Si Ateu (Cerpen)
Alam sepertinya kurang bersahabat
hari ini . Baru saja keluar dari Kampus rintik hujan sudah mulai turun dengan
derasnya. Tapi tak pernah meruntuhkan semangat gadis bertubuh mungil ini.
Sambil merapikan sedikit letak kacamatanya yang tebal itu di atas hidungnya. Ia
pun bergegas menyiapkan langkah pertamanya untuk mulai menerobos rintik hujan
yang sepertinya semakin deras saja turunnya. Apa boleh buat meski hujan turun
deras tetap saja jarum jam tak pernah bisa bertoleransi untuk berhenti berputar
beberapa menit. Tanpa ragu-ragu ia langkahkan terus kakinya menerobos jalan trotoar
kampus menuju jalan raya yang biasa di lewati oleh angkutan umum. Nekat banget
sih si mungil ini, emangnya ada apaan gitu? ????... oh ternyata si dia mau
pergi ke tempat kerjaannya yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan kampus
tempat ia belajar.
Lima menit berlalu akhirnya ia
pun sudah berada dalam angkutan umumnya.
“ mau kemana buru-buru amat
neng?” Tanya seorang berjilbab biru yang sudah terlebih dahulu ada di angkot
kepada si gadis mungil berkacamata yang baru saja naik.
“oh iya ini ateu, buru-buru mau
ke kerjaan. Takut telat akunya.” Jawab gadis mungil berkacamata
“kamu sambilan kerja juga ya neng, kakak baru tahu loh.
Kerja dimana kamunya ?” Tanya si ateu
yang seolah mencari tahu.
“ iya ada tuh ateu. Nanti ateu
aku ajakin main ke tempat kerja ku.”
Jawab si mungil kacamata penuh rahasia.
“ah kamu mah selalu begitu, gak
mau cerita padahal kan kita selalu ketemu kalau pulang kuliah. Tapi ya sudahlah
nanti beneran ajakin ateu di kerjaan kamu ya” jawab si ateu menyudahi gejolak
penasaran di dadanya.
Si gadis mungil ini hanya
membalas dengan senyum tipis dan anggukan kepala mengiyakan.
Tentang Ateu, si mungil kacamata ini pun tiba-tiba
teringat akan kisah hidup si ateu. Ya si ateu yang manis, cute, shalehah, baik
hati, dan terbuka oleh semua orang ini. Ia memang terbuka, tapi tidak dengan
semua orang apalagi untuk hal-hal yang di nilainya sangat pribadi. Entah angin
apa yang membawanya, pernah di sebuah siang si ateu menceritakan kisah hidupnya
kepada si mungil kacamata ini ketika mereka bertemu di angkutan umum. Alasannya
supaya bisa di ambil pelajran hidup saja sambil berbagi pengalaman.
Si ateu yang memiliki nama asli
Athena Dewi. Seorang gadis berkulit putih, tinggi semampai, dan berbadan kurus
ini sekarang semakin cantik dengan balutan gamis dan jilbab lebarnya yang
menjulur panjang. Si ateu pernah bercerita bahwa ini di dapat tidak dengan
mudah, perlu proses yang sangat berbelit, banyak waktu yang terbuang sia sia.
Hingga akhirnya hidayah Ilahi pun sampai pada dirinya. Ya si gadis mungil ini
pun mempercayainya. Karena memang pertama kali ia bertemu dengannya. Ia masih
merupakan seorang gadis amah.
Si ateu di panggil dewi oleh saudaranya di
rumah. Tumbuh bersama 3 orang kakak yang semuanya laki-laki membuat karakternya
mirip seperti laki-laki. Ia terlihat tomboy, berpakaian hampir susah di bedakan
antara laki-laki atau perempuan.
Hingga remaja si ateu pun semakin
menjadi-jadi jiwa kejantanannya. Hampir semua kebiasaan laki-laki di lakoninya.
Sampai yang paling parahnya ia pernah menjadi perokok, memacari wanita yang
sebenanya memiliki jenis kelamin yang sama dengannya. Ia hampir bisa di katakan
lesbiyan. Sedikitpun hampir tidak ada celah fisik yang menandakan bahwa ia itu
seorang wanita. Menurut ceritanya, Ibu jadi sering sekali masuk keluar rumah
sakit karena tingkahnya. Memang sangat susah menerima kenyataan tersebut bagi
seorang ibu. Putri yang hanya di miliki satu-satunya yang di harapkan bisa
menjadi pembantu dan mengerti keadaanya di rumah. Malah tumbuh menjadi seorang laki
yang arrogant dan pembangkang.
Si ateu sangat susah di atur,.
Bahkan setelah lulus sekolah tingkat atas ia tidak mau di masukkan ke perguruan
tinggi. Ia melarikan diri dari rumah sampai satu minggu dan menginap di rumah
teman laki-lakinya.. Astaghfirullah. Hingga akhirnya mendengar sang ibu kritis
di rumah sakit barulah ia mau pulang ke rumah dan mengikuti keinginan ibunya
untuk masuk ke perguruan tinggi.
Sampai ke perguruan tinggi semuanya
sedikit membaik. Meski namanya di ubah menjadi Dewa untuk menyamarkan bahwa
sebenarnya ia bukanlah seorang wanita. Semua temannya tidak ada yang mengetahui
bahwa ia adalah seorang perempuan. Waktunya lebih sering di habiskan bersama
teman-teman kampusnya. Diko, Bagas, dan Farhan. Itulah nama teman dekatnya
sekarang. Mereka sering bersama-sama mendaki
gunung dan berkemah. Namun demikian ada sedikit rasa syukur bahwa ketika di
kampus ia di pertemukan Allah dengan teman laki-laki yang merupakan mahasiswa
teladan yang mementingkan intelektual, hidup dengan organisasi, menjauhi dunia
bebas, tidak perokok, dan memiliki jiwa social yang tinggi. Sehingga ketika di
kampus ia benar-benar belajar, nilainya pun bagus-bagus di setiap semesternya.
Ia berhenti merokok karena dorongan teman-temannya. Ibu si ateu menjadi sangat
senang dengan perubahan sikapnya. Ketika waktu libur ia menjadi sering berdiam
di rumah bersama sang ibu. Walaupun sang ibu tahu bahwa putrinya masih juga
belum berubah menjadi wanita normal yang sejak dahulu di impikannya. Paling
tidak ia sudah tumbuh menjadi manusia normal.
Si ateu semakin bersemangat
menyelesaikan kuliahnya. Si Ateu mulai merangkai cita cita tinggi untuk juga
dapat bersama-sama dengan temannya melanjutkan S2 nya keluar negeri. Ia seolah-olah
tak bisa di pisahkan oleh ke tiga teman laki-lakinya itu. Begitu juga
teman-temannya. Si Ateu di kenal sebagai teman yang memiliki jiwa sahabat yang
sangat perhatian, setia, dan selalu membantu ketika dalam kondisi sulit.
Hingga akhirnya masa-masa skripsi
untuk jenjang S1 mereka pun tiba. Fikiran mereka di tuntut focus pada skripsi
yang mereka buat. Mereka saling bahu membahu membantu sesama mereka. Agar dapat
lulus secara bersama-sama dengan nilai yang bagus pula. Mereka semakin dekat
dan tak terpisahkan.
Dua bulan berjalan skripsi mereka
pun selesai, sidang meja hijau di lewati dengan sempurna. Hanya saja ada satu
permasalahan yang sangat menjanggal kelulusan si Ateu. Ia terjanggal masalah
administrasi kelulusan oleh pihak biro. Teman-temannya bertanya-tanya mengapa
dan apa penyebabnya. Si Ateu sama sekali tidak berani menceritakan persoalannya
kepada sahabat-sahabatnya itu. Ia merasa takut kehilangan mereka jika ia
berkata jujur.
Namun sahabat-sahabatnya tidak
tinggal diam. Mereka terus mencari cara untuk mengetahui duduk permasalahan
yang di timpa si ateu. Oh ateu yang malang. Teman-temannya mengetahui bahwa ia
bukanlah seorang laki-laki dari pihak kampus bukan dari mulutnya sendiri. Alangkah
murka teman-temannya mendengar kabar itu. Mereka berarti hidup bersama seorang
lesbiyan dari tahun ke tahun. Namun si ateu tidak dapat berkata apa-apa. Karena
ini merupakan kenyataan yang tak terelakkan. Ia hanya menyampaikan maaf kepada
temannya dan menceritakan kisah hidupnya sejak kecil hingga sampai seperti
sekarang ini. Ia sudah sangat siap jika akhirnya teman-temannya
meninggalkannya.
Teman-temannya merasa tertipu
sekaligus sedih dengan pengakuannya itu. Di satu sisi mereka benci dengan sifat
dusta si ateu sejak lama. Namun di sisi lain si ateu adalah sahabat dekat
mereka yang sudah menghabiskan waktu bersama sejak empat tahun di bangku
kuliah. Dengan alasan persahabatan pun pada akhirnya mereka memaafkan si ateu.
Dan dengan sepenuh hati membantu si ateu menyelesaikan permasalahan yang
mempersulit kelulusannya. Si Ateu merasa sangat senang. Ia benar-benar menjadi
manusia yang beruntung.
Tidak sampai di situ saja.
Setelah pengakuannya kepada sahabat-sahabatnya. Para sahabat dekatnya pun
sangat mendorong si ateu untuk kembali kefitrahnya menjadi seorang wanita
normal dengan busana wanita yang membalut tubuhnya. Mendengar saran ini. Si
ateu marah besar. Ia hampir tidak ingin berbicara dengan semua sahabatnya itu.
Ia merasa dunianya sekarang sudah sempurna dan tidak ingin ada lagi yang
berubah padanya. Menjadi seorang laki-laki adalah impiannya sejak kecil.
Namun bukan sahabat namanya jika
tidak bisa membujuk dan saling mempengaruhi satu sama lain. Sahabat-sahabatnya
berusaha lebih keras lagi untuk dapat mengubah pola fikir si ateu. Mereka
sering membeli buku-buku kewanitaan, bercerita tentang keutamaan dan kelebihan
wanit sampai pada akhirnya mereka membawa seorang mahasiswi yang juga merupakan
aktifis dakwah di kampus ke hadapan si ateu untuk bisa berkomunikasi dan member pengertian kepadanya.
Atas dorongan dan seluruh kerja
keras sahabat-sahabatnya. Akhirnya si ateu mau bertemu dengan mahasiswi itu,
yang namanya Nafisya. Alangkah
terkejutnya si ateu ketika bertemu dengannya. Ia merasa janggal dan asing.
Nafisya mulai membuka obrolan dengan keramah tamahannya. Bertanya dengan
kelembutnya. Sampai kepada hal hal sensitive tentang prinsip si ateu pun
berhasil di ketahui dengan suasana ngobrol yang ringan dan santai. Hingga
akhirnya si ateu merasa nyaman dan bahagia bertemu dengan Nafisya.
Seminggu berlalu. Intensitas
pertemuan antara si ateu dengan sahabat laki-lakinya pun mulai berkuarang.
Karena si ateu menerima saran dari Nafisya bahwa antara laki-laki dan perempuan
itu jika belum terikat dalam satu jalinan perkawinan atau muhrim di larang
untuk sering-sering berinterksi. “harus di batasi ya ateu” gitu katanya. Lagi
pula sahabat-sahabatnya juga sangat mengerti dengan itu bahkan mereka sangat
senang bahwa akhirnya teman dekat mereka bisa kembali ke fitrahnya.
Si ateu mulai memperbaiki
dirinya. Mulai memperbaiki busasanya, tutur katanya, kebiasaannya, sambil terus
di dampingi oleh Nafisya ia mulai belajar mengenal Sang Khalik. Ia belajar
mengaji dari dasar. Ia minta di panggil Ateu aja oleh semuanya gak mau di
panggil dewa lagi. Karena masih merupakan bagian dari nama panjangnya Athena
Dewi. Bahagia bukan kepalang sang ibu dan keluarganya melihat seluruh perubahan
yang di alami putri satu-satunya itu. Impiannya memiliki seorang putri yang
shalehah akan segera terwujud fikirnya. Ibunya jadi sering membelikannya baju
baju muslimah dengan berbagai model untuk di kenakannya sehari-hari.
Hari pengukuhan gelar Sarjana pun
tiba. Si ateu ingin sekali memberikan sebuah kejutan kepada seluruh
sahabat-sahabatnya dengan perubahan yang di alaminya. Serasa tak sabar bertemu dengan
semua sahabatnya.
Hari itu ia memakai gaun kebaya
yang di desain oleh ibunya sendiri. Dengan balutan jilbab penuh kreasi yang di
kombinasikan dengan beberapa aksesoris di atasnya. Ia pergi bersama seluruh
anggota keluarganya dan juga Nafisya yang sekarang menjadi teman dekatnya.
Mereka semua ingin menyaksikan pengukuhan gelar S1 nya si ateu. Wanita
subhanallah.
Ketika sampai di gedung. Si ateu
merasa gemetaran. Ia takut di ledekin oleh semua teman-temannya dengan
penampilan barunya itu. Namun Nafisya selalu menguatkannya bahwa tidak mungkin
ada yang kenal dengan penampilan barunya itu. Ya ternyata memang benar tidak
ada yang kenal dengannya. Terbukti saat ia menyapa sahabat-sahabt dekatnya.
Mereka saja sampai pangling.
“Diko… Bagas… Farhan… apa kabarnya semua
sahabatku? Aku rindu kalian. ” itu sapanya si ateu kepada sahabatnya.
“Maaf ukhti… kamunya itu siapa
ya. Kayaknya kami belum pernah lihat sebelunya di kampus” Jawab Diko dengan
terheran heran.
“WaH…yang benar saja ,.. masak
kalian tidak mengenali suara ku” jawab si Ateu.
Temannya Diko, Bagas dan Farhan
hanya menggelengkan kepala saja. Menandakan bahwa mereka sama sekali tidak
tanda.
Tak lama kemudian Nafisya dan
seluruh keluarga pun menghampirinya. Setelah berdiri berdampingan temannya bisa
langsung mengetahui siapa wanita di baliik busana indah berwarna coklat
keemasan itu.
“Dewa” serempak mereka
menjeritkan namanya
“Bukan. Aku Ateu kok bukan Dewa”
jawab Ateu dengan ekspresi datar tanpa rasa bersalah.
“hah… ini dewa, yakin deh aku
kalau ini dewa ya kan, kamu mau bohongi kita lagi ya” jawab Diko penuh
penasaran.
“ hehehe… ateu. sekarang namanya
ateu bukan dewa lagi ya teman teman, Ingat ya Ateu” jawab ateu sambbil tertawa
Semuanya pun larut dalam tawa dan
rasa syukur. Teman-temannya berhasil tertipu dengan penampilan barunya. Mereka
sangat bersyukur akhirnya ateu teman dekat mereka bisa kembali menjadi wanita
normal. Bahkan sangat anggun. Tutur bahasanya semakin lembut, gerak jalan dan
bahas tubuhnya begitu anggun. Subhanallah.
Dari pertemuan itu ateu berterima
kasih kepada seluruh sahabatnya karena begitu sangat peduli pada dirinya.
Kepada Nafisya yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Belakangan di ketahui
bahwa Nafisya merupakan gadis pilihan Farhan yang akan di jadikannya Istri dua
bulan lagi. Wah bukan kepalang terkejutnya Ateu mendengarkan kabar tersebut.
Mengapa tidak ada yang memberitahunya. Ternyata bukan hanya dia yang tidak tahu
tentang hal itu. Semua teman-temannya Diko dan juga Bagas juga tidak mengetahui
tentang hal itu. Farhan dan Nafisya sengaja merahasiakannya kepada mereka semua
karena ingin memberikan sure prize di hari pernikahannya. Eh ternyata rahasia
itu lebih dulu terbongkar sebelum hari pernikahan mereka.
“Senang sekali rasanya punya
suami sholeh, pintar, jutawan seperti Farhan.” Batin ateu berkata
Mengapa tidak. Farhan yang
terkenal ketua Organisasi Islam se Kampus. Ia juga punya usaha sampingan di
bidang Propertis bersama ayahnya dan selalu memiliki IPK tinggi di kampus.
Ternyata naluri kewanitaan ateu masih befungsi dngan baik. Dan ia juga
menyadari bahwa Nafisya juga memang snagat pantas dengan Farhan. Sosok wanita
yang sangat di impikan oleh seluruh laki-laki seluruh dunia mungkin. Cantik,
berbudi luhur, tulus, sholehah, pintar, dan punya warung nasi kecil-kecilan di
depan rumahnya yang merupakan apresiasi dari hobi memasaknya.
Batin Ateu menginginkan ia bisa
seperti Nafisya nantinya. Subahanallah.
Acara Wisuda pun berakhir dengan
suka cita. Keempat sahabat itu pun berkomitmen untuk bersama sama melanjutkan
S2 nya. Namun tidak jadi di luar negeri mengingat Farhan yang akan menjadi
suami atas Nafisya. Mereka akan tetap belajar di kampus yang sama dan bersama
sama lagi.
Masa libur pasca wisuda pun tiba.
Ateu mengisinya dengan pergi dari satu majelis ke majelis lainnya untuk
memperdalam pengetahuannya tentang islam. Ia benar-benar bertekad ingin menjadi
seperti Nafisya.Teman teman yang lain juga punya kesibukan yang berbeda-beda.
Farhan mempersiapkan pernikahannya yang tidak berjangka lama lagi. Bagas
bekerja membantu perusahaan ayahnya sekaligus menambah pengalaman bekerjanya.
Namun ada yang berbeda pada Diko, ia bekerja di sebuah perusahaan dan berniat
ingin menabung sebanyak banyaknya untuk melamar calon istrinya. Ateu terheran
mendengar kabar dari Diko, ternyata teman nya satu ini diam-diam memiliki
wanita pujaan tanpa sepengetahuannya. Ketika di tanya ia selalu mejawab. “Baru
beberapa waktu ini aku menemukan seorang wanita yang memikat hatiku dan aku
akan bekerja sangat keras untuk mengumpulkan biaya pernikahan ku dengannya. Aku
ingin semuanya aku sendiri yang menyiapkannya dengan uang saku ku sendiri tidak
di bantu oleh keluargaku”
Ateu memang sangat menghargai
prinsip hidup yang begitu kuat di pegang oleh Diko. Sedari kuliah ia selalu
mendapatkan apa yang ia inginkan atas usaha kerasnya sendiri. Padahal orang
tuanya terkenal kaya dan memiliki semua. Tapi ia tidak pernah manja dan
bermalas-malasan dengan semua yang di miliki oleh orang tuanya itu.
….
Singkat cerita dua tahunpun
berlalu. Si Ateu, Diko , Farhan dan Bagas pun berhasil bersama-sama
menyelesaikan S2 nya. Si Ateu menjadi Dosen tetap di kampus tempat ia belajar
dulu. Farhan dan Nafisya memiliki seorang anak laki yang di bei nama
Fathrurrahman. Farhan masih terus bekerja mengembangkan bisnis properties nya.
Bagas bekerja bersama ayahnya untuk terus mengembangkan perusahaan bersama. Dan
Diko telah menjadi pengusaha atas usaha yang di rintisnya sejak kuliahdulu.
Alhamdulillah Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan.
Namun di antara kami semua yang
sudah menikah hanya farhan saja. Tiga diantara yang lainnya masih betah hidup
melajang. Kalau Ateu karena belum ada sang pangeran yang datang dan menemui
walinya. Tentang Bagas, ia sudah memiliki tunangan yang akan di nikahinya
selepas sang gadis lulus kuliah. Dan kalau Diko ia selalu bercerita bahwa akan
meminang wanita idamannya dalam waktu dekat ini. Kami selalu tertawa
terbahak-bahak jika ia sudah mulai bercerita tentang wanita itu. Karena tidak
pernah sekalipun ia dapat menghadirkan wanita itu di hadapan kami semua.
Sehingga terkesan hanya bualan saja. Tapi pribadi Ateu sendiri mempercayai
bahwa wanita idaman itu memang ada karena tak pernah Ateu melihat Diko bekerja
sesemangat ini karena hanya untuk melamar gadis impiannya itu.
Sabtu malam setelah seminggu
pengukuhan gelar master S2 mereka. Ateu mengadakan acara hajatan di rumahnya
dan mengundang seluruh anggota keluarga sahabatnya itu. Termasuk ibu, bapak,
istri, adik , kakak keempat sahabatnya itu. Karena ia ingin mereka menjadi bagian
dari keluarganya juga. Seluruh anggota keluarga sahabatnya pun menerima
undangan Ateu dengan antusias. Mereka jadi benar benar akrab dan sangat
bersahabat. Empat keluarga yang di satukan oleh sebuah tali persahabatan empat
manusia penuh cinta. Begitu sangat harmonis di pandang mata.
…………..
Sampai pada suatu malam hari yang
tak pernah akan terlupakan oleh Ateu dalam hidupnya. Seorang lelaki
berkacamata, berpakaian rapi, berwibawa bahasa tubuhnya mendatangi rumahnya
untuk bertemu dengan orang tuanya. Ia berbicara penuh sopan santun, obrolan
ringan tercipta ketika ia berbicara dengan ayah Ateu. Seolah sudah sering
bertemu. Mungkin memang ayah Ateu sudah sangat mengenalinya. Hingga akhirnya ia
mengutarakan maksud untuk mengkhitbah Ateu untuk menjadi istrinya. Ateu
terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka malam itu ia akan di lamar oleh
Seorang Pradiko Handoko, Pengusaha batu bara melamarnya untuk di jadikan
istinya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Namun sang pengusaha pun tak ingin
menjawab dengan tergesa-gesa. Berfikirlah terlebih dahulu katanya.
Seorang teman dekatnya. Yang
pasti sangat mengetahui tentang masa lalunya yang kelam. Mengapa ia bisa ingin
menikahinya. Satu alasan simple yang di ungkapkan Diko bahwa ia tak ingin dan
tak bisa kehilangan Ateu. Setelah mengetahui ateu adalah seorang wanita. Ia
merasa yakin bahwa ateu adalah wanita yang di impikannya. Ia pernah bermimpi
menikah dengan seorang laki-laki yang wajahnya laki-laki tanpa mirip denga
perempuan sedikitpun. Dan ia pun tidak terlalu mempersoalkan. Hingga kenyataan
terpapar di hadapannya. Bahwa ia memiliki seorang teman wanita yang berwujudkan
laki-laki. Apakah ini pertanda. Ia pun tidak gegabah. Ia berulang kali
melakukan Istikharah dan ia menemukan jawaban atas nama Ateu. Sehingga ia pun langsung
mulai meniatkan ingin mempersunting ateu dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
Oleh sebab itu lah dia bekerja mati matian selama 2 tahun lamanya. Sehingga
menimbulkan hasil yang memuaskan.Sekarang ia sudah sangat merasa yakin sekali
akan menikahkan ateu dengan semua perubahan dlam diri ateu. Ateu seperti
penjelmaan nafisya. Hanya saja dia bukan pengusaha makanan tapi seorang Dosen.
Ateu pun tidak punya alasan yang
kuat untuk menolak Diko yang merupakan teman dekatnya. Meski memang tidak
pernah menyimpan rasa cinta dalam hatinya. Ia yakin setelah menikah rasa itu
akan tumbuh subur dengan sendiriinya. Mengingat Diko adalah teman dekatnya yang
juga di sayanginya. Mereka menggelarkan resepsi pernikahan sevara sederhanay
yang hanya di hadiri oleh sanak saudara dan keluarga terdekat saja.
Selepas menikah mereka
melanjutkan rutinitas mereka seperti biasa. Ateu tetap mengajar di kampusnya.
Dan Diko terus eksis di bidang usahanya.
Sampai akhirnya ateu bertemu
dengan wanita mungil berkacamata yang merupakan tetangga dekatnya yang juga
merupakan mahasiswi di kampusnya.
Ketika si gadis mungil kacamata
bertanya apa alasan atau penyebab si ateu masuk kedalam lubang kenistaan itu.
Si ateu hanya menjawab dengan senyum tipis dan kata singkat, yaitu keadilan dan
pemikiran anak kecil yang bodoh. Si ateu
kecil merasa dirinya di perlakukan tidak adil oleh orang tuanya. Dia menganggap
kakak kakanya mendapatkan semua kebebasan sementara ia hanya boleh di rumah
saja menemani ibunya. Namun Ateu tetap bersyukur dengan semua yang telah di
gariskan Allah dalam hidupnya. Inilah jalannya agar ia dapat terus dekat dengan
Allah SWT.
………………….
Heum,,, si gadis mungil
berkacamata inipun jadi melamun. Ia tak sadar bahwa angkutan umum yang di naiki
oleh nya telah menghantarkan ia tepat di tempat kerjanya. Ia manyampaikan salam
perpisahan pada Ateu yang duduk di ujung angkutan umum itu.
Banyak sekali pelajaran yang bisa
kita ambil dari kisa si Ateu ini. Wanita yang dahulunya berada pada jurang
kenistaan pada akhirnya di angkat Allah derajatnya menjadi wanita Shalehah yang
hidupnya di penuhi oleh kebhagiaan.

Komentar
Posting Komentar