Dibalik Asa yang Tak terbiasa (I)
Assalamu'alaikum Wr Wb.
Masyaallah tabarakallah
dan sekarang, saat ini kita
telah berada pada tahun 2018.
Tak terasa dan tanpa terduga
waktu berjalan begitu cepat.
Dan tahun ini sebagai penanda
aku telah hidup sejak 25 tahun yang lau. Dilahirkan dan dibesarkan penuh cinta
dan kasih sayang oleh kedua orang tuaku, yang saat ini pun usianya sudah lebih
dari 50 tahun. Masyaallah mereka sudah tua.
Tentang usia 25 tahun bagiku.
Usia yang tak muda lagi. Aku
sempat berfikir apa saja yang telah kulakukan di muka bumi ini Selama 25 tahun.
Mulai dari kecil, bermain, sekolah bertahun-tahun, kerja juga bertahun-tahun.
tapi masih ada satu fase lagi yang belum dijalani bertahun-tahun :)
Kalau di banding teman-teman ku
yang lainnya yang seusiaku kebanyakan dari mereka sudah berumah tangga,
sebagian ada yang sudah mempunyai anak, ada jga yang sudah menikah dua kali.
Masyaallah, timbul pertanyaan dihati.. nah aku? udah jadi apa di usia 25
tahun.
Iya.. aku masih tetap menjadi
seorang karyawan sebuah toko baju sejak tahun 2010 lalu. tepatnya aku sudah
bekerja selama 8 tahun yang lalu.
Namun sebagai manusia, kita
tidak boleh mengeluh terus terusan hingga melupakan syukur. Alhamdulillah, Maha
baiknya Allah saat ini aku sudah menjadi seorang Guru dan SM disebuah toko
busana muslim. Karena berkah penghasilan dari pekerjaanku, aku bisa
menyelesaikan kuliah S1 ku di sebuah universitas swasta.
Tentang profesiku sebagai guru.
Ditahun 2010 aku belajar di
sebuah sekolah unggulan di daerahku. didalamnya banyak sekali guru-guru
profesional yang menurutku mereka keren banget ilmunya ketika mengajar. Dari
segi sikap, metode mengajar, hingga Etika kesehariannya membuat aku menyukai dan
mengidolakan mereka semua. Dalam hatiku terbesit keren kalau bisa seperti mereka.
Bahkan ketika SMA dulu aku bercita-cita menjadi seorang guru.
Ketika tamat dari SMA, aku tidak
bisa melanjutkan kuliah ku karena tersandung kendala biaya orang tua. Sehingga
aku harus mencari uang agar bisa kuliah. Dan akupun mulai melamar pekerjaan
kesana kemari di sebuah kota yang terbilang metropolitan di bandingkan tempat
tinggalku. Dan Qadarullah Allah memudahkan niat tulusku. Allah memberikan ku
sebuah pekerjaan mulia di sebuah toko Busana Muslim yang populer di saat
itu.
Selama dua tahun aku berkutat
dengan kegiatan jual beli, marketing, produk, stok minus, omset, target
bulanan, kasir, dan banyak lagi lainnya. Masyaallah aku yang saat itu melamar
pekerjaan di usia 17 tahun dan belum genap 18 tahun, yang dulunya melamar
pekerjaan hanya menggunakan kartu tanda pelajar karena KTP nya belum ada, aku
yang dulu sempat di ledekin staff kantor karena di kirain mau sekolah bukannya
mau kerja karena badanku yang kecil dan pendek kayak anak-anak. Masyaallah enam
tahun lalu, Allah sudah mentakdirkanku bekerja sebegai karyawan selama 2 tahun
lamanya.
Setelah dua tahun bekerja dan
mengumpulkan uang untuk kuliah aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan
melanjutkan mimpiku kuliah agar menjadi Guru hebat seperti guru-guruku di SMA
dulu. Meski dengan uang tabungan yang tak seberapa aku nekat aja keluar dari
tempat kerjaku itu dan memberanikan masuk kedalam dunia baru sebagai seorang
mahasiswi.
Tapi saat itu mungkin Allah
begitu sayang kepadaku. Allah tidak ingin membuatku merasa susah untuk
mewujudkan cita-citaku. Hari itu saat aku mengajukan surat pengunduran diri
kepada pimpinanku. Ia tidak menerima prihal keluarnya aku dari instansi yang di
pimpinnya. Berulang kali dia bertanya apa alasan yang menyebabkan surat
pengunduran diriku itu hadir dihadapannya saat itu. Pada awalnya Aku menjawab
beberapa alasan yang tidak masuk akal seperti ingin pulang kampung, orang tua
sakit, dan lain sebagainya. Tapi ia faham bahwa alasan sebenarnya bukan yang ku
katakana itu. Jadi dia mencoba bertanya tentang alasan yang sebenar-benarnya
kepadaku.Aku merasa takut, tertekan dan segan kalau aku harus menjawab apa.
Karena jika menjawab dengan jujur, aku takut dia akan marah. Karena aku
mengundurkan diri sebelum masa kontrak habis. Dan dengan alasan ingin kuliah,
yang jelas-jelas pasti sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Pastilah mereka
marah, karena aku tidak mengajukannya sejak jauh-jauh hari
Akhirnya…..
….
To Be Continue

Komentar
Posting Komentar