Diraih Tapi Ingin Di Lepas
Benar adanya yang di katakan banyak orang.
Benda jika belum di raih terlihat bagus di pandang dan memiliki hasrat yang tinggi untuk memilikinya.
Tapi jika benda itu sudah dimiliki.
Maka lain lagi ceritanya, muncul berbagai keluhan dan kekurangan dimana-mana.
Wahai dunia yang penuh Fatamorgana. Begitu melenakan, banyak manusia yang tergoda dan terhasut masuk ke dalam pesonanya yang sementara. Hingga melupakan hakikat hidup di dunia sebagai lahan menabung bekal akhirat.
"Pernahkah kau mengalami keadaan dimana dulu kau pernah memimpikan sebuah cita-cita. Tetapi sekarang saat cita-cita tersebut telah kau raih dan kau dapatkan yang ada hanya keluhan, rasa kurang, bahkan ingin meninggalkannya dan memimpikan cita-cita lain"
Tak semua orang dikaruniakan pekerjaan yang baik, gaji yang cukup, dan rekan kerja yang kompak. Didalamnya kau di serukan syiar islam, di kenalkan tentang makna hijrah, di ajari mencintai penciptanya dan juga pastinya dikenalkan ilmu tentang pekerjaan tersebut mulai dari dasar hingga ke praktik kerjanya. Subhanallah. Mungkin itu adalah pekerjaan yang di impikan oleh semua orang.
Tak banyak profesi yang bisa mendapatkan bekal ilmu islam disamping kewajiban kerja. Misalkan saja profesi guru PNS di sekolah. Memang mereka memiliki profesi yang mulia yaitu sebagai perantara ilmu bagi siswanya. Tetapi dalam hal bekal ilmu agama ataupun siraman rohani. Itu semua pastinya harus mereka usahakan sendiri dan pastinya bukan merupakan sebuah fasilitas yang disediakan oleh perusahaan atau tempat dia bekerja. Lain halnya dengan pekerjaan yang kusebutkan diawal tadi.
Perkenalkan aku adalah seorang gadis penyuka fajar, pencinta pemandangan sawah dan memiliki hobi menonton film malaysia. Hubungannya dengan alinea diatas apa ya.. Mari kita lanjutkan..
Aku ditakdirkan sebagai seorang guru matematika di sebuah sekolah favorit di kabupaten kami. Hadir sebagai seorang guru baru dengan pengalaman kuliah sambil kerja di sebuah kampus swasta membuatku merasa kerdil diantara mereka para guru hebat seniorku. Namun disamping itu hati kecil ini merasa bahagia karena semua hal tersebut menjadikanku semangat belajar dan mencoba hal baru. ya meskipun belum maksimal dan terkadang seringnya hanya sebagai sebuah rencana yang belum tentu kapan bisa terealisasinya. Tapi aku tetap bersemangat dan aku yakin banyak hal yang baik yang bisa kudapatkan disini.
Sebelumnya aku ingin menjelaskan bahwasanya aku telah bekerja di kota Medan sejak tahun 2010 dan pada tahun 2012 aku diberi izin oleh atasanku untuk menyambung kuliah sambil bekerja. Dan akhirnya atas kasih sayang Allah pada akhir tahun 2016 aku berhasil menyelesaikan studi S-1 ku dengan statusku yang masih juga sebagai seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan islami. Pada tahun 2017, tepatnya saat bulan Ramadhan Allah mentakdirkanku pulang kampung dan dimutasikan kerja di cabang perusahaan yang tempatnya lumayan dekat dari rumah kedua orangtuaku. Aku jadi sering pulang kampung dan melihat orang tuaku Alhamdulillah
Teringat dahulu, pada tahun 2016 setelah wisuda aku menginginkan sebuah hal yang dahulu sangat tidak mungkin bisa kuraih. Saat itu sebagai seorang karyawan yang kerjanya selalu masuk siang jam 12 siang, aku sangat menginginkan kerja sampingan sebagai seorang guru di Medan agar ilmu sebagai guru yang telah kudapat saat kuliah bisa direalisasikan dan bermanfaat. Atas dasar keinginan tersebut bukan sekali atau dua kali aku melamar pekerjaan sebagai guru di sekolah swasta ataupun negeri kota Medan. Bahkan berpuluh-puluh kali aku mondar mandir sekolah negeri untuk melamar sebagai guru disana. Namun qadarullah Allah belum memberi jalan untukku menjadi guru. Akhirnya aku putus asa dan mulai melupakan cita-cita ku itu. Kujalani hari-hariku fokus sebagai seorang karyawan dan mengerjakan jobdesku dengan sebaik-baiknya.
Kemudian Allah dengan kuasanya mentakdirkan hal yang tak pernah kusangkakan sebelumnya. Seperti yang telah kusebutkan di atas pada pertengahan tahun 2017 aku ditugaskan di cabang perusahaan yang dekat dengan kampung halamanku dengan tugas yang baru lebih tinggi dari tugasku sebelumnya.Hari demi hari kujalani sebagai seorang karyawan. hingga pada suatu ketika aku bertemu dengan guru SMA ku yang saat ini telah menjadi kepala sekolah SMK. Babe Nurdin namanya. Guru sekaligus sosok yang sudah kuanggap orang tua. Siapa sangka, atas pertemuan itu Allah bukakan jalan bagiku atas cita-citaku yang pernah kulupakan di tahun 2016 lalu.
Pada tahun ajaran baru di tahun 2017 aku di tawarkan untuk mengajar di sekolah SMK tersebut. Dan kisah barupun dimulai. Hey.. sekali lagi aku ingin katakan dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan bahwa cita-cita ku terwujud guys.. Mengajar sambil Bekerja.
Awal mula aku di tugaskan mengajar di empat kelas yang berbeda jurusan, dengan penuh antusias dan sedikit susah payah aku berusaha keras untuk bisa membagi shift dan waktu kerja antara sekolah dan toko tempatku berjualan. Selanjutnya di semester depannya aku hanya mendapat jam mengajar di satu kelas, wah itu menjadi hal yang tidak terlalu ribet bagiku karena ada hari libur setiap seminggu sekali. Tapi lama kelamaan aku mendapatkan jatah kelas yang semakin banyak dan saat ini kurang lebih aku ditugaskan mengajar dalam enam kelas jurusan yang berbeda. Aku bingung harus mengucapkan Alhamdulillah ataupun Astaghfirullah.
Benar saja dugaanku. Saat ini adalah saat yang paling tidak nyaman bagiku. Dimana saat jam mengajar semakin banyak, waktu disekolahpun semakin banyak dan pada akhirnya banyak sekali pekerjaan dan tanggung jawab di toko terabaikan olehku. Wah hidup mengantarkan ku pada keadaan harus memilih diantara dua hal yang baik menurutku.
Satu persatu surat teguran dari atasanku hadir dihadapanku. Dan dengan alasan yang sama yaitu indisipliner. Benar saja aku sering terlambat masuk kerja karena waktu pulang sekolah lebih lama dari biasanya. Disekolahpun aku merasa bersalah jika pulang lebih awal sementara kewajibanku belum tuntas ku selesaikan. hey... aku bagaikan punya dua orang kekasih dan salah satunya menjadi selingkuhan bagiku. Aku harus adil dengan keduanya. Walupun aku tidak menyangkal bahwa hati ini cenderung pada satu.
Dalam rasa galau yang tiada tara aku memberanikan konsultasi dengan orang tuaku prihal ini. Tapi satu jawaban mereka bahwa aku harus bertahan dan bersabar atas keadaan ini. Bahwa kedua pekerjaan itu mulia dan keduanya harus tetap dikerjakan. Tidak boleh ada yang diabaikan salah satunya. Wah kalau gini ceritanya aku seperti seorang suami beristri dua jadinya. Harus adil dengan keduanya.
Entahlah ..
Kalau boleh memilih aku tak ingin merasakan kondisi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi ini adalah jawaban doa ku di tahun 2016 lalu. Mau tidak mau aku harus tetap tegar menjalaninya.
Aku tidak boleh mengeluh bahkan aku wajib bersyukur karena Allah telah mengabulkan doaku.
tentangku akan bagaimana endingnya dengan persoalan pelik ini. Aku pun tak bisa merumuskan jawaban atas hal ini. Aku hanya bisa berusah keras memaksimalkan apa apa yang ku bisa untuk keduanya.
Mungkin ini cara Allah untuk menjadikan aku wanita hebat
karena wanita hebat itu adalah...
"wanita hebat melukis kekuatan melalui proses kehidupan, bersabar saat tertekan, tersenyum saat hati menangis,diam saat terhina, mempesona karena memaafkan"
Langsa, 2 Februari 2019

Komentar
Posting Komentar