Maulid Nabi Berhikmah Cinta
" Nak ibu tau kalian telah bersusah payah berlatih untuk sebuah
kemenangan.
Tapi apa daya, dalam sebuah kompetisi pasti selalu ada dua
kemungkinan, yaitu kalah dan menang.
Dan saat ini Allah telah menghadiahkan hal yang lebih berharga dari
pada sebuah kemenangan kepada kita yaitu hati yang kuat dan mental yang
tangguh. Tangguh menghadapi kekalahan dan dewasa menerima kemenangan orang
lain. Ibu bahagia sekali melihat kalian.
Meskipun belum menang, tetapi senyum manis yang ikhlas masih tetap
terpancar dari wajah kalian semua.
Tidak hanya itu nak, pada kesempatan yang sama Allah juga telah menghadiahkan kekompakan dan rasa saling memiliki diantara kita semua warga XI AK.
Tidak hanya itu nak, pada kesempatan yang sama Allah juga telah menghadiahkan kekompakan dan rasa saling memiliki diantara kita semua warga XI AK.
Sejauh ini kita jarang sekali bisa bertemu dan berkumpul diluar jam
belajar.
Apalagi dalam suasana santai dan dipenuhi canda tawa.
Alhamdulillah ibu bahagia sekali bisa berkumpul bersama kalian hari
ini.
Mungkin inilah hikmah Maulid dan ada hadiah yang Allah selipkan meski
dalam keadaan kalah sekalipun.
Maafkan ibu yang belum bisa menjadi orang tua terbaik buat kalian semua.
Maafkan ibu yang belum bisa menjadi orang tua terbaik buat kalian semua.
Dua puluh delapan siswa terbaik ibu.
Jangan sampai ada yang kurang lagi ya.. "
Sebuah kisah manis bermula dari sebuah kelas kecil di bagian sudut kanan lokasi sekolah tercinta kami SMKN Taman Fajar. Kisah manis tentang ku dan kedua puluh delapan anak-anakku. Bukan hal mudah secara tiba-tiba harus menanggung jawabi anak ketemu besar seperti mereka. Tapi Allah kirimkan kemudahan disetiap perjalananku.
Dengan segala keterbatasan pengalaman dan ilmu mendidik remaja, aku belajar mencintai dan memahami setiap karakter mereka. Sungguh yang kutemui berbeda dengan dugaan awalku. Awalnya aku merasa bahwa sebagian siswa laki-laki dikelas itu kurang kompetensi, kurang berakhlak, dan kurang antusias belajar. Meski pada akhirnya mereka tetap saja seperti itu. Tetapi paling tidak aku paham ternyata banyak hal yang melatar belakangi sikap mereka tersebut. Namun demikian mereka adalah anakku. Apapun yang terjadi aku harus tetap bersama mereka. Meski dalam segala keterbatasan aku berusaha dan belajar mencintai mereka seperti anakku sendiri
Kisah menarik ini hadir di antara kami sejak akhir januari menjelang awal faebruari 2019 ini. Kebetulan sekolah kami mengadakan perlombaan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW. Setiap kelas wajib mengirimkan perwakilannya untuk berpartisipasi didalamnya. Begitu juga dengan kelas kami. Lombanya di bagi dalam tiga bagian, yaitu cerdas cermat, MTQ Putra/i, dan Syair Asmaul Husna.
Seperti kelas lainnya, kelas kami juga tidak mau ketinggalan. Berhari-hari kami melakukan persiapan dan latihan agar bisa tampil maksimal di hari itu. Kudapati ada beberapa kali dalam seminggu anakku rela di sekolah sampai sore hari untuk latihan Asmaul Husna. Mereka begitu bersemangat. begitu juga dengan anakku yang mengikuti lomba cerdas cermat dan MTQ.
Benar kata pepatah, cinta akan hadir dengan seringnya bertemu dan bersama. Hal tersebut pula yang kurasakan. Karena sering berjumpa dan melatih mereka lomba akhirnya aku semakin memahami dan menganggap mereka jadi bagian terpenting dalam hidupku.
Tibalah saat lomba tersebut di selenggarakan. Aku berusaha membangun kepercayaan diri anak-anakku. Menang atau kalah bukan masalah yang terpenting adalah usaha yang sudah maksimal. Dan pada akhirnya, Qadarullah Allah belum menghadirkan prestasi apapun pada setiap cabang lomba yang kami ikuti.
Apa aku kecewa dengan semua itu. Tentu tidak. Aku bahkan menemukan hal lain yang lebih berharga dari sebuah kemenangan yang mungkin saja bisa mengantarkan aku dan kedua puluh delapan anakku ke jurang kesombongan. Di balik kekalahan ini. Aku menemukan cinta dan sayang kepada kedua puluh delapan anakku. Dan aku merasa menemukan keluarga baru dalam lingkungan sekolahku. Mungkin inilah hikmahnya. Bahwa Allah akan selalu menghadirkan pelangi setelah derasnya hujan. Aku tidak pernah menyesal memiliki mereka. Bahkan aku bangga bisa menjadi bagian dari mereka. Semoga di lain kesempatan anak-anakku mendapat prestasi yang lebih baik
LatePost
Langsa 5 Februari 2018

Komentar
Posting Komentar