Allah Sayang Kakak


Iyya kana' budu wa iyya kanasta'in
"Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan"

Sungguh dialah Allah dzat maha segala-galanya. Apabila mentadaburi potongan ayat surat Al Fatihah diatas mengingatkan kita bahwa manusia punya Dzat Maha Penolong yan akan menolong segala macam problema kehidupan. Baik maslaah keuangan, perkawinan, anak, sakit dan lainnya. Sebenarnya kita tidak perlu lagi merasa susah payah karena ada Allah yang maha menolong segala-Nya. Jadi seharusnya kita tidak perlu merasa susah, sedih, bahkan galau ingin bunuh diri karena tidak bisa menyelesaikan maslaah yang menghampiri. Kita cukup meyakini jaminan Allah yang telah termaktub dalam surat cintanya, yaitu Al-Qur'an dan memaksimalkan ikhtiar sekuat tenaga yang kita mampu. Tentang hal ini banyak sekali orang yang paham secara mendalam tentang teorinya., Tetapi harus lembek juga saat ujian berat ada di hadapannya. Semoga kita termasuk orang yang dikuatkan keyakinnya kepada Allah semata.

Malam ini sepertinya Allah ingin menegurku melalui sebuah kabar dari teman baikku. Aku tak menyangka tentang apa yang terjadi padanya saat ini. Andai aku berada di posisinya mungkin aku tak sekuat dia yang sekarang.

Perkenalkan dia temanku bernama Juli. Aku sering memanggilnya Kak Juli karena usianya lebih tua dua tahun dibandingkanku.  Aku telah berteman sejak delapan tahun yang lalu. Dan dua tahun belakangan sudah jarang bertemu karena aku di pindahkan ke tempat kerja yang baru yang begitu jauh jaraknya dibandingkan tempat kerja yang lalu. Awalnya kami bertemu karena berada dalam sebuah ruang lingkup perkerjaan yang sama. Pertemuan demi pertemuan menjadikan kami semakin akrab. Banyak hal yang sering kami bagi antara satu dengan yang lainnya. Hingga pada suatu hari aku dan dia berkomitmen untuk berhijrah dan saling menyemangati.

Perjalanan hijrah ini bagiku bukanlah sesuatu yang mudah. Kami sering di sepelekan, dihina bahkan di judge ingin hijrah karena ingin dapat jodoh dan ada lagi yang berpendapat kami hijrah karena baru saja diputuskan calon suami. Dan ku sadari semua itu adalah hak mereka. Semua argument dan penilaian mereka tentang kami biarlah menjadi ujian hijrah yang berhikmah indah nantinya.

Kami mulai membuka lembaran baru dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk kami dengan hal yang lebih bermanfaat. Aku dan Kak Juli belajar untuk menyempatkan diri ikut kajian malam atau sore selepas pulang kerja. Selain itu kami juga sering menjelajah satu persatu mesjid yang ada di kota Medan untuk mencari suasana baru dalam ibadah dan mendengar kajian dari ustadz sebagai penyegar iman. Aku dan Kak Juli memiliki beberapa mesjid favorit di kota Medan diantaranya Mesjid Aceh Sepakat, Mesjid Al Jihad dan Mesjid Raya. Dan ada kenangan yang paling menarik. Saat bulan Ramadhan tiba kami sering menjadi pemburu takjil gratis dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Maklum saat itu aku adalah seorang perantau yang kadang suka mencari makanan gratis agar uang makan dapat dihemat dan bisa ditabung. Menjadi hal yang spesial juga bagiku bisa berpindah-pindah tempat shalat tarawih karena setiap mesjid memiliki kekhasan tersendiri dalam memeriahkan semarak Bulan Suci Ramadhan. Ini adalah pengalaman berharga bagiku.

Selain itu kami juga mencoba memperbaiki bacaan Al Qur'an kami dengan mengikuti program belajar tahsin yang diadakan sebuah lembaga pendidikan Al Qur'an yaitu Ma'had Abu Ubaidah. Dari situ kami menemukan ilmu tentang tahsin Al-Qur'an dan menjadi lebih mencintai Al-Quran. Allahuakbar tak henti rasa syukur ku ucapkan atas kesempatan indah ini. Kau hadirkan teman yang saling membersamai dalam jalan hijrah ini. Dan Kau hadiahkan hidayah yang begitu mulia ini. Jadikan kami hamba-Mu yang istiqamah di jalan Mu di dunia sampai surga nanti.

Bagiku Kak Juli merupakan sosok gadis yang mandiri dan bersahaja. Awal pertemuan dengannya kami hanyalah seorang karyawan biasa dan ditempatkan di level bawah. Atas keuletan dan kesungguhannya saat ini Kak Juli telah menduduki jabatan Kepala Gudang Wilayah bagian Utara Sumatera yang bertanggung jawab terhadap seluruh barang di sebelas titik cabang yang tersebar mulai dari Batam sampai ujung Banda Aceh. Ia bekerja untuk menafkahi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Sehari harinya ia berangkat kerja pagi dan pulang sore. Tetapi tak jarang ia pulang hingga larut malam dikarenakan lembur atas deadline pekerjaan yang harus di selesaikan di hari itu juga.

Tahun 2017  merupakan tahun yang berat bagiku. Tahun dimana aku harus pindah dari tanah rantauku, berpisah dengan seluruh sahabat hijrahku, berpisah dengan seluruh rutinitasku, kajianku, mesjid-mesjidku dan berpisah dari dia Kak Juli. Sama halnya dengan diriku, Kak Juli pun merasakan hal yang sama. Dia begitu sedih. Tetapi aku yakin Allah pasti akan menghadiahkan hal yang lebih baik bagi insan yang berhijrah atas sebab kebaikan. Setelah itu aku dan Kak Juli menjadi jarang berkomunikasi. Paling hanya karena urusan pekerjaan saja kami baru berkomunikasi.

Sebuah kabar menggetarkan hatiku datang dari Kak Juli malam ini. Sebuah kabar yang mengatakan bahwa ia menderita penyakit infeksi paru-paru. Ia harus mengalami perawatan khusus selama enam bulan berturut-turut dan tidak boleh berhenti minum obat empat kali dalam sehari. Astaghfirullah. Tak terasa tetesan air mata tak terbendung jatuh membasahi pipiku. Rasanya saat ini juga ingin memeluknya, menguatkannya dan membersamainya selama masa perawatan. Tetapi jarak dan kewajiban kerja memisahkan kami. Ternyata penyebab sakitnya dikarenakan terlalu sering menghirup debu dan akhirnya membuat saluran pernapasan di paru-parunya infeksi. Benar saja karena sehari-hari Kak Juli bekerja di gudang sebuah toko busana muslimah di Medan. Batin ku berkata "Kak kau sudah terlalu lelah bekerja. Allah ingin kau beristirahat dan menghabiskan waktu untuk beribadah padanya. Allah rindu waktumu yang kau gunakan untuk mengucapkan puji-pujian padanya. Allah rindu istighfarmu. Allah rindukan sujud panjangmu di penghujung malam". Allahuakbar mungkin inilah hikmahnya. Aku yakin meski sakit bukanlah suatu kondisi yang disukai manusia tetapi didalamnya banyak bukti cinta Allah pada hambanya. Allah ingin menghapus dosa Kak Juli, Ia sayang Kak Juli dan tak inginkan Kak Juli hidup berlumur dosa berlama-lama. Allah tidak membebankan seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.

Kabar ini menjadi I'tibar bagiku manusia penuh dosa. Bertahun-tahun ngakunya hijrah tapi masih belum bisa istiqamah. Masih sering lalai dalam ibadah wajib baginya. Astaghfirullah apakah aku harus diberi teguran sakit dulu baru sadar atas semua ini.

Subhanallah, Walhamdulillah, Wa lailaha Ilallahu akbar.
Semoga Kak Juli segera dikaruniakan kesehatan.
Di beri peningkatan Iman atas semua cobaan yang dihadapi.
Uhibbuki fillah ya Ukhti.




Langsa, 8 Maret 2019

Nurul Fajriah Nasution. S.Pd


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,