanku akan pulang sore itu dan istirahat di rumah sebelum hari spesial tiba.
“Jemput aku di bandara ya calon istriku tersayang” katamu sambil merayuku
Kau memintaku untuk menjemputmu bersama dengan kedua orang tuamu. Tahukah kau tanpa kau minta akupun pasti akan menjemputmu. Aku tak sabar melihat wajah laki-lakii yang tak lama lagi akan menjadi suamiku.
                Aku dan kedua orang tuamu sudah duduk menunggumu di bandara. Sedetik demi sedetik mataku tak lepas dari gerbang kedatangan. Aku sangat merindukanmu calon imamku. Rasanya ingin sekali berjumpa. Aku memulai membuka ponselku barang kali ada pesan terakhir darimu. Oh ternyata tidak. Di ponselku terlihat pesan terakhirmu terkirim tepat sehari sebelumnya. Sebuah pesan yang membuatku bahagia bahwa kau mengatakan akan segera pulang dua hari sebelum hari pernikahan kita.
Semenit demi semenit pun berlalu. Wajah aku dan kedua orang tuamu pun berganti menjadi kecemasan yang tak terhingga. Sudah hampir tiga jam kami menunggumu di bandara ini. Tapi tidak terlihat tanda-tanda wajahmu hadir di sini. Seharusnya kau sudah tiba satu jam sebelumnya.  Aku mencoba menelpon dan mengirim pesan singkat ke ponselmu. Tapi yang terdengar hanyalah suara operator yang mengatakan bahwa ponselmu tidak aktif. Wahai calon imamku kemana kau?. Hatiku mulai resah, tak terasa air matapun membasahi pipiku.
Awan mendung menyelimuti hatiku mendengar kabar itu. Kau, Dimas Prayoga. Seorang lelaki yang ku anggap malaikat. Tega melakukan perbuatan sekeji itu. Kau rusak kepercayaan dan komitmen yang sudah kita buat bersama. Mengapa harus dia. Wanita itu kakak sepupuku, Zahrana. Dia anak dari abang kandung ayahku. Zahrana kuliah di ibukota dan akan pulang kampung untuk menghadiri resepsi pernikahanku. Tapi kenyataan berkata lain.
Aku tak menyangka hari itu menjadi hari terburuk dalam hidupku. Dua hari tepat sebelum rencana hari pernikahanku tiba. Kau menghilangkan kepercayaanku. Hampir tak percaya mendengar kabar itu. Kabar yang mengatakan bahwa kau telah melakukan hubungan suami istri di pesawat dengan seorang wanita yang dia juga adalah kakak sepupuku. Kabar itu langsung ku dengar dari petugas pelayanan di pesawat. Mengapa harus terjadi di hari itu.  Apa yang ada di fikiranmu saat itu?. Padahal kita dua hari lagi akan menikah. Kau yang dulu ku anggap sebagai malaikatku. Calon imamku mengapa kau melakukan semua ini. Aku tidak akan bisa menikah apalagi hidup bersama dengan orang yang telah meniduri kakak ku. Aku tidak bisa memaafkanmu atas kejadian itu.Hati ini pun terasa perih mengingat nasib rencana pernikahan yang akan di batalkan.
Sepanjang malam  aku hanya bisa menangis dan bermunajat kepada Allah agar di berikan petunjuk   dalam masalah sepelik ini. Aku tidak mungkin bisa menikah dengan lelaki yang seharusnya menjadi ayah dari anak kakak sepupuku.  Tapi dia adalah calon suamiku. Pergolakan batin yang sangat pelik terjadi di diriku. Aku telah mengenalnya, mencintainya selama lima tahun. Sejak kami sama-sama tamat SMA hingga sekarang dia sudah menjadi kepala bagian di sebuah perusahaan besar. Hatipun semakin sesak ketika mengingat kenangan-kenangan masa lalu dan impian setelah menikah nanti.
Berhari-hari aku memanjatkan doa pada Nya dalam setiap sujudku dan di sepertiga malam tak lupa ku selipkan doa agar di beri jalan keluar atas masalah pelik ini. Orang tuaku berulang kali membujukku untuk mau berjumpa dengan Dimas. Karena ia ingin meminta maaf. Begitu juga dengan orang tuanya. Berulang kali datang dan pulang tanpa bertemu denganku. Ibuku selalu menemaniku pada saat-saat susah ini. Hingga pada akhirnya aku menyerah pada sebuah keputusan yang kuanggap paling tepat yaitu, mengikhlaskan Dimas dan Zahrana menikah. Dan melupakan  tentang hari pernikahanku. Kurasa itu adalah keputusan yang paling tepat karena kelak memang hanya Dimas yang harus bertanggung jawab kepada calon bayi pada janin Zahrana.
Aku meminta kepada ayah dan ibuku untuk menikahkan mereka setelah aku pergi meninggalkan kampung ini. Raga ini tak kuat jika harus bertemu dan menyaksikan mereka menikah. Aku memutuskan pindah dan tinggal di kota bersama nenek. Aku mengikhlaskan malaikatku demi kakak sepupuku.
Siang itu adalah hari terakhir menjelang kepergianku dari kampung. Aku melihat Dimas dan Zahrana datang menghampiriku. Aku ingin lari tapi tidak bisa karena mereka sudah terlebih dahulu berada di hadapanku. Kulihat wajah Dimas yang masih menyimpan seribu penyesalan dan mungkin cinta untukku. Dan wajah Zahrana yang diliputi kesedihan dan penyesalan. Mereka meminta maaf padaku. Aku pun segera mengatakan maaf dan langsung bergegas pergi dari  hadapan mereka. Aku tak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi. Sungguh tak kuat rasanya melihat dia yang kucintai akan menikah dengan orang lain. Siang itu juga aku bergegas meninggalkan kampung menuju rumah nenek di kota. Biarkanlah sakit ini tertinggal di kampung ini. Aku tidak ingin membawanya sampai ke kota.
………………….

“Ummi…”suara dari ruang tamu membuyarkan pikiranku.
“Iya Bi.. sebentar umi kesana” jawabku sambil bergegas keluar dari pintu kamar. Segera aku melupakan masa lalu yang pahit itu. Dan berjalan menuju orang yang memanggilku sedari tadi.
“Ummi coba simakkan hafalan abi. Surat Ar-Rahman ya mi.” pinta lelaki muda berkulit putih yang sedari tadi memanggilku.
Dan akupun mulai menyimak lantunan ayat suci Ar-Rahman dari bibir lelaki itu. Dia adalah lelaki yang menikahiku dua tahun yang lalu. Seorang ustad muda yang bersahaja. Zidan Ahmad Izul Haq adalah namanya. Dia datang saat aku hampir kehilangan kepercayaan tentang cinta dan laki-laki. Saat seseorang yang kuanggap akan menjadi malaikatku menikah dengan orang lain. Allah mengirimkan malaikat lain yang lebih baik. Dia membuatku semakin yakin bahwa Allah akan menjodohkan manusia sesuai dengan karakternya masing-masing. Dan aku bahagia memilikinya. Suami sekaligus imam yang senantiasa mengajariku dan menuntunku ke SyurgaNya.


                                                                                                                Langsa, 5 Oktober 2018















 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,