Episode Baru yang jauh dari ekspektasi ku
Disini aku masih berstatus sebagai seorang karyawan di toko busana muslimah dan seorang guru honor di SMK.
Belakangan ini selepas kepergian ayah dari hidupku. Terasa hidupku semakin terombang ambing, tanpa arah. Sungguh aku menyadari proses perubahan diriku yang signifikan dan berarah kurang baik. Aku seolah putus asa dalam hidupku.Segala macam usaha aku lakukan . Aku berusaha keras keluar dari zona ini. Aku berusaha menghilangkan ketergantungan terhadap sosok ayah dan belajar mandiri dalam mengatur hidup. Tapi apa daya, jatuh bangun kurasakan, babak belur perasaan terkikis, bahkan banyak hal yang kujadikan alternatif solusi untuk permasalahanku ini.
Tapi apalah daya, aku hanya hamba yang hanya bisa berikhtiar saja. Pada akhirnya Allah pula yang pegang kendali terhadap takdir hidup. Beberapa waktu lalu. kurang lebih setelah dua bulan setelah kepergian ayah, Aku pernah mencoba mengikhtiarkan semaksimal mungkin perubahan statusku dari single menjadi istri orang. Tapi tetap aku berikhtiar melalui cara yang kuyakini baik bagi diriku, yaitu ta'aruf. Dengan rasa malu yang ku kesampingkan,aku memberanikan diri meminta pada sahabatku untuk dicarikan calon suami melalui jalur ta'aruf. Dan alhamdulillah Allah takdirkan dia bersedia membantuku. Satu, dua, sampai nama yang ke lima hadir cv nya di tanganku. Tapi belum ada satu orangpun yang bersedia menjadikan aku sebagai istrinya. Berbagai alasan disebutkan. Yang aku pahami itu pasti bukan alasan aslinya. Pasti mungkin karena fisik dan usiaku yang sudah tak muda lagi. Wahai Diri, mungkin kali ini Allah ingin mengajarkanmu arti sabar dan Ridha akan takdir Allah. sampai usia ku mendekati dua puluh tujuh tahunpun aku masih aja tetap sendiri.
Belakangan ini selepas kepergian ayah dari hidupku. Terasa hidupku semakin terombang ambing, tanpa arah. Sungguh aku menyadari proses perubahan diriku yang signifikan dan berarah kurang baik. Aku seolah putus asa dalam hidupku.Segala macam usaha aku lakukan . Aku berusaha keras keluar dari zona ini. Aku berusaha menghilangkan ketergantungan terhadap sosok ayah dan belajar mandiri dalam mengatur hidup. Tapi apa daya, jatuh bangun kurasakan, babak belur perasaan terkikis, bahkan banyak hal yang kujadikan alternatif solusi untuk permasalahanku ini.
Tapi apalah daya, aku hanya hamba yang hanya bisa berikhtiar saja. Pada akhirnya Allah pula yang pegang kendali terhadap takdir hidup. Beberapa waktu lalu. kurang lebih setelah dua bulan setelah kepergian ayah, Aku pernah mencoba mengikhtiarkan semaksimal mungkin perubahan statusku dari single menjadi istri orang. Tapi tetap aku berikhtiar melalui cara yang kuyakini baik bagi diriku, yaitu ta'aruf. Dengan rasa malu yang ku kesampingkan,aku memberanikan diri meminta pada sahabatku untuk dicarikan calon suami melalui jalur ta'aruf. Dan alhamdulillah Allah takdirkan dia bersedia membantuku. Satu, dua, sampai nama yang ke lima hadir cv nya di tanganku. Tapi belum ada satu orangpun yang bersedia menjadikan aku sebagai istrinya. Berbagai alasan disebutkan. Yang aku pahami itu pasti bukan alasan aslinya. Pasti mungkin karena fisik dan usiaku yang sudah tak muda lagi. Wahai Diri, mungkin kali ini Allah ingin mengajarkanmu arti sabar dan Ridha akan takdir Allah. sampai usia ku mendekati dua puluh tujuh tahunpun aku masih aja tetap sendiri.
Komentar
Posting Komentar