Kakak Kau Pasti Sangat Kuat


Bismillahirrahmanirrahim

Di Malam Sepi yang hanya meninggalkan aku senidiran di kamar sempit yang hanya menyediakan keperluan tidur yang standard dan terbatas. Sesekali terdengar suara hiasan malam dari seekor jangkrik malam dan beberapa kali suara kucing yang mungkin sedang berebut jatah makanan dengan beberapa kucing yang lainnya.
Dari kejauhan sayup sayup hanya terdengar suara lantunan Surat Al-Buruj yang di lantunkan indah oleh sang Qori yang berada dalam rekaman MP3 sebuah Laptop. Hanya saya. Sendirian dalam sepi tengah malam, dalam sebuah kamar sempit sebagai markas tempat semua cita di rangkai, tempat semua awal rencana-rencana gila yang terkadang di luar control. Tapi tetap inilah saya. Sang perantau yang sudah kurang lebih tiga tahun merantau di sebuah kota yang ingin menjadi Metropolitan Seperti sang Ibu Kota. Tak hanya sekali dua kali saya merasakan kesepian di tengah malam kelam Kota Besar. Mungkin inilah Episode Hidup yang sedang saya lakoni. Tetap Berpositif Thinking dengan Ilahi.

Di tengah kesepian malam, satu harapan besar yang tak kunjung bisa di lakukan adalah memejamkan mata agar bisa tertidur. Rasanya sangat susah di lakukan. Hah malangnya diri ini. Andai saja saat ini ada ibu, ayah, dan kakak. Saya pasti tidak akan kesepian seperti ini. Saya jadi sangat merindukan mereka. Ya Allah Jaga mereka semua dengan cintamu.
Kakak, Iya tiba-tiba saya jadi teringat kisah hidup dan cintanya kakak ku yang sampai sekarang belum juga menemukan jodohnya. Dengan usia yang semakin menua ia semakin gelisah dengan nasib yang menimpanya. Kami sekeluarga juga merasakan kesedihan itu. Rasa gundahnya, sakit hati yang berulang-ulang ia rasakan Karena ulah jahilnya para lelaki yang tidak memiliki hati nurani.  Oh malangnya nasib kakak ku.
Bermula dari sebuah prinsip mulia yang di emban kakak ku ketika memasuki usia dewasa awal. Ia tidak pernah menginginkan pacaran. Yang ia inginkan adalah satu orang yang serius dan langsung melamarnya. Ia tidak pernah memikirkan siapa orang yang akan menjadi pendampingnya nanti. Di masa dewasa awalnya ia hanya terfokus pada pekerjaannya, karena ia sangat yakin bahwa Allah sudah mempersiapkan jodoh terbaik untuknya kelak. Tanpa harus mencarinya. Mungkin inilah yang kurang tepat. Kita tetap harus mengusahakannya yang pasti.
Jika di Tanya criteria pasangan. Kakak ku bukanlah orang yang neko-neko. Sampai sampai ia tidak pernah mempunyai criteria khusus pasangannya. Jika di Tanya perihal itu dengan cueknya ia hanya menjawab yang penting bisa nerimaku apa adanya bukan ada apanya. Itulah kakak ku.

Ketika memasuki usia dua puluh lima tahun. Barulah ia merasakan hal yang begitu berat yang harus ia alami. Ia harus menjawab semua gosipan dan pertanyaan yang menjatuhkan harga dirinya dari lingkungan sekitar tentang usia  nya yang belumm juga memiliki suami. Dan pada akhirnya pada usia itulah ia mulai membuka diri dan mulai berusaha menargetkan menikah secepat-cepatnya. Ah memang kakak ku bukanlah wanita yang buruk di mata lelaki. Banyak lelaki yang mendekatinya. Satu persatu dekat. Tapi kakak ku hanya menerima jika mereka memang berani berkomikmen. Eh inilah lelaki terkadang kata katanya tidak bisa di pegang. Mereka gombal, suka membolak balikkan janji

Kakak ku masih belum juga menemukan calon suami nya di usia nya yang sudah beranjak tiga puluh tahun. Semua cara telah di cobanya. Sampai bertanya kepada san Muabbi pun telah di cobanya. Oh kakak ku kisahnya seperti pemeran Zahrana dalam Film “Cinta Suci Zharana”
Satu hal yang menjadi harapan terbesarku bahwa kakak ku bisa tetap bersemant dan tetap ikhl menjalani nasibnya dan tak pernah sedikitpun berprasangka buruk kepada sang ilahi atas nasip yang di jalaninya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,