Pahlawan Tegas Kehidupan
Assalamu'alaikum wr wb
Di tengah rutinitas pekerjaan yang
sangat melelahkan, tiada salahnya kita menyempatkan waktu bertemu sanak saudara
untuk sekedar bertatap wajah menghilangkan segala duka lara dan kepenatan. Hal
itu pula yang sering saya lakukan di saat libur kerja tiba. Saya biasa pergi ke
rumah kakak saya untuk melepas kangen kepada keponakan saya yang sedang
lucu-lucunya.
Namun
ada suatu hal yang berbeda di perjalanan saya kali ini. Di angkutan umum yang
biasa saya tumpangi untuk sampai ke rumah kakak saya. Saya berjumpa dengan
seorang laki-laki paruh baya. Ia berpakaian sangat sederhana, hanya dengan baju
kaus berwarna merah yang sudah agak kusam dan celana jeans berwarna biru
dongker yang bagian bawahnya sudah agak koyak. Namun bapak ini sepertinya sudah
berkeluarga, itu ditandai dengan adanya seorang anak perempuan yang sedang
duduk di pangkuannya.
Sebuah percakapan yang membuat
hatiku miris saat itu, anak itu mengaduh kesakitan karena perutnya dari pagi
belum di isi sampai setengah hari. Namun sang ayah menenangkan dengan
mengatakan bahwa mereka akan segera
sampai ke sebuah tempat makan yang sangat enak. Si ayah membujuk anaknya agar
tidur saja dalam perjalanan agar sampai di sana fisiknya sudah siap untuk
menyantap makanan-makanan yang sangat lezat. Si anak pun mengikuti perintah
sang ayah, ia kembali tertidur di dalam dekapan dang ayah sambil memegang
perutnya yang mungkin sudah sangat lapar sekali.
Tak lama kemudian mereka berdua,
ayah beranak itupun turun dari angkutan umum yang ku tumpangi itu. Dan ia pun
hanya bisa membayar ongkos setengah dari tariff yang di tentukan si sopir. Bukan
kepalang sang sopir pun marah dan memaki-makinya. Tapi sang ayah hanya bisa
mengatakan bahwa hanya itulah uang yang dia punya. Bahkan ia dan anaknya pun
belum makan dari tadi pagi. Dan sopir itupun tak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan
rasa kesal ia menggas mobilnya dengan cepat dan segera menjauh dari hadapan
sang ayah tadi.
Aku jadi penasaran apakah mungkin
si ayah benar-benar mengajak anaknya makan di rumah makan yang terenak
makananya. Sayup-sayup dari kejauhan aku melihat bahwa si ayah mengutip
buntelan bungkusan di tepi jalan dan memakannya bersama anaknya. Astaghfirullah,
apa yang bapak itu makan, apakah itu nasi sisa yang di buang oleh orang. Anak itu,
ia harus menganggap makanan bekas itu sebagai makanan terlezat yang di janjikan
ayahnya untuk siang ini. Aku hanya bisa berdo’a semoga Allah SWT member mereka
rejeki berlebih dan mereka bisa dengan cepat keluar dari jurang kenistaan itu.
Tiba-tiba tanpa tersadar air mataku
pun berlinang, aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan ku melihat ayah beranak
yang ada di depanku ini. Sebuah potret masyarakat Indonesia yang hidup jauh
dari kecukupan. Padahal dengan semua misi dan visi mulia yang para pemimpin kampanyekan.
Harusnya sudah tidak ada lagi warga yang seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi
mungkin visi dan misi itu hanyalah tetap menjadi sebuah janji dan mimpi manis
bagi warga seperti ayah ini yang entah kapan akan bisa terwujud.
Ayahku. Selintas akupun jadi
mengingat ayahku. Seorang pemimpin keluarga yang sangat tegas, berkharisma, dan
sangat mengayomi. Susah payah ia
membesarkan kami anak-anaknya. Hingga kami besar semua. Kami bertanya setelah
kami dewasa seperti sekarang apalah harapan terbesarnya kepada kami. Dan ia pun
menjawab dengan penuh pengharapan “ayah gak kepengen muluk-muluk. Kalian semua
bisa senang dan bahagia dalam kehidupan kalian saja ayah sudah senang. Apalagi jika
kalian bisa menjadi anak yang shaleh, ayah pasti sangat senang karena pasti
akan selalu ada yang mendoakan ayah ketika ayah sudah meninggal nanti”.
Mendengar perkataan ayah aku jadi
teringat cuplikan kata yang ada di novel “Negeri Lima Menara”. Yha … seorang
baso , anak yatim piatu yang dari kecil tidak pernah melihat sosok ayah dan
ibunya. Namun ia memiliki tekad yang kuat untuk bisa menolong ayah dan ibunya
agar terbebas dari siksa api neraka dengan cara menjadi seorang penghafal
al-Qur’an. Sungguh bakti anak yang tak ternilai harganya. Meski tidak merasakan
kasih saying dan didikan ibu dan ayahnya daja ia sangat rela berkorban
mati-matian agar bisa menghafal al-qur’an demi menolong ibu dan ayahnya dari
api neraka. Sementara aku, apa yang bisa dan yang sudah aku lakukan untuk kedua
oranh tua ku. Yang selama puluhan tahun membesarkan ku, mendidikku. Oh Ya Allah
hingga sampai dimasa tuanya juga aku masih belum bisa menemaninya di desa. Jangankan
bisa menjadi penolong mereka dari siksa api neraka. Menjadi pengobat rindunya
pun aku tak bisa.
Di akhir kata aku hanya bisa berdoa
semoga aku bisa menjadi orang yang di harapkan mereka. Dan semoga mereka sehat
wal’afiat dan tak kurang suatu apapun disana.
“Allahuma ghfirli waliwalidaya warhamhuma kama rabbayani
shaghira”

Komentar
Posting Komentar