SANG PENGUKIR ILMU


Didalam dunia pendidikan kegiatan belajar mengajar menjadi suatu kegiatan pokok yang menjadi tolak ukur keberhasilan. Banyak seklai hal yang mendukung terlaksananya kegiatan belajar mengajar. Mulai dari siswa sebagai objek pembelajaran, ruang kelas sebagai sarananya dan media pembelajaran sebagai pelengkap sempurnanya suatu kegiatan pembelajaran. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas filosofi sebuah media atau dapat dikatakan alat tulis pembelajaran berupa spidol.
Spidol pertama kali ditemukan oleh seorang laki-laki bernama Lee Newman pada tahun 1910 dan di populerkan oleh Sidney Rosenthal's pada tahun 1953. Saat itu spidol di kenal dengan istilah "magic color" yang berbentuk tabung kaca berisi tinta cair berwarna dan dilengkapi dengan serat kain. Seiring berjalannya waktu banyak penemuan-penemuan lainnya yang menyempurnakan bentuk spidol menjadi lebih praktis dan mudah digunakan seperti sekarang ini.

Di era 90-an istilah spidol belum terlalu tenar didalam dunia pendidikan khususnya di daerah Aceh. Pada saat itu setiap sekolah hanya menggunakan kapur sebagai alat tulis di papan tulis. Kapur di jadikan alat tulis di depan kelas karena sangat pas di sandingkan dengan papan tulis yang saat itu hanya terbuat dari kayu biasa seperti dinding rumah kayu pada umumnya. Saat itu kedudukan kapur tulis menjadi sangat berharga. Di tambah lagi karena dahulu metode pembelajaran yang digunakan hampir semua guru adalah metode pembelajaran yang konvensional. Dimana pembelajaran hanya berpusat pada guru dan menulis catatan di buku adalah suatu kewajiban setiap siswa. Semua ilmu yang disampaikan guru hanya dapat disimpan oleh siswa melalui catatan yang di tulis guru di papan tulis karena hampir setiap sekolah tidak mempunyai buku paket khusus untuk masing-masing siswa. Sehingga di kalangan siswa sering beredar istilah CBSA. Makna sesuanggunya CBSA yang merupakan kurikulum dengan singkatan Cara Belajar Siswa Aktif sering di ambigukan menjadi catat buku sampai abis.
Berbeda dengan sekarang hampir semua sekolah di Indonesia terutama di Aceh sudah memiliki fasilitas berupa white board. Papan tulis yang sangat cocok di sandingkan dengan alat tulis spidol. Kedudukan kapur tulispun semakin dilupakan. Bahkan tidak jarang orang yang tidak mengenal dengan benda berupa kapur tulis. Bahkan saat ini pun kedudukan spidol hampir tergantikan dengan banyaknya media pembelajaran baru berupa infocus yang lebih memudahkan guru dalam mengajar. Dengan infocus akan sanagt mudah bagi guru untuk menjelaskan materi, memberikan contoh gambar sehingga waktu mengajarpun lebih efektif dan efisien. Tapi berbeda halnya dengan guru matematika seperti saya. Spidol masih tetap menjadi rekan kerja setia saya dalam mengajar. Mengapa tidak?. Saya adalah seorang guru yang gaptek belum terlalu paham tentang aplikasi di infocus yang bisa mencoret-coret tulisan. Selain itu rasanya jika sudah mencoret-coret papan tulis barulah senang rasa hatinya. Menurut saya yang serba kekurangan ini anak-anak akan lebih mengerti jika dijelaskan dengan coretan langsung spidol di papan tulis.
Melihat sebuah benda berupa spidol mengingatkan saya tentang sebuah kejadian yang  mengaharukan yang terjadi sekitar setahun yang lalu. Saat itu tepatnya hari Rabu saya mengajar di kelas XI AK yang sekarang menjadi kelas XII AK. Saat itu saya mendapatkan empat jam pelajaran di kelas tersebut. Saya mengajar seperti biasa menuliskan beberapa soal dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk dapat menyelesaikannya di depan kelas. Ada beberapa siswa aktif dan cerdas yang tidak melewati kesempatan itu. Setelah itu saya memberikan sedikit catatan di papan tulis sebagai materi lanjutan. Di tengah mencatat di papan tulis ternyata dua spidol yang saya milikipun habis tintanya. Dengan tulusnya seorang siswa bernama Fadhlul menawarkan diri untuk mengisi tinta spidolnya. Dia pun keluar kelas dan mulai mengisi tinta di spidolnya. Beberapa menit berlalu saya dan beberpa siswa lainnya menunggu dengan setia di dalam kelas. Tak lama kemudian Fadhlul pun masuk tetapi dengan penampakan yang berbeda dari sebelumnya. Raut wajahnya terlihat sedih dan pucat tidak seperti sebelum dia keluar tadinya. Dia terlihat seperti monster. Saya pun melihat dengan seksama seluruh tubuhnya. Sungguh kasian siswa yang satu ini bisik dalam hati. Karena gurunya dia harus kehilangan baju seragam kejuruannya. Benar saja sebagian besar bagian depan baju dan celananya terkena tumpahan tinta hitam spidol dan wajahnya juga terkena cipratannya. Sungguh dia kembali seperti sosok yang berbeda. Wajahnya di penuhi coretan tinta seperti prajurit yang siap berperang. Pada saya dia meminta diri izin ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun noda tinta spidol di bajunya tidak juga hilang. Sehingga membuat jelek baju seragam kejuruannya. Saya merasa bersalah  dengan peristiwa ini. Namun apa yang bisa saya lakukan hanya bisa mendoakan semoga dia sabar dan ikhlas menerima semua ini.
Begitulah sepotong kata yang dapat saya lukiskan tentang  keberadaan spidol. Bagi saya spidol dapat juga dikatakan sebagai sang pengukir ilmu. Sebab dari ujung tintanya berpuluh-puluh bahkan beribu-ribu ilmu dapat tersampaikan kepada siswa. Dia sebagai pengantar siswa memahami dan memaknai kehidupan. Spidol sebagai media tanpa tanda jasa, selalu mewarnai pemikiran dan pengetahuan manusia tanpa berharap di perlakukan istimewa. Bahkan keberadaannya akan dibuang dan di campakkan jika sudah tidak berfungsi lagi.

 Langsa, 31 Okt 2018
 


        





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,