Part Time In Action


Bermula dari pagi saat ku mulai membuka mata di hari yang penuh berkah ini. Serasa malas bangun dari tidur, tetapi teringat rencana mau hadir ke sekolah pagi ini. Seperti tak enak hati karena sudah hampir lima hari tidak menginjakkan kaki di tempat pengabdian pasca mengawas ujian sabtu lalu. Heumm.. cuaca dingin dan gerimis pun melengkapi sebab untuk malas beraktifitas hari ini. Padahal ini hari jumat alangkah baiknya melakukan hal terbaik di hari istimewa ini. Tapi malas harus di tepis. Sekilas aku teringat nasihat Aa Gym pada ceramah yang sering kudengar di youtube. Katanya "sifat malas itu berawal dari nafsu sebagai bisikan setan yang tak menginginkan kebaikan bagi cucu adam. Dan salah satu obat paling mujarab untuk sebuah rasa malas adalah Rajin. Bermujahadah (bersungguh-sungguhlah) dalam mengubah kebiasaan baik karena kebaikan itu juga suatu saat yang akan menolongmu". Benar aku harus rajin. Hati ini berbisik bahwa aku harus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Merasa sudah mendapatkan asupan semangat, aku langsung bergegas dan mulai mempersiapkan diri. Dimulai dengan sholat shubuh, menyuci baju kotor, sarapan, mandi dan langsung bersiap-siap berangkat ke tempat pengabdian (baca:sekolah) tercinta.
Ternyata  tak cukup sampai disitu setan menggoda ku hari ini. Setelah semuanya siap dan aku hendak bergegas berangkat. Tiba-tiba diluar rumah terdengar suara petir dan diiringi turunnya hujan dengan derasnya. Hingga pandangan kearah luarpun seperti ditutupi kabut. Wah kaki ini berat sekali untuk beranjak pergi. Belum lagi tiba-tiba teringat ini adalah hari dimana sekolah sudah selesai melaksanakan ujian. Diprediksikan pasti suasana kantor guru akan sangat sepi. Ditambah lagi ini adalah hari jumat pasti akan sangat susah mencari kendaraan waktu pulang nanti karena berpapasan waktunya dengan orang yang sholat jumat. Tanpa segan tiba-tiba terlintas banyak argument pendukung untuk tidak berangkat ke sekolah ini hari. Kenapa harus kesekolah, mengisi rapot dirumah kan juga bisa. Sama aja pasti karena nilai-nilainya bisa diambil dan dikirim dari Wa. Selanjutnya terbesit dalam hati "Hemat ongkos rul". Kalau satu hari gak kesekolah kan ongkosnya bisa diirit untuk berangkat ke sekolah dihari selanjutnya. Rasa ragupun menyelimuti hatiku. Hampir lima menit aku berdiri didepan pintu untuk memastikan keputusan apa yang harus aku ambil.
"Na'uzubillahimin dzalik"
Pada akhirnya hati ini pun membuat suatu keputusan bahwa hari ini harus tetap ke sekolah. Diluar mendapatkan faedah atau tidak paling tidak sudah bisa melepas kangen dengan tempat pengabdian ini. Aku ambil payung berwarna ping ku dan akupun beranjak jalan menyebrang untuk menunggu kendaraan yang akan mengantarkanku ke tempat pengabdianku.
Sesampainya di sana hujan belumpun mau berhenti meninggalkan bumi. Benar adanya prediksiku sebelumnya. Tidak ada satu orangpun  guru yang masuk. Di sekitaran sekolah hanya terlihat beberapa siswa yang sebagian mencari gurunya untuk remedial. Sebagian lagi hanya bercanda dan bermain dengan teman sekelasnya. Masuk ke dalam kantor aku langsung mengambil tempat duduk paling pinggir dan termasuk sudut ruangan karena paling dekat dengan sumber arus listrik. Apa hubungannya? Yap Karen hp dan laptop ku tidak akan bernyawa jika tidak disambungkan dengan kabel pengisi daya. Tak butuh waktu lama di temani mp3 murattal Ahmad Saud akupun tenggelam dalam angka-angka hasil nilai ujian anak-anakku.
Detik, menit, jam demi jam pun berlalu. Tak terasa sudah hampir empat jam aku terlena didalam kesepian kantor. Setelah memeriksa sebagian hajatku ke sekolah sudah terlaksana. Aku langsung beranjak pulang karena jam sudah menunjukkan tengah hari. Setelah ini aku akan bekerja dengan amanah yang berbeda. Kukemasi semua peralatanku dan aku langsung beranjak keluar dari kantor dan berjalan pelan menuju simpang depan tempat lewatnya mobil jumbo yang biasanya aku tumpangi.
Didalam mobil jumbo seperti biasa aku mengisi waktu kosong dengan istirahat (sebut saja tidur) di dalam mobil. Karena setelah ini aku akan memulai pekerjaan lain jadi ada baiknya waktu kosong ini aku gunakan untuk beristirahat. Di luar mobil masih juga terdengar suara deras rintik hujan yang menandakan hujan terus turun dan tidak berhenti sejak pagi tadi. Tiba-tiba aku mendengar suara dering di HP ku. Kuraih dan kubaca ternyata ada banyak pesan wa yang tak kubaca sejak pagi tadi. Setelah kulihat ternyata dari grup pekerjaan. Didalamnya para atasan-atasan bosku sedang merepet dan menegur kami semua karena ternyata sampai setengah hari omset penjualan masih rendah. Bahkan omset tempat dimana aku kerja sama sekali kosong. Belum ada penjualan dari sejak buka pagi sampai siang hari. Sepertinya beliau marah besar terutama kepada outlet kami. Tiba-tiba hatiku menjadi tidak tenang. Rasanya ingin sekali sampai dan lanjut jualan keluar jika di toko tak ada yang mau membeli.

Setibanya di toko tanpa basa basi langsung kuceritakan murkanya bosku kepada semua teman-temanku. Teman-temanku paham namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Wah fikiranku pun pusing serasa buntu tak ada solusi. Tiba-tiba ku teringat bahwa aku belum sholat dzuhur. Segera aku ke kamar mandi dan berwudhu dilanjutkan dengan sholat dzuhur.  Setelah itu pikiran pun mulai berfungsi dengan baik. Aku menyimpulkan untuk pergi bazaar ke peureulak. Bazaar itu adalah istilah yang sering kami sebutkan di ruang lingkup pekerjaanku yang maknanya adalah jualan di luar toko jadi bisa ke rumah penduduk, instansi pemerintahan, sekolah, juga bisa jadi sebuah pesantren seperti yang akan kami laksanakan hari ini. Tujuan kami hari ini adalah Psantren Dayah Amal Peureulak.
Sejurus kemudian aku langsung menyiapkan barang jualanku dan begegas untuk segera berangkat. Dengan mengajak teman kerjaku bernama Maulana Yusuf. Dengan menaiki sepeda motor merek Beat kepunyaannya kami pun meluncur dengan kencangnya.
Tak butuh waktu lama bagi seorang Maulana untuk menembus jarak Langsa-Peureulak.  Dalam waktu kurang dari dua jam kami sudah sampai di tempat tujuan kami, Dayah Amal Peureulak. Aku langsung bersiap-siap dan masuk ke dalam kawasan asrama putri. Berhubung aturan dayah yang tidak membenarkan laki-laki masuk kedalam asrama putri, jadi kali ini aku terpaksa hanya berjualan sendiri tanpa di temani dan Maulana pun hanya menungguku di luar asrama. Meskipun kawasan dayah hari ini agak sedikit becek karena hujan deras semalaman. Aku tetap bersemangat dan berusaha berjalan sebaik mungkin untuk menghindari becek tersebut.
Wah tak seperti yang kubayangkan, hari ini aku disambut antusias oleh para santriwati. Aku langsung berjalan menuju bale tempat biasa anak-anak berkumpul untuk memilih-milih jilbab. Bale itu lumayan tinggi untuk ukuran badanku yang mini ini. Biasanya dilengkapi tangga. Tapi kali ini tangganya sudah tidak tersedia lagi. Sehingga aku harus melompat untuk bisa menaiki lantai bale tersebut. Aku sangat berhati-hati karena dibagian bawah bale terlihat banyak kubangan air becek yang lumayan dalam, jika aku jatuh maka masuklah aku kedalamnya. Kerumunan mereka mendesakku untuk segera membongkar barang yang kubawa. Akupun langsung membongkarnya dan mulai menawarkan pilihan jilbab dan keperluan muslim lainnya. Tapi kali ini mereka agak rusuh. Berkali-kali mencampak jilbab, rebut-rebutan, dan ribut.
Sepuluh menit kemudian hal yang tak kuinginkanpun terjadi. Karena tingkah rusuh mereka yang sibuk tarik sana tarik sini jilbab akhirnya sehelai jilbabpun masuk kedalam kubangan becek yang ada dibawah bale. Dengan paniknya aku berusaha untuk mengambilnya sebelum terlanjur kotor parah maksudku. Tapi apa yang terjadi. Geudubakkk….suara besar terjadi didaerah tempat duduk kami.
Dan aku merasa pipiku basah, serasa ada yang menempel di pipiku. Dan kaki ku sudah menyentuh tanah yang lembek dan tak kusadari tubuhku sudah masuk kedalam  kubangan becek yang terletak dibawah bale tersebut. Hati ini tak karuan rasanya sakit kaki, tapi malu juga. Aku langsung bangkit dan mencoba meyakinkan ke semua orang bahwa aku baik-baik saja. Saat itu aku merasa penampakanku seperti monster yang baru bangkit dari sumur hidup. Bajuku yangberwarna hitam sudah berubah menjadi coklat susu ke abu-abuan. Para santri yang merasa bersalah tadi mencoba memperbaiki kesalahannya dengan menuntunku menuju ke kamar mandi untuk membersihkan baju ku yang kotor.
 Setelah itu rasanya ingin sekali aku langsung pulang dan meninggalkan tempat itu untuk selama-lamanya. Tapi walau bagaimanapun. Aku tidak mungkin menyelesaikan perjuanganku tanpa hasil seperti ini. Aku harus tetap melaksanakan tujuan utamaku. Bahwa aku harus berjualan disini, aku harus menghasilkan omset dan membawa pulang uang ke toko.
Dan akhirnya ku memutuskan untuk melanjutkan jualan dengan konsisi pakaian yang sedikit basah dan bau lumpur. Hanya saja lokasi jualannya jadi berpindah ke halaman mushola. Dan mungkin itulah tantangan dari Allah. Allah tak inginkan aku mencapai tujuanku dengan cara yang mudah dan biasa. Ia ingin aku berjuang. Benarlah hari ini aku mendapatkan omset penjualan bazaar yang tidak biasanya. Bahkan meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Astaghfirullah.. Alhamdulillah. 

Late post
Kenangan hari jumat tanggal 14 desember 2018
takkan terlupakan 


Langsa, 14 Desember 2018
Di malam sabtu yang penuh bintang bertemankan kesendirian dan suara jangkrik 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,