PUISI DARI AYAH GURU

Tak terasa sudah hampir 3 tahun aku meninggalkan Sekolah Unggul ku, Putih Abu-abu ku, Asramaku, Guru-guru Hebatku, Laskar Pelangi ku dan Seluruh Aktivitas dan Rutinitas ku sebagai seorang siswa di sebuah Sekolah Unggulan di Kabupaten tempat aku tinggal Aeh Timur.
Setitik air mata mengalir ketika melihat semua kenangan ini. melihat buku-buku tulis, daftar pelajaran, dan yang paling membuat ku ingin terisak-isak adalah kumpulan Soal-soal olimpiade Biologi dari mulai kelas 1 sd 3 SMA. Subhanallah. Nurani ku tiba-tiba merasa memuji perjuangan ku 2 tahun  di unggul. Tak sia-sia aku belajar di sekolah itu. Alhamdulillah ya Allah engkau telah mentakdirkanku bisa mengenyam pendidikan di sekolah elit itu.

Bermula dari sebuah ketidak sengajaan aku berpartisipasi dan mengajukan diri pada sebuah beasiswa yang kuanggap itu mungkin hanya iseng belaka, karena setelah enam bulan aku mengajukan diri tiada keputusan aku akan bisa masuk ke sekolah itu. Tapi tanpa disadari akhirnya aku bisa juga keterima di sekolah itu dan meninggalkan sekolah lama ku SMAN 1 Ranto Peureulak.

Sungguh bukan hal mudah sekolah dan tinggal di asrama. jauh dari orang tua. harus mengurusi semua keperluan hidup sendirian. Namun demikian kurasa inilah cari Allah  mengajari ku agar hidup mandiri.

Ketika duduk di bangku kelas XI IPA 1, aku mendapat rejeki oleh Allah ntuk mengikuti Olimpiade Biologi Tingkat SMA. Aku pun sangat antusias mengikutinya. Di dampingi oleh seorang guru Pembimbing mapel Biologi yang hebat Pak Nurdin S.Pd dan seorang adik kelasku Riski Phonna yang sangat cerdas, aku merasa sangat beruntung karena tim biologi merupakan tim yang sangat solid kurasa. setiap sore selepas pulang sekolah kami melanjutkan persiapan lomba kami dengan diskusi dan membahas soal demi soal dari beberapa kalangan. namun sebelumnya Babe, sapaan akrab Pak Nurdin dikalangan siswa/i selalu memberikan wejangan sebagai pemompa semangat kami.

Hingga kahirnya hari yang kami nanti nanti bersama Phonna pun tiba, kami tampil dengan penuh rasa percaya diri di Olimpiade Biologi seleksi Tkt Upt, dan dengan kepercayaan diri yang penuh juga kami berdua aku dan phonna berhasil lanjut ke tingkat Kabupaten,. kami pun semakin bersemangat belajar untuk persiapan tkt kabupaten semua buku yang berbau biologi kami lahap semua, tanpa terkecuali meski level bukunya juga punya mahasiswa bukan halangan bagi kami untuk tidak mebahas nya. dan jika ada persoalan yang tidak bisa kami pecahkan kami langsung menanyakannya kepada Ayah Guru kami, Pak Nurdin. Ku katakan Ayah Guru karena bagi ku ia merupakan ayah plus guru plus motivasi dan plus plus yang lainnya deh pokoknya. Semoga Allah selalu memberikan kesuksesan baginya. selain aku dan Phonna juga ada banyak teman dari sekolah  kami yang juga lulus seleksi tkt Upt dan memantaskan diri untuk bertaruh di tkt Kabupaten.

Olimpiade Biologi Tkt SMA SeKabupaten Aceh Timur pun di gelar di sekolah kami. sekolah kami yang menjadi Tuan Rumah. karena sekolah kami lah yang memiliki peserta terbanyak untuk tkt kabupaten ini.
Akupun menyelesaikan soal demi soal dengan sangat hati hati dan optimis, meski kurasa soal-soal itu sangatlah sulit untuk tkt sma aku harus tetap optimis,
Seminggu kemudian, Pengumuman Kelulusan untuk tkt Provinsi pun di umumkan,,...Dan yha dengan sangat ..Sangat,..Menyesal aku harus mengatakan bahwa aku tidak terpilih sebagai kandidat Peserta Tkt Provinsi, Tapi hanya Phona lah adikku itu yang terpilih untuk mengikuti lomba olimpiade tkt provinsi. Sedih dan sungguh sangat malang fikiranku. kenapa??? adik kelasku yang bisa lulus kenapa aku tidak. dan tak ku sangka fisik ku pun tak menerima kegagalan ini. jujur aku malu, aku demam selama seminggu. namun itu tidak serta merta membuat aku libur sekolah. aku tetap sekolah seperti biasa karena aku tidak ingin semua orang tau bahwa aku kalah dan bahwa aku lemah. meski memang hati ini penuh kemalangan. 
namun dia Ayah Guru seolah tahu apa yang kurasakan. ia pun menasehati ku bahwa sebenarnya tidak ada yang kalah dan menang yang ada hanya keberuntungan . mungkin allah merencanakan hal lain untukku. dan akupun berusaha bangkit dan aku harus bisa menjadi Tim Sukses Phonna agar dia bisa Juara di tingkat Nasional. :)
Inilah kisah cerita ttg Ayah Guru dan Biologiku. Dari saat itu Biologi menjadi Hidup dan Hobiku. Meski akhirnya aku mengambil jurusan Matematika ketika aku belajar di Perguruan Tinggi , Namun tak menyurutkan minat ku terhadap biologi ku,... dan Ayah Guru pernah membuat sebuah Puisi yang kata sahabat Laskar Pelangi ku, Muhammad Muntasir terinspirasi dari kegagalan ku.
Kenangan indah dari Ayah Guru.....
Berikut Puisi nya

SANG PENYAKSI
karya :Babe Aban
Hening malam,
Wajah lelah kelam,
Tatap sedihnya menerawang,
Keujung bintang, ke angkasa luar nan luas menjulang,
Mengapa masih saja kelam yang membungkus pilu…
                Jarum jam berdetak pelan,
                Di tengah perjalanan masih ku lihat ia merenung,
Menyapa kegagalan yang melintas lugas,
Sesal demi sesal mengisi waktu
Mengapa jalan ini menggoda pilu.
Malam, kelam, duka, pilu, gelap…
Lelah, letih, dan malu,
Biarlah mereka berlalu bersama malam,
Di dalam gelapnya, bersama heningnya, diiringi detaknya…
                Cahaya,
                Bukankah mentari masih setia
Hamparkan sinarnya pada seisi dunia,
Tiada pernah memilih…
Sisenang-simenang, sikaya-sipapa atau si pecundang
Siapapun kita…merasa sinarnya kita terima jua
Duhai,,,
Dialah pemilik segala-galanya,
Pengatur tiap getaran atom di jagad raya,
Inilah ketentuannya…niscaya kelak kita temukan hikmahnya
                Wahai…
                Siang teramat panjanglah lagi,
Terlalu banyak kesempatanlah pula diberiNya…
Segalanya masih terbuka untuk di raih,
Bagi yang mengerti jalan rahasia Illahi…
Bagi sang penyaksi,
Ada harap nan ingin ,
Ada mau dalam pinta,
Bukan kata rupa bahasa,
Jangan berputus asa dari rahmat-Nya
                Bangunlah,
                Meski malam pasti kan datang,
                Karena esok pun segera menjemput,
Dengan harapan perjuangan yang baru
Birem Bayeun, 4 Juni 2009,
aku dan Phonna ketika hari Wisuda SMA 2010




Phonna


yang di atas ini Ayah Guru dan teman2




 yang ini nie "Laskar Pelangi" Q...
             
Aku yang sedang presentasi bioloogi ketika pak Kadis dtg,... Subhanallah grogi euyyy...

Komentar

  1. Mengalir alamiah seperti hujan yang turun dari bukit sawit menuju parit yang membelah halaman sekolah kita. puisi itu benar, memang terinspirasi dari ruang kelas kita,
    Haru dan bangga, Fajriah bisa menyajikannya kembali di blog yang cantik ini. Semoga sukses bersama Matematika nya, meskipun sejarah telah buktikan bahwa belum ada Lasykar Unggul yang menguasai Biologi sesempurna Fajriah.
    Doa kami menyertai Fajriah, dari Babe, Enyak, dan dek Aban.

    BalasHapus
  2. wah babe,,.. tetap akan selalu di simpan meski kertas yang aslinya sudah berubah warna menjadi agak2 putih beras... selalu jadi motivasi babe,..
    biologi nya selalu menjadi pengalaman terindah...

    salam kangen juga buat babe , nyak sama dek aban..
    Kepingin bisa silaturhim tapi mungkin Allah belum meberi kan langkah babe. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,