Si Ateu (Cerpen)


Alam sepertinya kurang bersahabat hari ini . Baru saja keluar dari Kampus rintik hujan sudah mulai turun dengan derasnya. Tapi tak pernah meruntuhkan semangat gadis bertubuh mungil ini. Sambil merapikan sedikit letak kacamatanya yang tebal itu di atas hidungnya. Ia pun bergegas menyiapkan langkah pertamanya untuk mulai menerobos rintik hujan yang sepertinya semakin deras saja turunnya. Apa boleh buat meski hujan turun deras tetap saja jarum jam tak pernah bisa bertoleransi untuk berhenti berputar beberapa menit. Tanpa ragu-ragu ia langkahkan terus kakinya menerobos jalan trotoar kampus menuju jalan raya yang biasa di lewati oleh angkutan umum. Nekat banget sih si mungil ini, emangnya ada apaan gitu? ????... oh ternyata si dia mau pergi ke tempat kerjaannya yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan kampus tempat ia belajar.

Lima menit berlalu akhirnya ia pun sudah berada dalam angkutan umumnya.
“ mau kemana buru-buru amat neng?” Tanya seorang berjilbab biru yang sudah terlebih dahulu ada di angkot kepada si gadis mungil berkacamata yang baru saja naik.
“oh iya ini ateu, buru-buru mau ke kerjaan. Takut telat akunya.” Jawab gadis mungil berkacamata
“kamu sambilan  kerja juga ya neng, kakak baru tahu loh. Kerja dimana kamunya ?”  Tanya si ateu yang seolah mencari tahu.
“ iya ada tuh ateu. Nanti ateu aku ajakin main ke tempat kerja ku.”  Jawab si mungil kacamata penuh rahasia.
“ah kamu mah selalu begitu, gak mau cerita padahal kan kita selalu ketemu kalau pulang kuliah. Tapi ya sudahlah nanti beneran ajakin ateu di kerjaan kamu ya” jawab si ateu menyudahi gejolak penasaran di dadanya.
Si gadis mungil ini hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan kepala mengiyakan. 
Tentang  Ateu, si mungil kacamata ini pun tiba-tiba teringat akan kisah hidup si ateu. Ya si ateu yang manis, cute, shalehah, baik hati, dan terbuka oleh semua orang ini. Ia memang terbuka, tapi tidak dengan semua orang apalagi untuk hal-hal yang di nilainya sangat pribadi. Entah angin apa yang membawanya, pernah di sebuah siang si ateu menceritakan kisah hidupnya kepada si mungil kacamata ini ketika mereka bertemu di angkutan umum. Alasannya supaya bisa di ambil pelajran hidup saja sambil berbagi pengalaman.
Si ateu yang memiliki nama asli Athena Dewi. Seorang gadis berkulit putih, tinggi semampai, dan berbadan kurus ini sekarang semakin cantik dengan balutan gamis dan jilbab lebarnya yang menjulur panjang. Si ateu pernah bercerita bahwa ini di dapat tidak dengan mudah, perlu proses yang sangat berbelit, banyak waktu yang terbuang sia sia. Hingga akhirnya hidayah Ilahi pun sampai pada dirinya. Ya si gadis mungil ini pun mempercayainya. Karena memang pertama kali ia bertemu dengannya. Ia masih merupakan seorang gadis amah.
 Si ateu di panggil dewi oleh saudaranya di rumah. Tumbuh bersama 3 orang kakak yang semuanya laki-laki membuat karakternya mirip seperti laki-laki. Ia terlihat tomboy, berpakaian hampir susah di bedakan antara laki-laki atau perempuan.
Hingga remaja si ateu pun semakin menjadi-jadi jiwa kejantanannya. Hampir semua kebiasaan laki-laki di lakoninya. Sampai yang paling parahnya ia pernah menjadi perokok, memacari wanita yang sebenanya memiliki jenis kelamin yang sama dengannya. Ia hampir bisa di katakan lesbiyan. Sedikitpun hampir tidak ada celah fisik yang menandakan bahwa ia itu seorang wanita. Menurut ceritanya, Ibu jadi sering sekali masuk keluar rumah sakit karena tingkahnya. Memang sangat susah menerima kenyataan tersebut bagi seorang ibu. Putri yang hanya di miliki satu-satunya yang di harapkan bisa menjadi pembantu dan mengerti keadaanya di rumah. Malah tumbuh menjadi seorang laki yang arrogant dan pembangkang.
Si ateu sangat susah di atur,. Bahkan setelah lulus sekolah tingkat atas ia tidak mau di masukkan ke perguruan tinggi. Ia melarikan diri dari rumah sampai satu minggu dan menginap di rumah teman laki-lakinya.. Astaghfirullah. Hingga akhirnya mendengar sang ibu kritis di rumah sakit barulah ia mau pulang ke rumah dan mengikuti keinginan ibunya untuk masuk ke perguruan tinggi.
Sampai ke perguruan tinggi semuanya sedikit membaik. Meski namanya di ubah menjadi Dewa untuk menyamarkan bahwa sebenarnya ia bukanlah seorang wanita. Semua temannya tidak ada yang mengetahui bahwa ia adalah seorang perempuan. Waktunya lebih sering di habiskan bersama teman-teman kampusnya. Diko, Bagas, dan Farhan. Itulah nama teman dekatnya sekarang. Mereka sering bersama-sama  mendaki gunung dan berkemah. Namun demikian ada sedikit rasa syukur bahwa ketika di kampus ia di pertemukan Allah dengan teman laki-laki yang merupakan mahasiswa teladan yang mementingkan intelektual, hidup dengan organisasi, menjauhi dunia bebas, tidak perokok, dan memiliki jiwa social yang tinggi. Sehingga ketika di kampus ia benar-benar belajar, nilainya pun bagus-bagus di setiap semesternya. Ia berhenti merokok karena dorongan teman-temannya. Ibu si ateu menjadi sangat senang dengan perubahan sikapnya. Ketika waktu libur ia menjadi sering berdiam di rumah bersama sang ibu. Walaupun sang ibu tahu bahwa putrinya masih juga belum berubah menjadi wanita normal yang sejak dahulu di impikannya. Paling tidak ia sudah tumbuh menjadi manusia normal.
Si ateu semakin bersemangat menyelesaikan kuliahnya. Si Ateu mulai merangkai cita cita tinggi untuk juga dapat bersama-sama dengan temannya melanjutkan S2 nya keluar negeri. Ia seolah-olah tak bisa di pisahkan oleh ke tiga teman laki-lakinya itu. Begitu juga teman-temannya. Si Ateu di kenal sebagai teman yang memiliki jiwa sahabat yang sangat perhatian, setia, dan selalu membantu ketika dalam kondisi sulit.
Hingga akhirnya masa-masa skripsi untuk jenjang S1 mereka pun tiba. Fikiran mereka di tuntut focus pada skripsi yang mereka buat. Mereka saling bahu membahu membantu sesama mereka. Agar dapat lulus secara bersama-sama dengan nilai yang bagus pula. Mereka semakin dekat dan tak terpisahkan.
Dua bulan berjalan skripsi mereka pun selesai, sidang meja hijau di lewati dengan sempurna. Hanya saja ada satu permasalahan yang sangat menjanggal kelulusan si Ateu. Ia terjanggal masalah administrasi kelulusan oleh pihak biro. Teman-temannya bertanya-tanya mengapa dan apa penyebabnya. Si Ateu sama sekali tidak berani menceritakan persoalannya kepada sahabat-sahabatnya itu. Ia merasa takut kehilangan mereka jika ia berkata jujur.
Namun sahabat-sahabatnya tidak tinggal diam. Mereka terus mencari cara untuk mengetahui duduk permasalahan yang di timpa si ateu. Oh ateu yang malang. Teman-temannya mengetahui bahwa ia bukanlah seorang laki-laki dari pihak kampus bukan dari mulutnya sendiri. Alangkah murka teman-temannya mendengar kabar itu. Mereka berarti hidup bersama seorang lesbiyan dari tahun ke tahun. Namun si ateu tidak dapat berkata apa-apa. Karena ini merupakan kenyataan yang tak terelakkan. Ia hanya menyampaikan maaf kepada temannya dan menceritakan kisah hidupnya sejak kecil hingga sampai seperti sekarang ini. Ia sudah sangat siap jika akhirnya teman-temannya meninggalkannya.
Teman-temannya merasa tertipu sekaligus sedih dengan pengakuannya itu. Di satu sisi mereka benci dengan sifat dusta si ateu sejak lama. Namun di sisi lain si ateu adalah sahabat dekat mereka yang sudah menghabiskan waktu bersama sejak empat tahun di bangku kuliah. Dengan alasan persahabatan pun pada akhirnya mereka memaafkan si ateu. Dan dengan sepenuh hati membantu si ateu menyelesaikan permasalahan yang mempersulit kelulusannya. Si Ateu merasa sangat senang. Ia benar-benar menjadi manusia yang beruntung.
Tidak sampai di situ saja. Setelah pengakuannya kepada sahabat-sahabatnya. Para sahabat dekatnya pun sangat mendorong si ateu untuk kembali kefitrahnya menjadi seorang wanita normal dengan busana wanita yang membalut tubuhnya. Mendengar saran ini. Si ateu marah besar. Ia hampir tidak ingin berbicara dengan semua sahabatnya itu. Ia merasa dunianya sekarang sudah sempurna dan tidak ingin ada lagi yang berubah padanya. Menjadi seorang laki-laki adalah impiannya sejak kecil.
Namun bukan sahabat namanya jika tidak bisa membujuk dan saling mempengaruhi satu sama lain. Sahabat-sahabatnya berusaha lebih keras lagi untuk dapat mengubah pola fikir si ateu. Mereka sering membeli buku-buku kewanitaan, bercerita tentang keutamaan dan kelebihan wanit sampai pada akhirnya mereka membawa seorang mahasiswi yang juga merupakan aktifis dakwah di kampus ke hadapan si ateu untuk bisa berkomunikasi dan  member pengertian kepadanya.
Atas dorongan dan seluruh kerja keras sahabat-sahabatnya. Akhirnya si ateu mau bertemu dengan mahasiswi itu, yang namanya          Nafisya. Alangkah terkejutnya si ateu ketika bertemu dengannya. Ia merasa janggal dan asing. Nafisya mulai membuka obrolan dengan keramah tamahannya. Bertanya dengan kelembutnya. Sampai kepada hal hal sensitive tentang prinsip si ateu pun berhasil di ketahui dengan suasana ngobrol yang ringan dan santai. Hingga akhirnya si ateu merasa nyaman dan bahagia bertemu dengan Nafisya.
Seminggu berlalu. Intensitas pertemuan antara si ateu dengan sahabat laki-lakinya pun mulai berkuarang. Karena si ateu menerima saran dari Nafisya bahwa antara laki-laki dan perempuan itu jika belum terikat dalam satu jalinan perkawinan atau muhrim di larang untuk sering-sering berinterksi. “harus di batasi ya ateu” gitu katanya. Lagi pula sahabat-sahabatnya juga sangat mengerti dengan itu bahkan mereka sangat senang bahwa akhirnya teman dekat mereka bisa kembali ke fitrahnya.
Si ateu mulai memperbaiki dirinya. Mulai memperbaiki busasanya, tutur katanya, kebiasaannya, sambil terus di dampingi oleh Nafisya ia mulai belajar mengenal Sang Khalik. Ia belajar mengaji dari dasar. Ia minta di panggil Ateu aja oleh semuanya gak mau di panggil dewa lagi. Karena masih merupakan bagian dari nama panjangnya Athena Dewi. Bahagia bukan kepalang sang ibu dan keluarganya melihat seluruh perubahan yang di alami putri satu-satunya itu. Impiannya memiliki seorang putri yang shalehah akan segera terwujud fikirnya. Ibunya jadi sering membelikannya baju baju muslimah dengan berbagai model untuk di kenakannya sehari-hari.
Hari pengukuhan gelar Sarjana pun tiba. Si ateu ingin sekali memberikan sebuah kejutan kepada seluruh sahabat-sahabatnya dengan perubahan yang di alaminya. Serasa tak sabar bertemu dengan semua sahabatnya.
Hari itu ia memakai gaun kebaya yang di desain oleh ibunya sendiri. Dengan balutan jilbab penuh kreasi yang di kombinasikan dengan beberapa aksesoris di atasnya. Ia pergi bersama seluruh anggota keluarganya dan juga Nafisya yang sekarang menjadi teman dekatnya. Mereka semua ingin menyaksikan pengukuhan gelar S1 nya si ateu. Wanita subhanallah.
Ketika sampai di gedung. Si ateu merasa gemetaran. Ia takut di ledekin oleh semua teman-temannya dengan penampilan barunya itu. Namun Nafisya selalu menguatkannya bahwa tidak mungkin ada yang kenal dengan penampilan barunya itu. Ya ternyata memang benar tidak ada yang kenal dengannya. Terbukti saat ia menyapa sahabat-sahabt dekatnya. Mereka saja sampai pangling.
 “Diko… Bagas… Farhan… apa kabarnya semua sahabatku? Aku rindu kalian. ” itu sapanya si ateu kepada sahabatnya.
“Maaf ukhti… kamunya itu siapa ya. Kayaknya kami belum pernah lihat sebelunya di kampus” Jawab Diko dengan terheran heran.
“WaH…yang benar saja ,.. masak kalian tidak mengenali suara ku” jawab si Ateu.

Temannya Diko, Bagas dan Farhan hanya menggelengkan kepala saja. Menandakan bahwa mereka sama sekali tidak tanda.
Tak lama kemudian Nafisya dan seluruh keluarga pun menghampirinya. Setelah berdiri berdampingan temannya bisa langsung mengetahui siapa wanita di baliik busana indah berwarna coklat keemasan itu.
“Dewa” serempak mereka menjeritkan namanya
“Bukan. Aku Ateu kok bukan Dewa” jawab Ateu dengan ekspresi datar tanpa rasa bersalah.
“hah… ini dewa, yakin deh aku kalau ini dewa ya kan, kamu mau bohongi kita lagi ya” jawab Diko penuh penasaran.
“ hehehe… ateu. sekarang namanya ateu bukan dewa lagi ya teman teman, Ingat ya Ateu” jawab ateu sambbil tertawa
Semuanya pun larut dalam tawa dan rasa syukur. Teman-temannya berhasil tertipu dengan penampilan barunya. Mereka sangat bersyukur akhirnya ateu teman dekat mereka bisa kembali menjadi wanita normal. Bahkan sangat anggun. Tutur bahasanya semakin lembut, gerak jalan dan bahas tubuhnya begitu anggun. Subhanallah.
Dari pertemuan itu ateu berterima kasih kepada seluruh sahabatnya karena begitu sangat peduli pada dirinya. Kepada Nafisya yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Belakangan di ketahui bahwa Nafisya merupakan gadis pilihan Farhan yang akan di jadikannya Istri dua bulan lagi. Wah bukan kepalang terkejutnya Ateu mendengarkan kabar tersebut. Mengapa tidak ada yang memberitahunya. Ternyata bukan hanya dia yang tidak tahu tentang hal itu. Semua teman-temannya Diko dan juga Bagas juga tidak mengetahui tentang hal itu. Farhan dan Nafisya sengaja merahasiakannya kepada mereka semua karena ingin memberikan sure prize di hari pernikahannya. Eh ternyata rahasia itu lebih dulu terbongkar sebelum hari pernikahan mereka.
“Senang sekali rasanya punya suami sholeh, pintar, jutawan seperti Farhan.” Batin ateu berkata
Mengapa tidak. Farhan yang terkenal ketua Organisasi Islam se Kampus. Ia juga punya usaha sampingan di bidang Propertis bersama ayahnya dan selalu memiliki IPK tinggi di kampus. Ternyata naluri kewanitaan ateu masih befungsi dngan baik. Dan ia juga menyadari bahwa Nafisya juga memang snagat pantas dengan Farhan. Sosok wanita yang sangat di impikan oleh seluruh laki-laki seluruh dunia mungkin. Cantik, berbudi luhur, tulus, sholehah, pintar, dan punya warung nasi kecil-kecilan di depan rumahnya yang merupakan apresiasi dari hobi memasaknya.
Batin Ateu menginginkan ia bisa seperti Nafisya nantinya. Subahanallah.
Acara Wisuda pun berakhir dengan suka cita. Keempat sahabat itu pun berkomitmen untuk bersama sama melanjutkan S2 nya. Namun tidak jadi di luar negeri mengingat Farhan yang akan menjadi suami atas Nafisya. Mereka akan tetap belajar di kampus yang sama dan bersama sama lagi.

Masa libur pasca wisuda pun tiba. Ateu mengisinya dengan pergi dari satu majelis ke majelis lainnya untuk memperdalam pengetahuannya tentang islam. Ia benar-benar bertekad ingin menjadi seperti Nafisya.Teman teman yang lain juga punya kesibukan yang berbeda-beda. Farhan mempersiapkan pernikahannya yang tidak berjangka lama lagi. Bagas bekerja membantu perusahaan ayahnya sekaligus menambah pengalaman bekerjanya. Namun ada yang berbeda pada Diko, ia bekerja di sebuah perusahaan dan berniat ingin menabung sebanyak banyaknya untuk melamar calon istrinya. Ateu terheran mendengar kabar dari Diko, ternyata teman nya satu ini diam-diam memiliki wanita pujaan tanpa sepengetahuannya. Ketika di tanya ia selalu mejawab. “Baru beberapa waktu ini aku menemukan seorang wanita yang memikat hatiku dan aku akan bekerja sangat keras untuk mengumpulkan biaya pernikahan ku dengannya. Aku ingin semuanya aku sendiri yang menyiapkannya dengan uang saku ku sendiri tidak di bantu oleh keluargaku”
Ateu memang sangat menghargai prinsip hidup yang begitu kuat di pegang oleh Diko. Sedari kuliah ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan atas usaha kerasnya sendiri. Padahal orang tuanya terkenal kaya dan memiliki semua. Tapi ia tidak pernah manja dan bermalas-malasan dengan semua yang di miliki oleh orang tuanya itu.
….
Singkat cerita dua tahunpun berlalu. Si Ateu, Diko , Farhan dan Bagas pun berhasil bersama-sama menyelesaikan S2 nya. Si Ateu menjadi Dosen tetap di kampus tempat ia belajar dulu. Farhan dan Nafisya memiliki seorang anak laki yang di bei nama Fathrurrahman. Farhan masih terus bekerja mengembangkan bisnis properties nya. Bagas bekerja bersama ayahnya untuk terus mengembangkan perusahaan bersama. Dan Diko telah menjadi pengusaha atas usaha yang di rintisnya sejak kuliahdulu. Alhamdulillah Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan.
Namun di antara kami semua yang sudah menikah hanya farhan saja. Tiga diantara yang lainnya masih betah hidup melajang. Kalau Ateu karena belum ada sang pangeran yang datang dan menemui walinya. Tentang Bagas, ia sudah memiliki tunangan yang akan di nikahinya selepas sang gadis lulus kuliah. Dan kalau Diko ia selalu bercerita bahwa akan meminang wanita idamannya dalam waktu dekat ini. Kami selalu tertawa terbahak-bahak jika ia sudah mulai bercerita tentang wanita itu. Karena tidak pernah sekalipun ia dapat menghadirkan wanita itu di hadapan kami semua. Sehingga terkesan hanya bualan saja. Tapi pribadi Ateu sendiri mempercayai bahwa wanita idaman itu memang ada karena tak pernah Ateu melihat Diko bekerja sesemangat ini karena hanya untuk melamar gadis impiannya itu.
Sabtu malam setelah seminggu pengukuhan gelar master S2 mereka. Ateu mengadakan acara hajatan di rumahnya dan mengundang seluruh anggota keluarga sahabatnya itu. Termasuk ibu, bapak, istri, adik , kakak keempat sahabatnya itu. Karena ia ingin mereka menjadi bagian dari keluarganya juga. Seluruh anggota keluarga sahabatnya pun menerima undangan Ateu dengan antusias. Mereka jadi benar benar akrab dan sangat bersahabat. Empat keluarga yang di satukan oleh sebuah tali persahabatan empat manusia penuh cinta. Begitu sangat harmonis di pandang mata.
…………..
Sampai pada suatu malam hari yang tak pernah akan terlupakan oleh Ateu dalam hidupnya. Seorang lelaki berkacamata, berpakaian rapi, berwibawa bahasa tubuhnya mendatangi rumahnya untuk bertemu dengan orang tuanya. Ia berbicara penuh sopan santun, obrolan ringan tercipta ketika ia berbicara dengan ayah Ateu. Seolah sudah sering bertemu. Mungkin memang ayah Ateu sudah sangat mengenalinya. Hingga akhirnya ia mengutarakan maksud untuk mengkhitbah Ateu untuk menjadi istrinya. Ateu terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka malam itu ia akan di lamar oleh Seorang Pradiko Handoko, Pengusaha batu bara melamarnya untuk di jadikan istinya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Namun sang pengusaha pun tak ingin menjawab dengan tergesa-gesa. Berfikirlah terlebih dahulu katanya.
Seorang teman dekatnya. Yang pasti sangat mengetahui tentang masa lalunya yang kelam. Mengapa ia bisa ingin menikahinya. Satu alasan simple yang di ungkapkan Diko bahwa ia tak ingin dan tak bisa kehilangan Ateu. Setelah mengetahui ateu adalah seorang wanita. Ia merasa yakin bahwa ateu adalah wanita yang di impikannya. Ia pernah bermimpi menikah dengan seorang laki-laki yang wajahnya laki-laki tanpa mirip denga perempuan sedikitpun. Dan ia pun tidak terlalu mempersoalkan. Hingga kenyataan terpapar di hadapannya. Bahwa ia memiliki seorang teman wanita yang berwujudkan laki-laki. Apakah ini pertanda. Ia pun tidak gegabah. Ia berulang kali melakukan Istikharah dan ia menemukan jawaban atas nama Ateu. Sehingga ia pun langsung mulai meniatkan ingin mempersunting ateu dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Oleh sebab itu lah dia bekerja mati matian selama 2 tahun lamanya. Sehingga menimbulkan hasil yang memuaskan.Sekarang ia sudah sangat merasa yakin sekali akan menikahkan ateu dengan semua perubahan dlam diri ateu. Ateu seperti penjelmaan nafisya. Hanya saja dia bukan pengusaha makanan tapi seorang Dosen.
Ateu pun tidak punya alasan yang kuat untuk menolak Diko yang merupakan teman dekatnya. Meski memang tidak pernah menyimpan rasa cinta dalam hatinya. Ia yakin setelah menikah rasa itu akan tumbuh subur dengan sendiriinya. Mengingat Diko adalah teman dekatnya yang juga di sayanginya. Mereka menggelarkan resepsi pernikahan sevara sederhanay yang hanya di hadiri oleh sanak saudara dan keluarga terdekat saja.
Selepas menikah mereka melanjutkan rutinitas mereka seperti biasa. Ateu tetap mengajar di kampusnya. Dan Diko terus eksis di bidang usahanya.
Sampai akhirnya ateu bertemu dengan wanita mungil berkacamata yang merupakan tetangga dekatnya yang juga merupakan mahasiswi di kampusnya.
Ketika si gadis mungil kacamata bertanya apa alasan atau penyebab si ateu masuk kedalam lubang kenistaan itu. Si ateu hanya menjawab dengan senyum tipis dan kata singkat, yaitu keadilan dan pemikiran anak kecil yang bodoh.  Si ateu kecil merasa dirinya di perlakukan tidak adil oleh orang tuanya. Dia menganggap kakak kakanya mendapatkan semua kebebasan sementara ia hanya boleh di rumah saja menemani ibunya. Namun Ateu tetap bersyukur dengan semua yang telah di gariskan Allah dalam hidupnya. Inilah jalannya agar ia dapat terus dekat dengan Allah SWT.
………………….
Heum,,, si gadis mungil berkacamata inipun jadi melamun. Ia tak sadar bahwa angkutan umum yang di naiki oleh nya telah menghantarkan ia tepat di tempat kerjanya. Ia manyampaikan salam perpisahan pada Ateu yang duduk di ujung angkutan umum itu.

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisa si Ateu ini. Wanita yang dahulunya berada pada jurang kenistaan pada akhirnya di angkat Allah derajatnya menjadi wanita Shalehah yang hidupnya di penuhi oleh kebhagiaan.
Tidak ada yang tidak mungkin jika Ia sudah berkendak “Kun faya kun” Allahuakbar.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,