HUJAN MINGGU INI


Tetes air langit tiada henti berjatuhan membasahi bumi yang kering setelah beberapa hari lamanya hujan tak kunjung hadir. Wahai hujan yang begitu di rindukan. Mulai dari gelembung awannya pun telah mengundang kebahagiaan bagi setiap insan disini. Serasa tak sabar menunggu awan itu mencair menjadi butiran hujan. Akhirnya hari ini hadir juga, butiran-butiran air langit sebagai rejeki dari Ilahi.

Pernah di suatu kesempatan mendengarkan tausyah dari seorang ustad kondang tentang nasihat akhir zaman yang berkenaan dengan air hujan. Beliau berkata bahwa salah satu tanda-tanda terjadinya kiamat dimulai dengan musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan tanah retak-retak dan beberapa waktu lamanya bumi tidak di turuni hujan, dilanjutkan dengan kabut asap gelap yang mengakibatkan musnahnya listrik dan semua teknologi apapun. Sehingga setelah itu manusia kan hidup secara tradisonal seperti dahulu kala.

Setelah mendengar tausyah tersebut, responku ketika turunnya hujan menjadi berbeda dari biasanya. Belakangan ini, rasanya diri ini menjadi sangat bersyukur jika terjadi hujan. Hati kecil ini seolah berkata alhamdulillah tanda-tanda kiamat itu belum terjadi. Kemarau panjang itu belu terjadi karena Allah masih menurunkan rejeki hujan. Bahkan kalau tidak ingat umur rasanya ingin sekali menari-nari di tengah hujan karena rasa bahagianya. 

Tentang hujan.
Sering kali ia mendapatkan cacian manakala Allah menakdirkan ia turun di pagi hari. Terkadang para ibu kesusahan untuk membangunkan anak dan suaminya karena terlalu nyenyak tidur di suasana dingin ketika hujan turun. Mereka juga sering mengeluh kesusahan mengantarkan anaknya kesekolah karena hujan. Sebagian lagi mengeluh terlambat pergi kerja karena hujan. 

Ketika turun di siang hari, beberapa manusiapun sering mengeluh karena kehadirannya. Menyalahkan hujan karena tidak terbitnya matahari dan pakaian cucian mereka tidak kering. Sebagian petanipun mengeluh karena mereka tidak bisa menjemur padi hasil panen mereka.

Ketika turun dimalam hari, iapun tidak berhenti mendapat keluhan dari manusia. Sebagian penduduk yang rumahnya berada di tepian sungai selalu mengeluh manakala hujan turun dimalam hari. Mereka tidak bisa tidur nyenyak karena diliputi rasa was-was takut tiba-tiba hujan mengantarkkan banjir di rumah mereka.
Wahai hujan malang nian nasibmu. Padahal kau hadir sebagai titah dari Ilahi. Sebagai bukti kasih sayang-Nya kepada manusia. Betapa susahnya dunia ini jika hujan sudah enggan turun lagi.  Bumi pasti akan tandus, manusia dan hewan kehausan, tumbuh-tumbuhan mati kekeringan dan seluruh peradaban di dunia lenyap. Seharusnya kita bersyukur Allah masih memberikan hujan bukan malah menjadikannya keluhan atau kambing hitam.

Layaknya hari ini, beberapa social media menayangkan siaran langsung berkumpulnya ribuan manusia di ibukota Negara ini. Mereka berkumpul dan mengumandangkan Dzikir kepada Allah beramai-ramai. Masyaallah Allahpun menghadirkan lagi rejekinya berupa hujan untuk menyejukkan para mujahid Islam. Wahai hujan yang selalu menghadirkan rejeki. Hadirnya memberikan manfaat dan perginya meninggalkan warna pelangi yang indah di langit. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,