Mengukur Diri
Perjalanan hidup terkadang mengantarkan
manusia kepada zona paling tinggi, di elu-elu, di hormati, dan di sanjung
dengan berbagai pujian. Kapanpun dan dimanapun semua orang ingin bersamanya.
Sebab kesetiaan atau hanya menumpang popularitas. Namun tak jarang manusia
harus rela tercampak kedasar kehinaan seketika setelah mendapat berbagai
penghargaan. Hanya dalam hitungan detik mereka yang katanya sahabat sejati,
penggemar berat, bahkan saudara satu persatu mundur teratur meninggalkannya.
Aduhai dunia, fatamorgana yang begitu melenakan. Pesona harta, tahta, dan jabatan begitu menyilaukan mata. Semua orang rela melakukan apa saja. Bahkan hingga merelakan jati dirinya untuk meraup semua harta dan pujian manusia. Seperti yang di katakan Ustadz Aa Gym, hakikat harta hanya tiga hal sederhana yang sangat mudah dipahami. Yang dimakan menjadi kotoran, yang dipakai menjadi usang, dan yang disedekahkan di jalan Alloh Swt menjadi berkah. Dan tentang pujian. Tahukah engkau pujian itu umurnya sangat pendek bagi yang memuji. Setelah mereka mengucapkan paling lama lima menit mereka masih ingat kata pujian yang di berikan kepada engkau. Setelah itu mereka melupakannya begitu saja. Sementara engkau telah berusaha keras berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun untuk mencapai pujian itu. Lantas seberapa abadikah pujian itu.
Wahai diri yang lalai. Kau punya mimpi besar ingin masuk ke dalam surga. Tapi sadarkah kau apa yang sedang kau perankan sekarang. Prihal Surga dan Neraka itu tak semudah dan sesederhana yang ada di dalam benakmu. Apakah kau mengira bahwa semua umat islam pasti akan masuk surga, meski awalnya harus masuk ke neraka dan di azab atas semua dosa-dosamu? Ataukah kau mengira bahwa sekonyong-konyong Rasulullah akan menolongmu dan mengeluarkanmu karena kau termasuk umatnya. Atau banyak lagi perkiraan di fikiranmu yang tak ada satu orang pun yang bisa menjamin kebenarannya. Sekali lagi kawan, Surga dan Neraka tak sesederhana itu.
Aduhai dunia, fatamorgana yang begitu melenakan. Pesona harta, tahta, dan jabatan begitu menyilaukan mata. Semua orang rela melakukan apa saja. Bahkan hingga merelakan jati dirinya untuk meraup semua harta dan pujian manusia. Seperti yang di katakan Ustadz Aa Gym, hakikat harta hanya tiga hal sederhana yang sangat mudah dipahami. Yang dimakan menjadi kotoran, yang dipakai menjadi usang, dan yang disedekahkan di jalan Alloh Swt menjadi berkah. Dan tentang pujian. Tahukah engkau pujian itu umurnya sangat pendek bagi yang memuji. Setelah mereka mengucapkan paling lama lima menit mereka masih ingat kata pujian yang di berikan kepada engkau. Setelah itu mereka melupakannya begitu saja. Sementara engkau telah berusaha keras berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun untuk mencapai pujian itu. Lantas seberapa abadikah pujian itu.
Wahai diri yang lalai. Kau punya mimpi besar ingin masuk ke dalam surga. Tapi sadarkah kau apa yang sedang kau perankan sekarang. Prihal Surga dan Neraka itu tak semudah dan sesederhana yang ada di dalam benakmu. Apakah kau mengira bahwa semua umat islam pasti akan masuk surga, meski awalnya harus masuk ke neraka dan di azab atas semua dosa-dosamu? Ataukah kau mengira bahwa sekonyong-konyong Rasulullah akan menolongmu dan mengeluarkanmu karena kau termasuk umatnya. Atau banyak lagi perkiraan di fikiranmu yang tak ada satu orang pun yang bisa menjamin kebenarannya. Sekali lagi kawan, Surga dan Neraka tak sesederhana itu.
Pernahkah
kau mendengar firman Allah tentang orang yang celaka dalam Shalat, yaitu orang
yang melalaikan Shalatnya. Maksudnya orang yang mengulur-ulur waktu shalat,
tidak melaksanakan rukun shalat dengan sempurna dan tidak khusyu’ dalam
shalatnya. Ketahuilah mereka yang dikatakan dalam firman Allah ini adalah orang
yang Shalat. Ternyata orang yang shalat juga masih dikatakan celaka bagaimana
halnya dengan orang yang sama sekali tidak melaksanakan shalat.
Coba periksa diri kita. Sudah sempurnakah shalat kita, sudah ikhlaskah kita dalam berbuat baik. Atau jangan-jangan semuanya di lakukan bukan semata-mata karena Allah. Berapa banyak manusia kecewa karena hasil karyanya tidak mendapatkan apresiasi. Karena pada dasarnya kecewa itu hadir di sebabkan pekerjaan kita yang tidak kita niatkan semata-mata karena Allah tetapi karena berharap pada pujian manusia. Jadi saat manusia itu tidak memberikan apresiasi kita menjadi kecewa dan membencinya. Padahal semuanya itu bisa menjadi amal saat kita ikhlas melakukannya. Berhenti untuk menuhankan manusia. Jangan berpegang teguh pada manusia. Tetapi gantungkan semua mimpi itu kepada Allah. Karena Allah sebaik-baik pemberi.
Coba periksa diri kita. Sudah sempurnakah shalat kita, sudah ikhlaskah kita dalam berbuat baik. Atau jangan-jangan semuanya di lakukan bukan semata-mata karena Allah. Berapa banyak manusia kecewa karena hasil karyanya tidak mendapatkan apresiasi. Karena pada dasarnya kecewa itu hadir di sebabkan pekerjaan kita yang tidak kita niatkan semata-mata karena Allah tetapi karena berharap pada pujian manusia. Jadi saat manusia itu tidak memberikan apresiasi kita menjadi kecewa dan membencinya. Padahal semuanya itu bisa menjadi amal saat kita ikhlas melakukannya. Berhenti untuk menuhankan manusia. Jangan berpegang teguh pada manusia. Tetapi gantungkan semua mimpi itu kepada Allah. Karena Allah sebaik-baik pemberi.
Langsa, 11 April 2019

Komentar
Posting Komentar