Dia Muncul Kembali
Setelah
malam itu tanpa sadar aku kembali mengingatmu.
Kata demi kata terlontar. Guyonan demi guyonan tersampaikan dengan lugasnya menghasilkan bunyi tawa yang menggelegar. Meski hanya melalui perantara handphone. Tapi aku dapat merasakan kenyamanan yang tak terkira bisa bercengkerama bersama ayah.
Tiba tiba percakapan menjurus kepada sebuah topiK yang sebenarnya tidak aku sukai. Ayah membuka pembicaraan masalah jodoh. Sebenarnya bukan sebuah topik yang menegangkan karena ayah membahasnya dengan lelucon dan nada bercanda. Tapi aku bisa memahami bahwa ayah sebenarnya ingin segera melihatku menikah. “ Ayah rasanya udah lega dan lepas beban kalau nurul udah nikah dan udah punya pasangan” itu adalah kata-kata yang sering di ucapkan ayah.
Mengingat
kenangan indah sekaligus memilukan yang pernah terjadi di masa itu.
Berawal
dari sebuah percakapan sederhana bersama ayah yang kesepian karena hanya sendiri
di rumah di tinggal mamak yang pergi menemani kakak di Medan. Kesepian semakin
terasa karena di tambah dengan listrik PLN yang sedari sore tidak nyala juga.
Aku dan ayah jika sedang berdua suka sekali bercerita tentang masa depan dan
merencanakan banyak hal.
Kata demi kata terlontar. Guyonan demi guyonan tersampaikan dengan lugasnya menghasilkan bunyi tawa yang menggelegar. Meski hanya melalui perantara handphone. Tapi aku dapat merasakan kenyamanan yang tak terkira bisa bercengkerama bersama ayah.
Tiba tiba percakapan menjurus kepada sebuah topiK yang sebenarnya tidak aku sukai. Ayah membuka pembicaraan masalah jodoh. Sebenarnya bukan sebuah topik yang menegangkan karena ayah membahasnya dengan lelucon dan nada bercanda. Tapi aku bisa memahami bahwa ayah sebenarnya ingin segera melihatku menikah. “ Ayah rasanya udah lega dan lepas beban kalau nurul udah nikah dan udah punya pasangan” itu adalah kata-kata yang sering di ucapkan ayah.
Jiwa
ini berkecamuk seolah berbisik dalam hati "Ayah bagaimana mau menikah bahkan calonnya saja belum ada dan
sedikitpun belum terbayang bagaimana rupanya”. Dan ini bukanlah hal sepele menurutku.
Sepanjang hidup, aku selalu berusaha mememenuhi semua permintaan ayahku.
Termasuk hal ini. Akupun bertekad ingin segera memenuhinya. Bahkan kalau bisa
hari raya nanti aku langsung mengenalkan calon suamiku kepada ayah dan
mamak. Tapi hari raya hanya tinggal tiga bulan lagi. Apakah mungkin aku bisa
mewujudkan tekadku itu?
Tiba
tiba akalku berfikir bagaimana cara singkat untuk mendapatkkan suami. Lantas
aku bermaksud menawarkan agar ayah saja yang mencarikan calon suami untukku
atau dengan kata lain aku ikhlas dijodohkan. Menanggapi permintaanku ayah tidak
setuju. Spontan keluar kata penolakan darinya “Memangnya yang mau nikah siapa, ayah?”. Tubuh ini lemas dan tidak
bersemangat mendengar jawaban ayah tersebut. Aku katakan lagi
“Ayah sebenarnya nurul merasa gak ada yang mau sama nurul lah, lagi pula yang gimana sih laki-laki yang bagus menurut ayah?”. Tanpa ku sangka ayah menjawab hal yang tak ku duga sama sekali. ”Kan dulu udah ada yang mau nikahi,Tapi ya namanya aja gak jodoh. Lelaki yang baik itu ya kayak yang dulu itu. Cari yang kayak gitu lagi ya rul”. Diam memucat dan bendungan air mata tanpa di sadari memenuhi kelopak mataku.
“Ayah sebenarnya nurul merasa gak ada yang mau sama nurul lah, lagi pula yang gimana sih laki-laki yang bagus menurut ayah?”. Tanpa ku sangka ayah menjawab hal yang tak ku duga sama sekali. ”Kan dulu udah ada yang mau nikahi,Tapi ya namanya aja gak jodoh. Lelaki yang baik itu ya kayak yang dulu itu. Cari yang kayak gitu lagi ya rul”. Diam memucat dan bendungan air mata tanpa di sadari memenuhi kelopak mataku.
Kisah
itu kembali terkuak. Namanya yang sudah lama kupendam di dasar memori seolah
kembali mengapung di ingatan. Berlari-lari seakan semangat untuk memenuhi
pikiranku. Aku merindukannya. Merindukan dia yang selalu menjadi pahlawanku
dalam segala hal saat masa-masa kuliah sampai menuju akhir skripsi. Dia yang
mengenalkanku pada cinta. Tapi jodoh tak berpihak kepada kami. Meski semua
persiapan sudah dilakukan, tidak ada hal yang menjamin akan berjodoh. Tak pernah kusangka
sebelumnya di titik titik terakhir perjuangan kita akan berpisah dan kau
menikah dengan wanita lain. Sungguh itu pertama kali dalam hidup aku jatuh
cinta sekaligus merasakan putus cinta. Setelah itu jangan tanyakan lagi
bagaimana persepsi tentang cinta dan laki-laki padaku. Seperti trauma tersendiri
apabila mendengar kata kata cinta dan laki-laki. Hampir semua rayuan gombalan
dan sejenisnya sudah tak mempan lagi di telingaku. Hampir tidak ada celah dalam
hidupku untuk berfikir tentang cinta dan laki-laki. Berhari-hari aku berusaha
keras untuk melawan trauma dan mengembalikan semangatku. Karena waktu semakin
dekat menuju wisuda dan aku harus segera menyelesaikan tugas akhirku atau aku
tak ingin memperlambat kelulusanku. Sungguh perjuangan yang menguras tenaga dan
fikiran. Beruntungnya aku memiliki keluarga dan kedua orang tua yang selalu mendukungku
dalam keadaan terpuruk sekalipun. Dengan alasan cinta dan tak ingin
mengecewakan mereka maka dengan sekuat tenaga aku berusaha keras untuk
menyelesaikan tugas akhirku.
Dan
hari bahagia itupun tiba. Hari pengukuhan gelar sarjanaku. Saat itu berulang
kali aku meminta pada ayah dan mamak untuk tidak mengikuti prosesi tersebut.
Tapi dengan keras ayah tidak menyetujuinya. Hal ini disebabkan ayah dan mamak
ingin sekali merasakan dan ingin tau moment wisuda. Maklum karena dalam
keluargaku seluruh kakak dan abangku tidak ada yang kuliah. Dengan berat hati
aku mengalah dan tetap mengikuti keinginan ayah dan mamakku. Tapi ada satu hal
yang aku takuti terjadi padaku di hari itu. Aku takut hal itu akan menggangu
kejiwaanku lagi. Tapi yasudahlah semuanya ku lakukan untuk membahagiakan kedua
orang tuaku.
Di
hari itu semua orang terlihat begitu bahagia dan tampil begitu elegan. Bahkan
aku sampai tidak mengenali teman-temanku. Wajah mereka begitu pangling dengan
riasan kosmetik di wajah mereka. Dalam hal rias-merias mamakku yang paling
semangat mempersiapkan diri. Mamak tampil begitu menawan dan sangat cantik.
Sesampainya di gedung perhalatan. Tak kusangka hal yang tidak ku inginkan
terjadi. Hati ini merasa sedih yang teramat sangat. Melihat teman-teman datang dengan
PW (Pendamping Wisuda) dan keluarga mereka. Terlihat sangat bahagia. Lain
halnya denganku aku hanya terdiam dan berusaha menguatkan diri sampai semua
prosesi wisuda ini selesai. Begitu berat rasanya. Orang yang kuharap akan menajdi PW ku sudah menjadi suami wanita lain. Berbulan-bulan lamanya aku berusaha
keras mengobati luka ini. Hampir semua waktuku, ku isi dengan kesibukan mengikuti
berbagai pekerjaan. Mengikuti kegiatan komunitas yang satu dan lainnya untuk
mengusir rasa sedihku. Hingga waktu mengantarkanku untuk kembali ke kampong halaman
dan saat itu keadaan hatiku sudah semakin membaik. Tapi jangan di tanyakan
bagaimana penilaianku terhadap cinta dan laki-laki. Jawabannya adalah sama. Aku
tetap belum respek dan belum bisa menerima mereka di hatiku. Ruang di hati ini
masih tertutup untuk hal yang satu itu.
Hingga
malam ini. Saat ayah bertanya tentang hal itu. Aku bertekad akan membukanya. Dan
aku harus menerima seseorang untuk masuk. Tapi dia orang itu yang bagaimana.
Syarat ayah begitu tinggi. Ayah menginginkan seseorang seperti dia. Dia yang
dahulu pernah memberikan bekas di hatiku. Tapi dimana aku harus mencari manusia
seperti itu. Seseorang lelaki berkaca mata, Selesai kuliah S2, Seorang Back
Office di Bank konvensional, taat beribadah, dan pemurah. Hay dimana aku harus
mencarinya. Wallahu a’lam bishawab.
Tapi
aku selalu yakin Allah pasti sudah mempersiapkan penggantinya. Mungkin lebih
baik lagi darinya. Aku yakin semua yang terjadi padaku saat ini dan di masa
lalu pasti memiliki hikmah yang begitu indah. Allah tidak pernah memberi sebuah
ujian kepada manusia. Kecuali Allah tahu bahwa ia akan mampu melaluinya. Semoga
aku bahagia melewati seluruh proses ini. Apapun yang terjadi aku hanya inginkan
hatiku bahagia. Amin..
Komentar
Posting Komentar