20 April
Ini dia ternyata rasanya. Aku bahkan baru pertama kali merasakannya selama hidup. Dan aku tak ingin merasakan hal yang sama seperti ini kedua kalinya.
Ini hari adalah hari ulang tahunku yang ke-26. Sebenarnya tidak ada persiapan spesial yang ku sediakan menuju hari ini. Aku ingin menjalaninya secara biasa. Tetapi karena ada ajakan dari muridku dan kebetulan akupun belum mengambil cuti tanggal merah. Akhirnya aku memutuskan untuk libur kerja seharian dan bermain main sekitar kawasan peureulak dan langsa hari ini.
Pagi-pagi aku sudah mempersiapkan diri. Pergi jam tujuh pagi langsung bertolak ke Sekolah untuk sekedar mendapatkan info terbaru dan alhamdulillah waktuku produktif di sekolah karena bisa membantu panitia wisuda bagian seksi acara. Meski hanya melipat surat undangan, menggunting, menempel dan prihal sepele lainnya. Tetapi alhamdulillah aku merasa waktuku produktif sambil menunggu anak muridku menjemputku untuk datang ke tempat pertemuan yang telah kami sepakati.
Siang itu keindahan pantai Leuge begitu mempesona mata yang memandang. Angin yang berhembus sepoi seiring dengan desiran ombak yang melambai lambai menyentuh pesisir pantai yang landai. Siang ini ku lihat air laut sedang pasang. Hanya tersisa sedikit pesisir yang tidak terkena air. Aku datang dari sekolah dengan menaiki sebuah kereta scoopy yang di kendarai siswaku bernama Riski Munandar.
Aku dan Riski sampai pada disana kurang lebih pada pukul 12.30 wib di tengah siang hari terik. Sesampainya aku di sebuah gubuk terbuat dari bambu, aku sudah di sambut rindu oleh anak-anak kesayangan yang juga murid-muridku. Mereka adalah Intan Fazira, Annisaturrahmi, Putri Nadhilah, Nurfazilah, Fitri Andriani dan Nadim Abdilah. Mereka semua adalah tujuh siswa dari dua puluh tujuh personil XI AK. Ternyata mereka sudah menungguku sejam yang lalu.
Tak lama kemudian aku membuka sebuah bungkusan yang sudah ku siapkan sejak pagi tadi dari Langsa, yaitu satu lingkar berbentuk bulat kue bolu dengan rasa kelapa dan mentega yang diaduk menjadi satu. Satu persatu dari mereka mengambilnya. Tak berapa lama kemudian hanya satu perempat bagian saja dari lingkaran bolu yang tersisa. Kami bercerita santai di selingi gelak tawa khas mereka yang sudah lama tak kudengar. Mereka saling berebut ingin di dengarkan saat menceritakan pengalaman mereka saat PKL di instansi mereka masing-masing. Aku bisa merasakan aroma kompetisi ingin menonjolkan keunggulan instansi mereka masing-masing. Beberapa dari mereka merasa senang saat PKL karena bertemu dengan rekan kerja yang baik dan pengertian. Tapi sebagian kecil ada yang sedih karena kurang puas dengan sistem kerja dan teman kerja di instansinya dan sebagian lagi mengeluh karena pulang kerja yang terlalu sore dan pekerjaan yang tanpa jeda. Sebagai seorang guru yang paling tua diantara mereka yang masih remaja, aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan sedikit memberi nasehat jika mereke mengeluh lelah dan bosan.
Setelah lelah bercerita mereka membuka bungkusan hitam besar yang belakangan ku ketahui isinya beberapa porsi nasi ayam penyet yang sengaja mereka sediakan dari rumah untuk makan bersama. Kami semua makan sambil mengobrol ringan. Tidak ketinggalan ternyata Anisaturrahmi telah menyediakan dua buah mangga muda sebagai menu cuci mulut kami. Dia pun mengupasnya dan kami sedia menghabiskannya.
Sesi terakhir pertemuan kami tutup dengan foto bersama di pesisir pantai yang landai. Hingga saat jalan pulang kami mengenderai motor beriringan bersama-sama. Bahagia. Itu satu kata yang bisa terucap di bibirku saat bertemu dengan mereka hari ini. Setelah hampir dua bulan tidak bertatap wajah dan tak saling menyapa. Aku bersyukur karena bisa berkenalan dan menjadi seorang wali kelas mereka. Satu kata yang bisa ku petik hari ini "Bahagia itu Sederhana. Hanya cukup duduk di pantai, duduk bersama, makan bersama dan foto bersama" Tapi ini semua membahagiakan karena bersamanya itu dengan kalian. Personil XI Ak yang tercinta. Setelah pertemuan itu kami pun langsung bubar dan pulang kerumah kami masing-masing.
(Aku tak pernah sedih mereka tidak ingat hari ini Ultahku ataupun Mengucapkan Happy birthay. Karena kebahagiaan yang mereka beri hari ini lebih dari itu semua).
Sepulang dari pantai. Aku langsung kembali ke habitat ku semula, Kota Langsa. Tempat aku mencari makan dan nafkah keluarga. Tak lama menunggu hadirlah dihadapanku mobil jumbo berwarna hijau yang sudah berhenti seolah berkata menyambutku "silahkan masuk". Hanya dengan beberapa langkah saja aku sudah memastikan diriku duduk pada bangku yang tidak sempit dan dekat dengan jendela supaya tidak pengap maksudku. Tiga detik pertama kudapati diriku bingung karena mobil ini penuh dengan barang-barang berat di kursi bagian belakang. Melihat ke sisi kanan dan depan ternyata aku baru menyadari semua penumpang di mobil ini adalah laki-laki semua. Hanya aku sendirian yang perempuan. Mobil ini penuh hampir tidak ada satu kursipun yang kosong. Semua orang yang berada didalam mobil ini sangat fasih berbahasa jawa satu sama lainnya. Rona curiga merasuki fikiranku, Tetapi aku berusaha berfikir positif dan melawan semua prasangka buruk yang ada di kepalaku. Sepuluh menit kemudian aku baru merasa nyaman dan yakin seratus persen bahwa mereka bukan orang jahat. Ternyata merekalah yang mencarter mobil jumbo ini sampai ke Medan. Tetapi karena tersisa satu kursi kosong, si supir meminta izin menaikkan aku di tengah jalan. Syukurlah.
Sesampainya di toko aku langsung bersih-bersih badan dan menunaikan shalat Ashar. Setelah itu aku merebahkan diri di atas sajadah lengkap dengan sarung dan mukena yang masih terpakai rapi di badanku. Badan ini terasa lemah tetapi puas karena bahagia. Senyum tipis terlukis di bibirku.
Tiba-tiba nada dering HP ku berbunyi sebuah telpon whatsapp dari Rahma. Tak perlu waktu lama aku langsung mengangkat telponnya. Sebuah nada panik yang kudengar dari Rahma. Dia berkata ada seseorang laki-laki yang menunggu ku di bawah dan memintaku segera menemuinya. Bukan kepalang penasaran di hati ini. Kuraih sebuah gamis berwarna coklat mudah dan sebuah khimar lebar ku pakai asal dan aku langsung terburu-buru turun ke bawah. Aku berharap ada seseorang yang spesial ingin bertemu denganku tapi Sampai di bawah sebuah kesedihan terjadi.
Saat aku membuka pintu dan... taraaa... mereka mengejutkanku dan memberi sebuah hadiah untukku. Aku bahagia sekaligus sedih. Karena faktanya aku di bohongi mereka. Sosok lelaki spesial itu tidak ada. Mereka hanya mengelabui ku. Dengan desakan mereka akhirnya aku langsung membuka hadiah mereka langsung di depan mereka. Dan diri ini sangat terkejut dengan isi kado yang mereka berikan. Aku tidak menyangka mereka tega memberikan aku benda itu. Entahlah aku kurang paham dengan maksud mereka yang berinisiatif membeli benda itu untukku,
Seumur-umur aku belum pernah di beri kado itu dan harga diriku merasa jatuh dan direndahkan dengan benda itu. Jika benda itu aku insyaallah masih bisa membeli. Tetapi benda itu begitu hina menurutku jika di jadikan kado. Dan orang malang yang menerima itu adalah aku. Dari awal aku katakan tidak ingin di berikan kado. Tetapi sebagian dari mereka heboh membeliku kado.
Inilah kado yang paling kurang menyenangkan yang ada di hidupku.
Mungkin ini pelajaran bagiku.
Suatu saat nanti harus bersedekah dan memberi yang terbaik kepada orang lain jika ingin di balaskan dengan yang baik juga.
Langsa, 20 April 2019
Nurul Fajriah Nasution, S.Pd
Ini hari adalah hari ulang tahunku yang ke-26. Sebenarnya tidak ada persiapan spesial yang ku sediakan menuju hari ini. Aku ingin menjalaninya secara biasa. Tetapi karena ada ajakan dari muridku dan kebetulan akupun belum mengambil cuti tanggal merah. Akhirnya aku memutuskan untuk libur kerja seharian dan bermain main sekitar kawasan peureulak dan langsa hari ini.
Pagi-pagi aku sudah mempersiapkan diri. Pergi jam tujuh pagi langsung bertolak ke Sekolah untuk sekedar mendapatkan info terbaru dan alhamdulillah waktuku produktif di sekolah karena bisa membantu panitia wisuda bagian seksi acara. Meski hanya melipat surat undangan, menggunting, menempel dan prihal sepele lainnya. Tetapi alhamdulillah aku merasa waktuku produktif sambil menunggu anak muridku menjemputku untuk datang ke tempat pertemuan yang telah kami sepakati.
Siang itu keindahan pantai Leuge begitu mempesona mata yang memandang. Angin yang berhembus sepoi seiring dengan desiran ombak yang melambai lambai menyentuh pesisir pantai yang landai. Siang ini ku lihat air laut sedang pasang. Hanya tersisa sedikit pesisir yang tidak terkena air. Aku datang dari sekolah dengan menaiki sebuah kereta scoopy yang di kendarai siswaku bernama Riski Munandar.
Aku dan Riski sampai pada disana kurang lebih pada pukul 12.30 wib di tengah siang hari terik. Sesampainya aku di sebuah gubuk terbuat dari bambu, aku sudah di sambut rindu oleh anak-anak kesayangan yang juga murid-muridku. Mereka adalah Intan Fazira, Annisaturrahmi, Putri Nadhilah, Nurfazilah, Fitri Andriani dan Nadim Abdilah. Mereka semua adalah tujuh siswa dari dua puluh tujuh personil XI AK. Ternyata mereka sudah menungguku sejam yang lalu.
Tak lama kemudian aku membuka sebuah bungkusan yang sudah ku siapkan sejak pagi tadi dari Langsa, yaitu satu lingkar berbentuk bulat kue bolu dengan rasa kelapa dan mentega yang diaduk menjadi satu. Satu persatu dari mereka mengambilnya. Tak berapa lama kemudian hanya satu perempat bagian saja dari lingkaran bolu yang tersisa. Kami bercerita santai di selingi gelak tawa khas mereka yang sudah lama tak kudengar. Mereka saling berebut ingin di dengarkan saat menceritakan pengalaman mereka saat PKL di instansi mereka masing-masing. Aku bisa merasakan aroma kompetisi ingin menonjolkan keunggulan instansi mereka masing-masing. Beberapa dari mereka merasa senang saat PKL karena bertemu dengan rekan kerja yang baik dan pengertian. Tapi sebagian kecil ada yang sedih karena kurang puas dengan sistem kerja dan teman kerja di instansinya dan sebagian lagi mengeluh karena pulang kerja yang terlalu sore dan pekerjaan yang tanpa jeda. Sebagai seorang guru yang paling tua diantara mereka yang masih remaja, aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan sedikit memberi nasehat jika mereke mengeluh lelah dan bosan.
Setelah lelah bercerita mereka membuka bungkusan hitam besar yang belakangan ku ketahui isinya beberapa porsi nasi ayam penyet yang sengaja mereka sediakan dari rumah untuk makan bersama. Kami semua makan sambil mengobrol ringan. Tidak ketinggalan ternyata Anisaturrahmi telah menyediakan dua buah mangga muda sebagai menu cuci mulut kami. Dia pun mengupasnya dan kami sedia menghabiskannya.
Sesi terakhir pertemuan kami tutup dengan foto bersama di pesisir pantai yang landai. Hingga saat jalan pulang kami mengenderai motor beriringan bersama-sama. Bahagia. Itu satu kata yang bisa terucap di bibirku saat bertemu dengan mereka hari ini. Setelah hampir dua bulan tidak bertatap wajah dan tak saling menyapa. Aku bersyukur karena bisa berkenalan dan menjadi seorang wali kelas mereka. Satu kata yang bisa ku petik hari ini "Bahagia itu Sederhana. Hanya cukup duduk di pantai, duduk bersama, makan bersama dan foto bersama" Tapi ini semua membahagiakan karena bersamanya itu dengan kalian. Personil XI Ak yang tercinta. Setelah pertemuan itu kami pun langsung bubar dan pulang kerumah kami masing-masing.
(Aku tak pernah sedih mereka tidak ingat hari ini Ultahku ataupun Mengucapkan Happy birthay. Karena kebahagiaan yang mereka beri hari ini lebih dari itu semua).
Sepulang dari pantai. Aku langsung kembali ke habitat ku semula, Kota Langsa. Tempat aku mencari makan dan nafkah keluarga. Tak lama menunggu hadirlah dihadapanku mobil jumbo berwarna hijau yang sudah berhenti seolah berkata menyambutku "silahkan masuk". Hanya dengan beberapa langkah saja aku sudah memastikan diriku duduk pada bangku yang tidak sempit dan dekat dengan jendela supaya tidak pengap maksudku. Tiga detik pertama kudapati diriku bingung karena mobil ini penuh dengan barang-barang berat di kursi bagian belakang. Melihat ke sisi kanan dan depan ternyata aku baru menyadari semua penumpang di mobil ini adalah laki-laki semua. Hanya aku sendirian yang perempuan. Mobil ini penuh hampir tidak ada satu kursipun yang kosong. Semua orang yang berada didalam mobil ini sangat fasih berbahasa jawa satu sama lainnya. Rona curiga merasuki fikiranku, Tetapi aku berusaha berfikir positif dan melawan semua prasangka buruk yang ada di kepalaku. Sepuluh menit kemudian aku baru merasa nyaman dan yakin seratus persen bahwa mereka bukan orang jahat. Ternyata merekalah yang mencarter mobil jumbo ini sampai ke Medan. Tetapi karena tersisa satu kursi kosong, si supir meminta izin menaikkan aku di tengah jalan. Syukurlah.
Sesampainya di toko aku langsung bersih-bersih badan dan menunaikan shalat Ashar. Setelah itu aku merebahkan diri di atas sajadah lengkap dengan sarung dan mukena yang masih terpakai rapi di badanku. Badan ini terasa lemah tetapi puas karena bahagia. Senyum tipis terlukis di bibirku.
Tiba-tiba nada dering HP ku berbunyi sebuah telpon whatsapp dari Rahma. Tak perlu waktu lama aku langsung mengangkat telponnya. Sebuah nada panik yang kudengar dari Rahma. Dia berkata ada seseorang laki-laki yang menunggu ku di bawah dan memintaku segera menemuinya. Bukan kepalang penasaran di hati ini. Kuraih sebuah gamis berwarna coklat mudah dan sebuah khimar lebar ku pakai asal dan aku langsung terburu-buru turun ke bawah. Aku berharap ada seseorang yang spesial ingin bertemu denganku tapi Sampai di bawah sebuah kesedihan terjadi.
Saat aku membuka pintu dan... taraaa... mereka mengejutkanku dan memberi sebuah hadiah untukku. Aku bahagia sekaligus sedih. Karena faktanya aku di bohongi mereka. Sosok lelaki spesial itu tidak ada. Mereka hanya mengelabui ku. Dengan desakan mereka akhirnya aku langsung membuka hadiah mereka langsung di depan mereka. Dan diri ini sangat terkejut dengan isi kado yang mereka berikan. Aku tidak menyangka mereka tega memberikan aku benda itu. Entahlah aku kurang paham dengan maksud mereka yang berinisiatif membeli benda itu untukku,
Seumur-umur aku belum pernah di beri kado itu dan harga diriku merasa jatuh dan direndahkan dengan benda itu. Jika benda itu aku insyaallah masih bisa membeli. Tetapi benda itu begitu hina menurutku jika di jadikan kado. Dan orang malang yang menerima itu adalah aku. Dari awal aku katakan tidak ingin di berikan kado. Tetapi sebagian dari mereka heboh membeliku kado.
Inilah kado yang paling kurang menyenangkan yang ada di hidupku.
Mungkin ini pelajaran bagiku.
Suatu saat nanti harus bersedekah dan memberi yang terbaik kepada orang lain jika ingin di balaskan dengan yang baik juga.
Langsa, 20 April 2019
Nurul Fajriah Nasution, S.Pd


Komentar
Posting Komentar