Maafkan Aku Ayah


Sore itu kulihat wajah lelahnya masih terus menebar senyum penuh makna. Mencoba menguatkan diri ini yang terlalu cepat menyerah. Pahit. Tak berasa apapun lagi. Yang kurasa hanya penyesalan dan rasa bersalah atas apa yang kudapat hari ini.

Sudah kukatakan jangan ikut bersamaku. Aku takut membuatmu kecewa. Karena entah kenapa diri ini selalu saja menyimpan sifat pesimis dalam setiap perjuangan. Tapi kau tetap saja membantah. Dengan segala daya upaya kau bersikeras untuk tetap ikut bersamaku. Mencoba terus membersamaiku dalam perjuangan ini. Aku tau kau susah, fisikmu taklah kuat untuk bersama dengan ku hari itu. Namun kau seolah tau bahwa aku benar-benar membutuhkan mu. Hari itu sungguh aku melihat kau begitu bersemangat menemaniku dari pagi hingga malam.

Setelah pengumuman ujian tahap satu itu di umumkan. Berita bahagia itu langsung kukabarkan pada mereka. Manusia yang paling aku cintai melebihi dari diriku sendiri. Ekspresi bahagiapun terdengar dari loudspeaker handphone yang kugunakan. Ayah dengan begitu semangatnya langsung memutuskan bahwa ia akan menemaniku untuk berangkat ke kota tempat ujian tersebut dilaksanakan. Saat itu aku menolak kepergiannya dengan alasan aku tak ingin merepotkan dan kesehatannya yang lebih penting. Tapi dia bersikeras untuk tetap menemaniku.

Kisah Awal

Hari itu tepat pada hari selasa. Aku sengaja mengatur jadwal masuk kerja pagi dengan teman kerjaku. Hal ini disebabkan karena di malam harinya aku harus pergi ke kota untuk mengikuti ujian CPNS seperti keinginan orang tua dan keluargaku. Dipagi harinya aku telah memesan dua kursi pada sebuah mobil travel untuk aku dan ayahku.  Alhamdulillah ujiannya dilaksanakan pada awal bulan jadi gajiku masih utuh. Dan aku bisa membayar tiket pulang pergi untuk kami berdua.

Mobil travel itu menjemputku setelah isya. Aku hanya sendirian karena ayahku sudah menunggu di tengah jalan menuju ke kota itu. Tepat sekali ayah menungguku di simpang Kampung Besar Peureulak. Sementara aku mulai menaiki Mobil Travel itu dari Langsa. Kota tempat dimana aku bekerja sehari-hari. Sungguh ini kali pertama aku berangkat ke Banda Aceh bersama ayahku. Sebenarnya hati ini sedikit bahagia karena aku ditemani ayah. Lelaki yang paling mengerti aku didunia ini. Dan aku merasa tidak takut akan apapun yang terjadi jika ayah sudah mendampingiku. Aku sangat menyayangimu ayah.

Malam itu aku bertanya kepada Abang supir mobil tersebut bahwa mobil akan mulai jalan jam delapan malam. Jadi aku langsung menelpon ayahku untuk bersegera berangkat dari rumah setelah Isya agar tidak ketinggalan Mobil. Tapi Abang supir mobil tersebut tidak menepati janjinya. Akhirnya mobil kami baru mulai berangkat pada jam sepuluh malam. Ayahku sudah sampai di Peureulak tepat jam Sembilan malam. Berulang kali ia menelponku memastikan bahwa mobil belum melewati tempat dia menunggu. Aku merasa kasihan sekali dengan ayahku yang harus menunggu mobil kami di depan ruko sendirian tengah malam. Hingga akhirnya mobil yang kami tumpangi baru sampai di peureulak pada jam sebelas malam dan ayahku harus menunggunya dua jam di tengah udara dingin malam. Sesampainya didalam mobil aku memandangi wajah ayahku yang sudah pucat kedinginan. Wajah pahlawanku. Dan saat itu juga, hatiku berazam kuat bahwa selama aku mampu apapun yang ayah inginkan dan ayah perintahkan akan ku laksanakan meski harus bercucuran darah. Mobil pun melaju dengan kencangnya. Aku dan ayah mengambil kesempatan tidur di mobil supaya besok saat ujian badan segar kembali.

Pagi pukul setengah tujuh kami sudah tiba di depan kampus Abulyatama yang merupakan lokasi ujianku. Aku dan ayah memutuskan sarapan terlebih dahulu. Sebelum kami pergi mamak sudah membekali kami nasi dan sambel teri kesukaanku yang di bawa oleh ayah. Mamak merupakan sosok wanita yang selalu siap siaga dengan bontotnya kemanapun aku dan ayah pergi. Sampai pada moment ini pun dia rela berlelah-lelahan masak bahkan buat kue supaya aku dan ayah tidak kebingungan mau makan apa saat di Banda Aceh. Dengan hanya memesan teh manis panas aku dan ayah sarapan di sebuah warung dekat kampus tersebut.

Setelah itu ayah mengajakku menunggu waktu ujian dengan beristirahat di sebuah mesjid besar yang terletak tepat disebelah kiri komplek kampus. Aku dan ayah sempat tidur beberapa menit dan membersihkan diri di toilet kampus. Hari itu aku baru akan ujian pada jam setengah satu siang. Tepatnya setelah waktu Dzuhur tiba. Sehingga kami harus menunggu setengah hari. Di mesjid itu aku bertemu dengan kak Kadar dan Rahmi. Mereka berdua adalah CPNS yang berasal dari kota Lhokseumawe. Dengan berbincang-bincang beberapa menit kami bertigapun sudah mulai akrab. Kebetulan saat itu Kak Qadar di temani oleh suaminya dan Rahmi hanya sendirian. Jadilah kami bertiga sahabat akrab meski hanya bertemu beberapa jam yang lalu.

Ketika jam dua belas siang kami bertiga sekaligus keluarga yang mendampingi keluar dari mesjid dan berjalan menuju lokasi tempat ujian. Dengan kondisi yang belum makan dan belum sholat ternyata kami sudah di perintahkan melakukan registrasi. Tiba-tiba aku teringat ayahku. Ayah juga pastinya belum makan. Ternyata kami hanya registrasi saja. Setelah itu kami disuruh menunggu dan akan masuk ke dalam ruang ujian setelah setengah jam kemudian. Kami bertiga mengambil kesempatan untuk shalat dan bermaksud makan setelahnya. Tetapi air sangat susah dicari di lokasi tersebut. Kami hampir berjalan dari ujung sampai ujung kampus lagi dan tidak juga menemukan satu kamar mandi pun yang ada airnya. Semua kamar mandi mati airnya. Dan akhirnya petugas kantin yang baik hati menawarkan kami untuk berwudhu di kamar mandi kantin. Alhamdulillah akhirnya kami bisa sholat juga, tetapi setelah sholat waktu masuk ujian pun tiba dan kami tidak sempat makan siang. Dan ayahku pun belum makan juga. Ayah… 

Setelah melewati beberapa kali pemeriksaan kamipun mulai diberi pengarahan tentang teknik pelaksanaan ujian dan di perintahkan langsung masuk kedalam ruangan ujian. Di dalam ruangan pengarahan ujian aku bertemu dengan adik kelasku Asita Rahmadayanti. Adik kelasku yang sangat pintar di bangku SMA dulu, saat ini ia sedang melanjutkan study S2 nya di Bandung. Dan aku bahagia karena ternyata dia masih mengenaliku.

Setelah memasuki ruang ujian. Di dada di penuhi ketegangan. Yang terbayang adalah wajah ayah dan ibuku. Dan semua ini aku lakukan hanya untuk mereka. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Segala ucapan dzikir kuucapkan untuk menenangkan diri ini. Dan panitia pun memberikan aba-aba untuk memulai ujian. Bismillahirrahmanirrahim

Satu setengah jam berlalu. Dan kudapati sebagian isi ruangan sudah selesai mengerjakan dan keluar. Aku merasa ragu-ragu untuk menyelesaikan proses ujian meski sudah selesai semua. Aku takut melihat hasilnya. Tetapi waktu terus berjalan dan akhirnya aku selesaikanlah. Di layar komputer langsung muncul hasil dari ujianku. Dan ternyata nilainya kurang bagus. Aku hanya menjawab 35 soal dengan benar dan 65 soal lagi aku salah menjawabnya. Dan sekujur tubuh ini lemas dan hampir tak bisa berjalan keluar ruangan. Tapi kukuatkan diri ini bahwa aku harus dapat menerima semua kenyataan yang sudah berlaku.

Setelah tiba di hadapan ayah. Aku melihat wajah pucat ayah yang penuh semangat dan sangat antusias. Tak tega rasanya harus mengucapkan hasil ujianku. Tetapi aku harus menjawabnya. Dan ayahku masih terus menyemangatiku. Dia berkata "tak mengapa mungkin lawannya nurul yang dua orang lagi itu lebih rendah nilainya dibandingkan Nurul". Dan hati ini menjadi sejuk dan semangat lagi mendengarnya.

Karena rasa penasaran aku langsung mendatangi papan pengumuman yang menampilkan hasil ujian kami. Dan aku melihat bahwa satu lawanku (Desi Lestari namanya) memiliki nilai dibawahku. Tetapi bagaimana dengan yang satunya lagi (Ridwan). Aku belum mengetahuinya karena dia ikut ujian lebih awal dibandingkan denganku. Jadi hasil ujiannya sudah tidak ditampilkan lagi. Aku berniat untuk menunggu seluruh hasil ujian di tempelkan untuk mengetahui nilai Ridwan dan hasil akhir ujianku sebenarnya.

Setelah itu kami bertiga dan ayahku memutuskan untuk makan siang. Sebenarnya lebih tepat dikatakan makan sore karena saat itu sudah jam 4 sore. Aku mendengar penuturan Kak Kadar dan Rahmi yang sudah bisa di pastikan akan lulus PNS. Kak Kadar sendiri tidak memiliki saingan ujian. Ia hanya ujian sebagai formalitas dan sudah bisa dipastikan akan lulus. Rahmi sudah pasti lulus karena nilainya memang lebih tinggi di bandingkan kedua lawannya. Dan hanya tinggal aku yang masih belum jelas karena belum tahu tentang nilai satu orang lawanku lagi. Setelah itu aku memutuskan untuk shalat Ashar dan menunggu waktu pengumuman di tempel.

Kedua temanku kak Kadar dan Rahmi harus lebih duluan pulang karena jemputannya sudah datang. Dan kini tinggal aku dan ayah yang menunggu pengumuman itu. Waktu adzan magrib pun tiba dan disaat itu juga pengumuman baru di tempel. Bergetar diri ini melihat bahwa aku tidak lulus. Dia Ridwan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan aku. Aku tak bisa membendung rasa sedih dan bersalahku dihadapan ayah. Tetapi dalam kesempatan itu ayahku tetap masih bisa menyemangatiku. Ia berkata "Tenang aja, kan pengumuman resminya belum kelar. Bisa aja nanti berubah hasilnya". Ayah aku gagal memberikan kebahagiaan bagimu. Ayah aku menyesal kurang bekerja keras sebelumnya.

Malam itu aku melihat ekspresi ayah yang sangat sedih sebenarnya. Tetapi dia mencoba menahannya karena ingin menenangkanku yang cengeng ini. Setelah makan malam dengan bontot dari mamak dan menelpon mobil travel kami langsung bertolak pulang ke Aceh Timur.

Dan kami sudah sampai lagi di Aceh Timur pada jam setengah delapan pagi. Ayah langsung pulang ke rumah kami di Ranto Peureulak. Dan aku langsung pulang ke Langsa, karena aku harus kerja masuk siang di hari itu. Dua hari kemudian aku menelpon ibu. Ibu katakan bahwa ayah demam karena masuk angin katanya. Wahai ayah maafkan aku.

Ayah setelah kejadian ini. Aku akan berusaha melakukan apapun yang kau mau. Rasanya aku ingin sekali menebus semua kegagalan ini dengan rasa bahagiamu. Malam itu di dalam mobil saat perjalanan pulang ke Aceh Timur aku bertanya kepada ayah. Apa yang ayah paling inginkan saat ini?. Aku coba membuat pilihan haji, rumah, dan beberpa pilihan lainnya. Tetapi malam itu ayah hanya menjawab "Kesuksesan dan kebahagiaan Nurul. Kalau ayah untuk apalagi. Ayah sudah tua. Yang paling penting sekarang Nurul karena hidup nurul masih panjang lagi kedepannya". Dan aku hanya terdiam mencoba menyimpan kata kata yang di ucapkan ayah dalam hati dan cita-citaku. Bahwa aku harus sukses agar ayahkupun ikut bahagia.

Ayah sampai kapanpun tidak akan nurul berhenti mencintaimu.
Apapun yang engkau katakan adalah perintah dan titah wajib untuk Nurul wujudkan.
The Best Men In The World.

#Late Post

Mengabadikan Moment tak terlupakan
Selasa, 11 Desember 2018

Nurul Fajriah Nasution, S.Pd


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,