Siang Itu . . . . . . . . .
Mata ini serasa panas. Bibirku
kelu. Tanganku bergetar seolah tak sanggup lagi menggenggam hp yang dari tadi berdering
di dalam kotak pensil kecilku itu. Suara sangaunya dari seberang sana sudah
meluluh lantakkan pertahanan jiwaku.
"nak, ayah Cuma kangen
aja makanya telpon"
Dialah ksatria di balik
layarku. Hampir semua langkahku kumulai dengan terlebih dahulu izin darinya.
Beberapa hari belakangan ini tubuhnya terkulai lemah di atas ranjang. Penyakit yang
sering menghinggapinya kumat dan membuat seluruh tubuhnya lemas. Hati ini
terasa bagai diiris-iris melihat kondisinya. Dia yang biasanya selalu semangat
dan aktif keliling sampai ujung kampung, jalan sana sini, menjemputku pergi dan
pulang sekolah. Bahkan di usianya yang sudah hampir tujuh puluh tahunan dia masih sering pergi beberapa hari keluar
kota untuk urusan dana desa dan beberapa hal menyangkut permasalahan desa.
Tiga hari lalu ku
sempatkan pulang untuk melihat kondisinya. Karena sebelumnya mamak mengabarkan
bahwa dia sakit dan harus berobat ke rumah sakit kota. Tapi mamak tidak
menjelaskan bahwa sakitnya parah. Begitu terkejutnya diri ini setelah sampai di
rumah. Ku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dia terkulai lemas tak
berdaya. Rasa sedih karena tidak dikabarkan keadaan yang sebenarnya mengisi
hati ini. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayah dan mamak untuk tidak mmengabarkan
kondisi mereka yang sedang sakit kepada anak-anaknya. Jika di Tanya via telpon
selalu bilang baik-baik saja. Atau kalau pun tertangkap suara bindeng di hidung
bilangnya Cuma sakit biasa. Sehingga kami para anaknya tidak pernah risau dan
khawatir. Aku tau itu semua dimaksudkan mereka agar tidak merepotkan dan
membebenkan kami sebagai anaknya.
Dengan suara bindengnya
dia melanjutkan pertanyaannya
"Nurul sekarang
dimana?”
Dengan mencoba
membesarkan hati ku atur kata-kata dan suara normal agar tak terlihat bahwa aku
sedang menangis dan aku menjawab "di sekolah yah, hari ini pulang jam 2
dan lanjut kerja"
Ku dengar ayah pun
menjawab dengan kata-kata singkat namun sangat bermakna bagiku
"iya yang bagus
kerjanya ya nak. Sabar-sabar, harus kuat mental. Sayangi kerjaannya. Sekarang
ayah udah gak bisa kerja berat-berat lagi. Cuma berharap dari situ ajalah
nak"
Sejenak tangan ini dingin
dan bendungan di kelopak mataku inipun kembali tumpah. Kata-kata yang sering kudengar sejak beberapa
tahun lalu sejak aku masih duduk di bangku kuliah kembali kudengar siang tadi.
"sayangi kerjaannya". Sebuah mantra yang membuatku tahan
bertahun-tahun lamanya tidak berpindah-pindah dan setia pada satu pekerjaan
tersebut. Tapi tak mengapa pekerjaan itulah yang sudah menghidupiku bahkan membiayai
pendidikanku sampai aku lulus bahkan dari pekerjaan itulah aku dapat mengenal
hijrah, dapat mengenal sedikit tentang computer dan pengalaman kehidupan yang
berharga.
Kali ini dia mengucapkan
dengan suara bindengnya karena sakit membuatku semakin terhenyak. Jujur dalam
hati merasa sangat bahagia karena hasil kerjaku dapat dinikmati mamak dan ayah.
Tapi aku tak ingin jika sakitnya tak kunjung sembuh. Serasa hatipun tak tenang,
pikiran berkecamuk dan bekerja pun kurang focus jika ayah belum sembuh. Harapan
terbesarnya adalah dia inginkan aku bisa menjadi seorang aparatur sipil negara.
Tapi sampai detik inipun aku belum bisa mewujudkannya.
Hari ini semuanya
berjalan kurang sempurna. Raga di kerjaan tetapi hati sudah berlari jauh pulang
ke kampung berjumpa ayah. Saat ini tidak ada hal lain yang menjadi perioritas
hidupku melainkan membahagian mereka berdua, ayah dan mamak.
Semoga Allah selalu memberikan
kesehatan bagi ayah dan mamak, meberkahi rejekiku dan memberikan aku kesempatan
untuk dapat berbakti sepenuhnya kepada mereka.
Love You Forever, Ayah 'n
Mamak
Langsa, 10 Januari 2019, Pukul 11:36 di lantai dua Ruko penyambung nyawa.

Semangat buk,semoga apa yang ayah ibuk inginkan bisa tercapai semua,aamiin๐๐
BalasHapusMasyaallah nak. Aamiin ya rabbal alamiin ๐
BalasHapus