Gagal Jadi Petugas

Hari yang di tunggu akhirnya datang juga. Pada hari Senin, 4 Maret 2019 pasukan XI Ak akan menunjukkan kepiawannya menjadi petugas upacara bendera. Persiapan demi persiapan pun di lakukan untuk menampilkan performa terbaik mereka. Mulai dari pemilihan siswa dengan bakat terbaik sampai latihan upacara di tengah panas matahari tepat pada jam pelajaran terakhir. Semua itu mereka lakukan agar dapat menampilkan upacara bendera terbaik.

Pada persiapan upacara bendera kali ini mereka menunjukkan antusias yang tidak biasa di bandingkan upacara-upacara sebelumnya. Karena kali ini adalah upacara pertama mereka saat menjadi siswa kelas dua. Terakhir kali mereka pernah mendapat tugas menjadi petugas upacara di semester satu lalu. Tetapi tidak jadi tampil karena pelaksanaan upacara yang bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan RI. Meski sudah melakukan persiapan dengan matang tetapi akhirnya mereka tidak jadi tampil. Saat itu terlihat jelas rona kekecewaan di wajah personil XI Ak. Karena sudah lebih dari tiga kali mereka latihan di tengah terik matahari. Tetapi kali ini mereka harus tetap jadi tampil sebagai petugas upacara.

Selain itu mereka terlihat antusias sekali karena senin ini  adalah minggu terakhir mereka secara aktif belajar di sekolah sebab minggu depan mereka sudah melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di masing-masing instansi yang di tunjuk sekolah. Jadi di minggu terakhir ini mereka ingin menunjukkan penampilan terbaik di depan kakak dan adik kelas mereka. Mereka ingin membuktikan bahwa kelas XI Ak juga bisa dan tampil dengan bagus sebagai petugas upacara.

Akan tetapi semua itu sirna seketika. Seluruh usaha keras dan latihan mereka terasa sia-sia. Siang itu Ibu Pembina Osis masuk ke kelas XI Ak. Dia menyampaikan informasi bahwa senin tepat pada tanggal 4 Maret 2019 akan ada tamu dari Polres yang akan menjadi Pembina upacara. Dia menanyakan kesiapan personil XI Ak untuk tampil maksimal di hari tersebut. Karena jika memang tidak siap petugas upacaranya akan di gantikan oleh personil Pramuka. Tetapi salah seorang dari personil XI Ak yang kurang percaya diri akan kemampuannya menjawab tidak siap sehingga membuat Ibu Pembina Osis ragu akan kesiapan mereka. Karena tingkahnya, seluruh personil XI Ak merasa tidak puas. Karena sebenarnya seluruh petugas yang ditunjuk sudah siap tampil maksimal. Akhirnya ibu Pembina Osis  memutuskan bahwa yang menjadi petugas adalah personil Pramuka. Kesempatan emas yang hanya tinggal satu kali lagi terlepas dalam genggaman para personil XI Ak disebabkan  kecerobohan seorang siswa yang kurang percaya diri.

Hari senin tanggal 4 Maret 2019 tiba juga. Personil XI Ak berdiri rapi di barisan peserta upacara. Mereka harus menelan kepahitan karena tidak jadi memberi persembahan terakhir di upacara kali ini. Kuperhatikan dari kejauhan wajah mereka lesu dan kurang bersemangat, ada rasa penyesalan yang tidak tersampaikan. Yang membuat mereka semakin tidak puas hati adalah ternyata penampilan personil Pramuka juga tidak maksimal. Ada beberapa kesalahan yang terjadi seperti selempang penggerek bendera yang lepas, Pembacaan UUD yang terbata-bata, MC yang terlihat gemetar suaranya, dan beberapa kesalahan lainnya.

Setelah upacara selesai, sebagian dari mereka datang menyerbuku seolah ingin mencurahkan semua perasaannya. Sebagian ada yang berkata tidak puas hati karena ternyata penampilan mereka saat latihan lebih baik dibandingkan penampilan personil Pramuka. Sebagian lagi mengeluarkan kata-kata penyesalan bahwa mereka sudah capek-capek latihan tapi tidak jadi tampil. Sebagian lagi ada yang kecewa karena selama kelas XI tidak berkesempatan menjadi petugas upacara. Tapi sebagian lagi juga ada yang tertawa riang karena terbebas dari tugas menjadi petugas upacara yang melelahkan bagi mereka.

Namun demikian ada pelajaran yang mereka ambil. Bahwa sebenarnya menjadi pribadi yang percaya akan kemampuan diri sendiri sangatlah penting. Bahkan sesuatu yang tidak mampu di lakukan bisa terjadi jika yakin mampu dan mau berusaha. Tetapi apapun yang terjadi, sebagai wali kelas mereka, saya sangat menikmati momen kebersamaan dengan mereka. Meski harus berulang-ulang latihan upacara di tengah terik matahari canda tawa tak pernah hilang. Meski kulit harus gosong terbakar panas matahari mereka tetap riang. Kebersamaan dan kekompakan yang selalu dirindukan. Dan saat ini sangat susah berjumpa dengan mereka yang sudah praktek kerja di tempat yang berbeda. Jelas saja momen seperti itu tidak akan terulang kembali. Rindu bersama mereka.
Langsa, 13 April 2019

Nurul Fajriah Nasution, S.Pd 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mencintai dari Seekor Cicak

Di Balik Asa Yang Tak Terbiasa (II)

Inilah Expressi Cintaku,,,