Motivasi Terbesar
Ada
secarik kisah yang terukir malam ini. Di tengah kesunyian malam hanya terdengar
hiruk pikuk suara kendaraan di luar sana. Aku masih di sini di dalam kamar
mungil ku ini. Kamar yang sekaligus kantorku, sekaligus tempat makanku, dan
juga gudang penyimpanan segala macam kepunyaanku. Sebuah markas tempat
munculnya ide, air mata, mimpi dan rindu.
Sering
kali aku berbuat sesuatu dengan barometer penilaian orang lain. Bukan sekali
aku menjadi orang lain agar bisa di nilai sempurna di mata orang. Seperti kata
Aa Gym aku telah menuhankan manusia dan
dunia. Astghfirullah. Dengan seribu topeng ini orang juga pada akhirnya paham
bagaimana karakter asli diriku ini. Busuk, Sebuah kata yang pantas di labeli
pada diriku.
Dahulu
niat suci itu sempat muncul dan menjadi tagline ku. Aku ingin menebar manfaat
walaupun keringatku tak di gaji sekalipun. Tapi lama kelamaan karena sebuah
pujian dan kepentingan cari muka dan lain sebagainya. Seolah kata dan niat suci
itu ku kotori dan perlahan-lahan hilang di telan waktu. Tanpa kusadari aku
melakukan sesuatu karena ingin apresiasi dari yang lain, karena ingin dianggap
terbaik, karena ingin dianggap hebat dan ingin diakui keberadaannya. Wahai diri
begitu hinanya tingkah ku ini. Rela menggadaikan niat yang begitu mulia demi
sebuah penilaian manusia yang hanya sementara.
Benar
sekali nasehat lama orang tua itu. Sering-seringlah perbarui dan meluruskan
niat. Karena setan sering sekali mengambil kesempatan dan membelokkan kelurusan
niat kita. Sering kali pada awalnya kita telah ikhlas dan lurus niatnya. Tetapi
tidak jarang pada pertengahan ataupun di akhir perjalanan sebuah amal setan
menggoda. Tiba-tiba sifat riya, ujub dan mengharapkan imbalan muncul. Sehingga
niat yang lurus dan ikhlas di pertanyakan keberadaannya. Karena ikhlas tidak
bisa di nilai hanya di awal, tetapi di pertengahan sampzi di akhir proses pun
wajib di sempurnakan.
Dahulu
aku pernah bercerita dengan temanku tanpa sadar. Kukatakan padanya bahwa suatu
saat nanti aku ingin menjadi guru sekaligus pengusaha busana muslim. Kutambahkan
lagi padanya bahwa aku ingin semua gaji ku dari mengajar akan aku sedekahkan
kepada orang yang kurang mampu dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari aku
akan menggunakan hasil dari usahaku sendiri. Menurut pemikiran sederhanaku
penghasilan dari mengajar adalah sebuah rejeki yang suci dari niat yang tulus
dan akan lebih baik di gunakan untuk beramal. Selain itu alasanku membuat
statemen seperti itu adalah sebagai cambuk bagiku untuk sadar bahwa profesi
mengajar adalah profesi mulia yang tidak layak di gunakan sebagai ajang
memperkaya diri apalagi sampai menggunakan cara curang ataupun tidak jujur.
Dengan menjadi pengusaha aku menginginkan profesi guru yang ku jalani
benar-benar sebagai ladang pahalaku sehingga aku menjalankannya dengan penuh
keikhlasan tanpa mengharapkan imbalan. Semoga suatu saat nanti Allah
mengabulkan cita-citaku untuk menjadi seorang guru sekaligus pengusaha busana
muslim seperti yang ku inginkan.
Ada
dua orang yang menginsprirasiku sehingga statement di atas bisa lahir di kepalaku.
Seorang diantaranya adalah Dosen mata kuliah ISBD saat aku kuliah dulu. Saat di
kelas beliau sering sekali mengulang-ulang kalimat "Kalau mau jadi Jutawan
kaya raya jangan jadi guru, Tapi kalau mau jadi manusia mulia jadilah guru yang
Ikhlas". Dia mengisahkan dirinya yang juga memiliki usaha Panglong diluar
tugasnya sebagai dosen kopertis kampus.
Selain itu ada seorang wanita perkasa
yang juga kukagumi. Beliau adalah Buk Mastuti. Seorang guru sekaligus kepala
pustaka di sebuah sekolah negeri di Kota Cane. Aku mengenalnya dikarenakan
beliau adalah seorang Agen/distributor di tempat aku bekerja. Beliau tinggal di
sebuah ruko yang digunakannya untuk membuka usaha. Ruko lantai satunya
digunakan untuk berniaga perlengkapan muslim. Dan dia tinggal bersama
keluarganya di lantai dua. Dia dan suaminya adalah guru PNS yang ditugaskan di
sekolah menengah pertama Kota Cane. Kehidupan mereka sangat mencukupi. Buk
Mastuti memiliki tiga orang anak yang keseluruhannya adalah laki-laki dan masih
berusia balita. Jika bertemu aku sering sekali memuji sambil bergurau tentang
harta yang dimilikinya. Sampai pada suatu pertemuan beliau menceritakan kisah
hidupnya sehari-hari. Dia berkata bahwa sebenarnya hidupnya tidak seindah apa
yang dilihat orang. Semua yang didapatnya adalah buah kerja kerasnya setiap
hari mulai dari terbuka mata sampai tertutup kembali. Setiap harinya ia harus
mengondisikan ketiga anak balitanya sebelum pergi mengajar. Selain itu ia juga
harus mengatur karyawannya di toko akar teratur, belum lagi tugas guru
sekaligus kepala pustaka yang tidak bertitik. Saat ku tanya menapa masih betah
terus menjalani semua kesibukan ini bertahun-tahun. Dengan tanangnya ia katakan
bahwa mengasuh keluarga, mengajar dan berdagang semuanya adalah perbuatan yang
mulia dan tidak semua orang di beri kesempatan ini oleh Allah. Jadi saat ia di
berikan kesempatan tersebut ia harusnya berbahagia dan bersemangat karena Allah
sedang menyediakan banyak pintu mengais pahala dan bekal kehidupan akhirat.
Mengasuh keluarga adalah surga bagi seorang istri ataupun ibu. Mengajarkan ilmu
adalah amal jariyah yang pahalanya akan mengalir sampai liang kubur. Dan
berdagang adalah satu pintu dari tujuh pintu menuju surga.
Merekalah
dua manusia hebat yang menjadi inspirasiku. Dari mereka aku belajar bahwa
profesi guru bukanlah sebuah profesi yang bisa di bayar dengan bilangan rupiah.
Karena di balik itu semua ada pahala mulia yang lebih tinggi nilainya di
bandingkan itu semua. Semoga aku bisa menjadi guru yang berakhlak mulia, ikhlas
dan terus menebar inspirasi.
Langsa,
21 April 2019
Nurul Fajriah Nasution, S.Pd

Komentar
Posting Komentar