Persepsi Upacara Bendera Bagi Seorang Guru Matematika


Senin ini terasa berbeda dibandingkan dengan senin-senin yang sudah ku lewati sebelumnya. Terasa berat sekali mengangkat tubuh ini untuk berdiri. Perasaan di hatipun seolah ikut mendukung. Dunia terasa berputar di pandangan mataku. Tenggorokanku pedih seperti menelan tulang ikan. Sejak malam suhu panas badanku masih juga belum turun. Mungkin aku terlalu dzalim dengan tidak memberikan hak penuh untuk istirahat bagi tubuhku sehingga hal ini pun terjadi. Tapi walau bagaimanapun ini hari senin. Hari dimana aku harus bertugas sebagai Guru dengan jam penuh dari pagi sampai waktu pulang tiba. Aku harus tetap semangat berangkat ke sekolah dan menjalankan tugasku.

Sesampainya di sekolah aku langsung menjalankan rutinitas senin di sekolahku yaitu upacara bendera. Upacara bendera memiliki arti tersendiri bagi setiap orang. Begitu juga denganku. Bagiku upacara bendera sebagai pengingat bahwa diri ini mempunyai kewajiban untuk terus mengisi kemerdekaan Indonesia dengan  prestasi. Bukan hanya sekedar hidup dan kerja seperti biasanya. Tetapi harus memiliki motivasi untuk mempersembahkan kontribusi berupa kinerja kerja yang terbaik. Mendidik dengan hati sehingga tercipta generasi yang unggul dan berkompetensi. Upacara bendera juga bisa dijadikan refleksi bagi diri sendiri dengan membandingkan semua kerja keras dan perjuangan para pahlawan bangsa terdahulu dengan diri kita sekarang. Dengannya kita menjadi lebih bersemangat lagi untuk dapat melakukan segala usaha untuk memajukan bangsa.

Selain itu bagiku upacara juga menjadi moment reunian dan putar balik sejarah hidupku. Saat pembawa acara mulai membacakan pembukaan upacara bendera. Diri ini seolah hadir kembali sebagai sosok siswa SD, SMP, dan SMA. Aku menjadi ingat saat upacara bertahun-tahun lamanya saat aku berstatus sebagai siswa. Ketika SMP dulu aku sering sekali ditugaskan sebagai petugas pembawa acara, pembaca UUD, dan baca doa. Yang paling sering adalah tugas menjadi pembaca doa. Sebenarnya aku kurang paham juga atas dasar apa guruku dulu sering menjadikan aku petugas pembaca doa. Mungkin karena tubuhku yang kurang tinggi sehingga aku lebih cocok ditugaskan di bagian membaca dibandingkan tugas sebagai penggerek bendera. Tetapi memang ketika SMP aku sangat memimpikan tugas sebagai penggerek bendera tersebut. Ketika SMA alhamdulillah impianku terkabul. Akhirnya aku bisa menjadi penggerek bendera. Meskipun di bagian belakang pasukan dan hanya sebagai pelengkap saja diri ini sudah bahagia bukan kepalang.

Senin ini 11 February 2019 seharusnya yang menjadi petugas upacara adalah kelas XI TKJ 2. Tetapi seperti biasanya kelas ini memang tidak pernah bersedia menjadi petugas upacara. Akhirnya seperti biasa anak pramuka juga yang harus selalu siap sedia sebagai pengganti petugas. Saat upacara berlangsung tidak ada satu orang siswapun yang pingsan atau keluar barisan. Dan yang menjadi Pembina upacara adalah ibu Wakakur SMKN Taman Fajar yaitu Buk Citra Hayati. Ada beberapa maklumat yang disampaikan beliau diantaranya tentang sikap toleransi saat ada petugas yang salah dalam proses upacara. Kemudian beliau juga menekankan tentang sikap serius dalam belajar karena beberapa minggu kedepan akan ada agenda ujian dan PKL. Saat itu buk Citra terlihat sangat emosi karena saat beliau menyampaikan maklumat upacara ada beberapa siswa laki-laki yang bercerita dengan suara besar. Kemudian ada beberapa siswa juga yang jongkok. Tetapi dengan sigap pak Imran Hadi yang berada di bagian belakang barisan Siswa laki-laki segera menertibkannya

Langsa, 3 Maret 2019

Nurul Fajriah Nasution,S.Pd
Late Post

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,