Bapak Prodi, Sang Maha Guru


Mobil biru dongker itu perlahan bergerak memasuki pelataran parkir kampus yang tak begitu lebar. Di iringi rentak riuh para siswa SMA yang tengah mengikuti pelajaran olah raga. Si mobil terlihat sudah biasa menerima kondisi itu, ia bergerak pelan-pelan berusaha agar tidak menabrak para siswa yang sedang bermain beberapa cabang olah raga di damping oleh guru olah raga yang selalu terlihat bersemangat. Ya seperti halaman parkir sekolah binaan pada umumnya. Karena keterbatasan sarana dan prasarana, halaman parkir selalu menjadi cadangan lapangan olah raga pada saat pelajaran penjas di mulai. Selain itu juga menjadi lapangan upacara bendera pada hari senin. Di tempat ini keberadaaan halaman parkir seperti halnya ruang serbaguna yang bisa multifungsi di berbagai keadaan. Eitss…. Tapi jangan salah fokus ya, tema kita bukan tentang halaman parkir kampus loh ya.. lanjuut..

Tentang ia sang pemilik lobe putih yang menjadi ciri khasnya. Hari itu ku lihat ia memakai seragam batik PNS dan peci baldu berwarna hitam. Hai apakah gerangan hari ini penampilannya berbeda dari hari sebelumnya. Mana lobe putih yang biasa dipakainnya. Dan di kepala ini mulai timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah..apakah..apakah.. tak butuh waktu lama ternyata untuk mengetahui jawabannya. PGRI, ya hari PGRI ternyata hari ini. Mungkin ia baru pulang Upacara Peringatan Hari Guru Indonesia kupikir. Ia tampak berbeda dengan kostum yang dikenakannya hari ini.

Tiba-tiba aku teringat pada pertemuan pertama aku denganya di kelas semester III pada mata kuliah Probabilitas. Sebelumnya aku sudah mendengar dari kakak kelas tentang sosoknya. Batinku berfikir, wah begitu populernya nama dia hingga sering menjadi bahan ceritaan semua mahasiswa di Fakultas ini. Dan akupun semakin penasaran tentang sosoknya saat itu. Tapi malam itu dia masuk ke kelas kami. Meskipun pada awalnya aku tidak mengenalnya sebagai sosok yang ku cari tau. Ia masuk ke kelas kami tanpa memperkenalkan diri. Saat itu hanya aku sendiri saja yang baru hadir di kelas. Dan dia pun langsung membuka pelajaran tanpa menghiraukan komposisi mahasiswa yang hanya aku sendiri di kelas itu. Aku merasa canggung dan kurang nyaman. Tapi mau bagaimana lagi. Aku seperti seorang murid yang sedang privat pribadi dengan guru les kuJ. Hampir dua puluh menit kemudian teman-temanku satu persatu sudah mulai berdatangan. Namun sekali lagi dia tidak pernah menghiraukan kedatangan mereka. Dia tetap terus melanjutkan penjelasannya. Setelah setengan jam berjalan, setelah melihat karakteristik cara mengajarnya, barulah kusadari dialah sang bapak yang sosoknya sering dibicarakan kakak kelasku. Ia dialah Bapak Prodi itu. Yang tak pernah membawa buku pegangan apapun pada saat masuk kelas. Hanya badannya saja yang di bawanya pada saat mengajar. Tapi ketika menjelaskan ia seolah sudah sangat menguasai apapun yang ada di dalam buku diktat kami itu. Dia juga tidak pernah mengizinkan satu mahasiswapun mencatat saat mata kuliah dimulai hingga akhir. Kami hanya disuruh fokus mendengarkan penjelasannya dan menjawab pada saat dia bertanya. Pada mata kuliahnya kami tidak diharapkan untuk mendapatkan hasil dari penyelesaian soal yang diberikannya. Kami hanya cukup tau dasar dan proses penyelesaiannya. Lebih kearah penguasaan konsep. Pada pertemuan pertama aku yang belum mengerti karakteristiknya melakukan rutinitas belajar seperti biasanya, yaitu mencatat karena kupikir bisa kubaca lagi setelah pulang. Dan dia menegur dengan lagam batak medannya, “Tak perlu kau catat itu banyak-banyak di bukumu. Yakin aku tak juga kau paham itu apa yang kau catat. Hanya untuk contekan kau ajanya itu waktu ujian. Kau dengarkan aja yang ku jelaskan”. Dan saat itu aku terkejut bukan main. Ya barulah kusadari bahwa dia memang cocok jadi bahan ceritaan para kakak kelasku. Tidak banyak cerita ataupun basa-basi tapi sekalinya bicara mengejutkan. Sosok dosen disiplin, saintis dan cerdas banget itulah kesan pertamaku saat berjumpa dengannya

Next time, pada pertemuan selanjutnya kami sudah mulai mengerti keinginanya saat ia mengajar. Dan kamipun mengikutinya. Ada satu hari dimana kami sekelas tidak mengetahui tentang logaritma ilmiah (Ln). dia spontan memunculkan raut wajah kekesalannya. Ditanyanya apakah kami gak pernah sekolah SMA. Padahal seperti halnya aku, teman-teman yang lain juga merupakan mahasiswa yang berasal dari kampung, Jadi pelajarannya tidak terlalu lengkap dipelajari. Dan pada umumnya setelah tamat SMA kami sempat menganggur beberapa tahun tidak langsung kuliah. Jadi ingatannya tentang pelajaran sempat mengendap beberapa tahun. Belum lagi kami yang kuliah sambil bekerja dan latar belakang pekerjaan kami juga tidak linear dengan jurusan yang kami ambil di bangku perkuliahan. Contohnya saja aku, yang hanya seorang sales produk muslimah dan mengambil memilih kuliah jurusan keguruan matematika. Dan ada juga salah satu temanku yang dia bekerja sebagai tukang masak di dapur umum rumah sakit yang juga kuliah di jurusan keguruan matematika. Terkadang aku suka salut sama kami bahwa tidak di sangka kami sanggup juga menjalani semester demi semester perkuliahan ini dengan latar belakang pekerjaan yang tidak mudah.

Kembali ke sosok pemilik lobe putih. Pada siang itu aku harus menandatangani proposal penelitianku. Dan aku memang sangat membutuhkan tanda tangan darinya. Saat itu dia melihat ada beberapa bagian di proposalku yang masih salah dan mencoretnya. Tapi kali ini dia sangat mempermudahku. Sebelum perbaikannya di print ulang dia langsung menanda tanganinya. Dan berpesan jangan lupa di cetak ulang. Alhamdulillah ku bersyukur dalam hati. Tapi tak kusangka dia mengucapkan kata-kata yang membuat aku sedih seklaigus takut berpisah darinya. Inti dari perkataannya adalah “janganlah asal dalam menulis karya ilmiah seperti proposal itu syarat lulusmu. Kali ini saya bisa koreksi punya kamu. Tapi nanti lain kali manalah kita jumpa lagi. Palingan di meja hijau. Tapi itupun kalau saya jadi dosen pengujimu. Kalau tidak manalah kita jumpa lagi. Kamu itu calon guru, jadi guru yang baik jangan asal-asal. Cobalah nanti kamu jadi orang tua murid, kamu nerima rapot anakmu di tulis asal-asal sama gurunya. Terimanya kamu”. Mulai saat itu sampai pada saat ini saya tidak pernah lupa pada kata-katanya itu.

Setelah beberapa bulan lamanya setelah seminar proposal itu jarang sekali kami berjumpa dengan beliau. Dan beberpa waktu selanjutnya kami sempat mendengar berita tentang jabatannya sebagai Kepala Prodi akan digantikan dengan yang lain. Di karenakan dia sudah memegang dua periode berturut-turut sebagai Kepala Prodi dan peraturannya tidak boleh lebih dari itu.  Spontan hatiku menjadi sangat sedih. Sosok berlobe putih itu pasti akan sangat susah kutemukan lagi L. Kangen marahnya, nasehatnya, dan sosok yang tak tergantikan pastinya. Loyalitas, tegas, disiplin, mempermudah dan selalu tidak pernah mau menerima segala bentuk suap menyuap. Aku jadi teringat suatu peristiwa pada saat itu beberapa temanku ada yang memberinya oleh-oleh karena di pertemuan sebelumnya mereka tidak hadir dikelas. Tapi apa yang dilakukannya kue yang menjadi oleh-oleh dari mereka tak sedikitpun di makannya. Kue itu malah dikasi ke kami sekelas.  Selain itu banyak kejadian lain yang membuatku yakin bahwa dia dosen yang tidak menerima segala bentuk suap menyuap. Jempol buat kamu pak.

Sekarang kapanpun ketika  kami ke kampus. Tak lagi terlihat wajahnya yang biasa duduk di ruangan dosen paling depan. Biasanya jika tidak ada yang berkeperluan dengannya dia biasa menghabiskan waktu di depan laptopnya. Ketika kami lewat dari luar biasanya dia pasti selalu terlihat. Eh sekarang jangankan melihat wajahnya di ruangan itu. Bahkan mobilnya pun tak pernah lagi kami lihat di halaman parkir kampus yang tak luas itu. Bapak Prodi kami rindu bapak. Sehat selalu ya pak Ahmad Sukri Nasution, S.Pd, M.Pd






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,