4F (JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.2 )
Assalamualaikum, perkenalkan saya Nurul Fajriah Nasution calon guru penggerak angkatan 8 kabupaten Aceh Timur provinsi Aceh. Disini saya akan menuliskan tentang jurnal refleksi dwi mingguan modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak. Jurnal ini menggambarkan refleksi terhadap kegiatan pendidikan guru penggerak yang sudah saya jalankan hampir dua minggu kedua. Penulisan jurnal refleksi ini merupakan rutinitas cgp pada setiap dua minggu sekali dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana perubahan yang dilakukan dan mengevaluasi pada setiap konsep yang dipraktikan cgp demi terjadinya perbaikan secara berkesinambungan dalam pembelajaran.
Pada kegiatan refleksi kali ini saya menggunakan pendekatan 4F, yaitu Facts (peristiwa), Feelings (perasaan), Findings (Pembelajaran), dan Future (Penerapan). Berikut pemaparannya
1. Facts (peristiwa)
Pada hari selasa tanggal 23 May 2023, seluruh cgp mulai memasuki pembahasan tentang modul 1.2 yaitu nilai dan peran guru penggerak. Di awal saya menjejaki menu mulai dari diri yang terdapat pada LMS. Didalamnya kami diberi intruksi untuk membuat trapesium usia yang menjelaskan tentang rentang usia mulai dari awal sekolah sampai rentang usia pensiun. Disini kami diminta untuk memaparkan hal positif dan negatif yang dialami sejak usia sekolah. Ada pelajaran yang bisa saya ambil dari instruksi ini. Kejadian ini ingin memberitahu kepada saya bahwa seorang guru memang selayaknya untuk tidak memberikan kesan negative selama pembelajaran. Karena bagaimanpun juga hal itu akan selalu di ingat siswa seumur hidupnya.
Selanjutnya saya mengakses menu eksplorasi konsep. Didalamnya membahas tentang konsep manusia tergerak, bergerak dan menggerakkan. Membahas tentang system kerja otak, lima kebutuhan dasar manusia, tahap tumbuh kembang anak, teori pilihan, motivasi instrinstik, diagram gunung es, nilai dan peran guru penggerak. Saya sangat antusias untuk memperdalam di bagian nilai dan peran guru penggerak. Saya tidak sabar untuk segera mempraktekan perubahan di dalam pembelajarannya.
Di hari yang sama, yaitu tanggal 23 May 2023 saya mulai mepraktekannya. Saat itu saya langsung masuk mengajar di dalam kelas X AKL dengan membawa alat peraga yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan dan merancang sebuah model pembelajaran berbasis media TikTok. Begitu saya masuk ke kelas mereka dengan membawa meteran, mereka langsung terfokus pada benda meteran yang saya bawa. Dalam benak mereka seperti tertanya-tanya untuk apa kira-kira meteran yang saya bawa.Selanjutnya saya membagi anak dalam beberapa kelompok dan menggiring mereka untuk belajar di lapangan. Saya mulai memberikan LKPD berisi intruksi kegiatan kepada masing-masing kelompok. Yang menjadi rencana pembelajaran saya saat itu adalah mengukur tinggi gawang bola kaki dengan meteran juga menghitung sudut yang di hasilkan darinya. Mereka sangat antusias dalam melakukan pengukuran karena bagi mereka ini hal baru. Saat pelajaran matematika yang biasanya hanya berisi rumus , contoh soal dan latihan kini bermetamorfosis menjadi pembelajaran praktek bersama teman dan dilakukan di alam terbuka. Setelah kegiatan selesai dilakukan, saya meminta anak untuk mereview kembali materi yang sudah dipelajari hari itu melalui sebuah video yang nantinya di unggah melalui tiktok dalam waktu tiga hari. Setelah tiga hari ada hal yang membuat saya kecewa terhadap respon tugas yang diberikan anak-anak. Teryata dari dua puluh satu orang, hanya delapan orang yang mengumpulkan tugas. Di sini ingin sekali saya marah besar di kelas. Tetapi setelah di renungkan, ternyata memang dalam melakukan sebuah perubahan itu tidaklah instan. Jadi mungkin anak-anak juga belum terbiasa mengikuti model pembelajaran baru, seingga mereka tidak bisa terlibat aktif didalamnya.
Pada tanggal 5 Juni 2023, saya dan cgp yang lain mulai dijadwalkan untuk hadir dalam ruang kolaborasi modul 1.2. Dalam pelaksanaanya saya dikelompokkan bersamaan dengan teman satu PP saya yaitu Buk Linda dan Buk Juhari, tapi ada satu orang laki-laki yang bergabung didalam kelompok ini yaitu Pak Chairullah yang kebetulan merupakan adek kelas saya semasa SMA dulu. Didalam kelompok ini, semangat anak mudanya terlihat sangat jelas karena seluruh anggota kelompok merupakan guru-guru muda yag sangat energik. Kami mampu menyelesaikan tugas dengan cepat dan mampu mempresentasikannya dengan baik. Setiap soal yang diberikan saat presentasi di jawab secara bergantian oleh kami. Setelah mendapatkan sedikit revisi dari hasil kerja kelompok, kamipun langsung mengupload tugas kami ke dalam LMS.
Selanjutnya yaitu pada sesi demonstrasi kontekstual, disini saya sedikit terkendala dalam menyelesaikan tugasnya. Hal ini disebabkan oleh jaringan yang tidak terlalu bagus di daerah saya. Setelah enguppload tugas saya mendapatkan sedikit revisian dari ibuk fasil dikarenakan ketidakadaannya keterangan pada setiap gambar yang saya tampilkan pada tugas. Saya segera memperbaikiny dan kembali menguploadnya lagi.
Pada sesia akhir sebelum aksi nyata yaitu kami digabungkan dalam sebuah kelompok diskusi yang di pimpin oleh seorang instrukstur bernama Darmalaila. Saya sangat terkesan sekali dengan pemaparan yang beliau lakukan. Hal yang sangat membekas bagi saya yaitu pada saat ia mengatakan “Kekurangan di perbaiki dan kelebihan di berdayakan”. Menjadi salah satu motivasi dan semangat bagi saya untuk bisa kembali percaya diri dan optimis dalam menjalani step demi stem dalam pendidikan guru penggerak ini.
2. Feelings (Perasaan)
Setelah mempelajari modul 1.2 tentang materi nilai dan peran guru penggerak ini saya menyadari ternyata masih banyak sekali PR yang harus saya perbaiki sebagai guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Meskipun disisi lain ada beberapa nilai dan peran yang selama ini sudah sering saya praktekan. Saya juga merasa senang mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang psikologi guru yang membuat saya bangga menjadi guru dan sangat termotivasi untuk mempelajari lebih dalam juga mulai mempraktekan pengetahuan yang di dapat saat pembelajaran di kelas.
3. Findings (Pembelajaran)
Saya mendapatkan banyak pelajaran dalam modul 1.2 ini. Disini saya diajarkan untuk bisa menjadi guru seutuhnya yang memahami psikologi anak dan tugas guru secara mendalam. Di bagian awal saya mempelajari tentang sistem kerja otak (berfikir cepat dan berfikir lambat). Selain itu saya juga mempelajari tentang kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup, kebutuhan untuk disayang dan diterima, kebutuhan untuk bebas, kebutuhan untuk senang, dan kebutuhan untuk berkuasa. Kemudian saya juga mempelajari tahap perkembangan manusia secara psikososial menurut erikson bahwa setiap anak memiliki cara pandang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya. sehingga sebagai guru diharapkan kita mampu bersikap dan mendidik sesuai dengan kebutuhan tahapan tumbuh kembangnya peserta didik. Materi lain yang juga saya pelajari ialah tentang penumpuhan karakter pada anak yang di ilustrasikan pada sebuah diagram identitas gunung es di lautan. Fenomena ini menggambarkan bahwa apa yang terlihat di permukaan terkadang tidak dapat mewakilkan keadaan sebenarnya yang terdapat didalamnya. Disini saya belajar bahwa karakter yang terlihat dari diri seorang hanya 12% saja dari karakter asli. Sehingga 88% lainnya tidak terlihat di permukaan. Sehingga untuk mengenalinya perlu pendekatan dan komunikasi khusus.
Di bagian terakhir saya mempelajari tentang lima nilai dan peran guru penggerak. Yang menjadi nilai dari guru penggerak, yaitu berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif. Dan yang menjadi peran dari guru penggerak, yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi.
4. Future(Penerapan)
Rencana penerapan yang saya akan lakukan kedepannya ialah saya akan mulai untuk memperbaiki diri saya dalam hal menerapkan pembelajaran berpihak pada murid dengan penuh inovasi. Untuk itu saya akan terus meningkatkan kualitas diri saya secara mandiri dengan mengikuti pelatihan pengembangan diri baik secara online maupun offline. Selain itu saya juga harus aktif berkolaborasi bersama rekan sejawat untuk menemukan solusi atas permasalahan siswa dalam belajar. Saya juga aktif melakukan kegiatan reflektif terhadap siswa pada akhir pembelajaran untuk mengetahui hal apa apa saja yang perlu diperbaiki di pembelajaran selanjutnya. Kegiatan refleksi juga di lanjutkan kedalam kegiatan supervisi rekan sejawat terhadap pembelajaran yang sudah saya laksanakan.
.
Komentar
Posting Komentar